KESEHATAN
20 November 2019

Buta Warna: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

Ternyata, buta warna lebih banyak dialami oleh pria
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Buta warna terjadi ketika seseorang tidak dapat melihat warna secara normal. Kondisi ini juga dikenal sebagai kekurangan warna.

Buta warna sering terjadi ketika seseorang tidak dapat membedakan antara warna-warna tertentu. Ini biasanya terjadi antara hijau dan merah, dan terkadang biru.

Dikutip dari American Academy of Ophthalmology, di retina, ada dua jenis sel yang mendeteksi cahaya. Mereka disebut batang dan kerucut. Batang

hanya mendeteksi cahaya dan gelap dan sangat sensitif terhadap tingkat cahaya rendah. Sel kerucut mendeteksi warna dan terkonsentrasi di dekat pusat penglihatan kita.

Ada tiga jenis kerucut yang melihat warna: merah, hijau dan biru. Otak menggunakan input dari sel kerucut ini untuk menentukan persepsi warna kita.

Baca Juga: 5 Fakta Buta Warna yang Masih Jarang Diketahui

Buta warna dapat terjadi ketika satu atau lebih sel kerucut warna tidak ada, tidak berfungsi, atau mendeteksi warna yang berbeda dari biasanya. Buta warna yang parah terjadi ketika ketiga sel kerucut tidak ada.

Buta warna ringan terjadi ketika ketiga sel kerucut ada tetapi satu sel kerucut tidak berfungsi dengan baik. Ini mendeteksi warna yang berbeda dari biasanya.

Dilansir dari colourblindawareness.org, buta warna mempengaruhi sekitar 1 dari 12 pria dan 1 dari 200 perempuan di dunia. Di Inggris ada sekitar 3 juta orang buta warna atau sekitar 4,5 persen populasi dan didominasi oleh pria.

Sedangkan di dunia, ada sekitar 300 juta orang dengan buta warna, jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah penduduk Amerika Serikat.

Meski istilah buta warna sudah cukup familiar, berikut penyebab buta warna, gejala, dan cara mengatasinya.

Penyebab Buta Warna

buta warna

Foto: drakecooper.com

Buta warna biasanya merupakan kondisi genetik. Contohnya, kebutaan warna merah hijau atau biru kuning biasanya diturunkan dari orang tua.

Gen yang bertanggung jawab atas kondisi ini dibawa oleh kromosom X, hal itulah yang menjadi alasan mengapa lebih banyak pria mengalami buta warna daripada perempuan.

Menurut Jessica Lattman, MD, dokter mata yang berbasis di New York City, beberapa gen diperlukan untuk membuat molekul pendeteksi warna atau fotopigmen. Abnormalitas pada gen-gen tersebut dapat menyebabkan kesulitan melihat warna merah dan hijau, atau biru dan kuning.

Bahkan, pada kasus yang jarang terjadi, bisa mengakibatkan ketidakmampuan untuk melihat warna apa pun. "Kebutaan warna biasanya diwariskan," ujarnya.

Selain genetik, pada beberapa orang buta warna merupakan dampak dari penyakit yang sudah berlangsung lama seperti diabetes, multiple sclerosis, beberapa penyakit hati, dan hampir semua penyakit mata.

Baca Juga: Ini Website yang Menyediakan Tes Buta Warna Online

Gejala Buta Warna

buta warna

Foto: optometry.com.hk

Gejala yang dialami penderita buta warna adalah kesulitan membedakan warna dan ketidakmampuan untuk melihat warna yang senada. Sebagian besar orang buta warna dapat melihat sesuatu sejelas orang lain tetapi mereka tidak dapat 'melihat' warna merah, hijau, atau biru.

Jenis paling umum dari buta warna dikenal sebagai 'buta warna merah atau hijau'. Seseorang dengan kebutaan warna merah atau hijau mungkin akan merasa bingung membedakan biru dan ungu karena mereka tidak dapat 'melihat' elemen merah dari warna ungu.

Masalah serupa dapat muncul di seluruh spektrum warna yang memengaruhi semua warna merah, hijau, cokelat, ungu, merah muda, dan abu-abu. Bahkan, hitam dapat dilihat sebagai hijau tua atau biru tua.

Efek dari kekurangan penglihatan warna bisa ringan, sedang atau berat. Secara statistik, sebagain besar orang dengan mengalami buta warna merah atau hijau hanya dapat mengidentifikasi lima atau lebih warna pada kotak standar 24 warna pada pensil krayon.

Treatment Buta Warna

buta warna

Foto: allaboutvision.com

Saat ini, tidak ada perawatan untuk mengatasi buta warna yang disebabkan oleh faktor genetik. Namun, lensa kontak dan kacamata khusus dengan filter warna dapat membantu meningkatkan warna-warna yang ‘tidak terlihat’ tersebut.

Sedangkan defisiensi penglihatan yang disebabkan oleh penyakit tertentu, setelah diketahui penyebabnya dan diobati, ada kemungkinan penglihatan dapat kembali normal.

"Pada beberapa orang memakai kacamata berwarna membantu mereka mendeteksi warna dengan lebih baik," kata Dr. Lattman.

Baca Juga: Membantu Visual, Ini Cara Kerja Kacamata Buta Warna

Umumnya orang yang mengalami buta warna tidak menyadarinya. Hal tersebut dikarenakan ‘menganggap’ warna yang dilihat adalah warna yang sebenarnya.

Maka, pada buta warna yang disebabkan keturunan genetik, sebaiknya Moms lebih aware ketika anak mengalami kesulitan dalam pelajaran yang berkaitan dengan spektrum warna agar dapat dilakukan deteksi dini buta warna.

(SWN)

Artikel Terkait