2-3 TAHUN
7 Oktober 2020

Cara Membaca Tabel Tinggi Badan Anak Menurut Usia 2-5 Tahun

Apakah Si Kecil masuk kategori pendek, normal, atau tinggi?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Amelia Puteri

Selain menimbang berat badan Si Kecil secara rutin, Moms juga perlu mengukur tinggi badannya. Apakah tinggi badan ideal balita 2-5 tahun sudah tercapai?

Untuk menentukan tinggi badan ideal balita 2-5 tahun, digunakan tabel tinggi badan anak (TB) menurut usia (U) atau indeks TB/U yang mengacu pada WHO Child Growth Standards.

Indeks tinggi badan (TB) digunakan pada anak berusia di atas 24 bulan yang diukur dengan posisi berdiri, sedangkan indeks panjang badan (PB) untuk anak umur 0-24 bulan dengan posisi terlentang.

Namun karena kali ini kita hanya membahas tinggi badan ideal balita 2-5 tahun, kita menggunakan indeks TB saja, ya, Moms. Yuk, ketahui seperti apa cara membacanya berikut ini.

Baca Juga: Anak yang Lahir dengan IVF Akan Memiliki Badan Lebih Tinggi

Keterangan pada Tabel Tinggi Badan Anak Menurut Usia

pengukuran tinggi badan anak

Foto: Orami Photo Stock

Pada tabel tinggi badan anak menurut usia berdasarkan WHO, Moms akan melihat banyak nilai skor. Ketahui terlebih dahulu keterangan dari indeks TB/U yang dipakai untuk menentukan kategori dari nilai skor pada tabelnya berikut:

  • Sangat pendek (severely stunted): < -3 SD
  • Pendek (stunted): -3 SD sampai dengan < -2 SD
  • Normal: -2 SD sampai dengan +3 SD
  • Tinggi: > +3 SD

Sebagai informasi, SD merupakan standar deviasi, atau simpangan baku.

Pertambahan tinggi badan harus diukur secara berkala, sehingga jika ada perlambatan pertumbuhan bisa segera diidentifikasi sebelum terjadi stunting atau risiko perawakan pendek.

Berikut tabel tinggi badan ideal balita 2-5 tahun yang sudah disederhanakan agar lebih mudah dipahami. Jangan lupa bedakan tabel anak laki-laki dan perempuan karena memiliki nilai skor yang berbeda.

Baca Juga: Ini 5 Aktivitas yang Dapat Membantu Mengoptimalkan Tinggi Badan Anak

Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki 24-60 Bulan

tinggi badan ideal balita 2-5 tahun: tb-u laki2.jpg

Foto: Organisasi Kesehatan Dunia

Seperti yang tampak pada foto, Moms akan melihat usia (menurut bulan) ukuran tinggi badan anak dengan pengukuran berdasarkan cm (sentimeter).

Sebagai contohnya, misalnya Si Kecil menginjak usia 34 bulan atau 2 tahun 10 bulan, dengan tinggi badan 92,5 cm. Ini menandakan berat badannya berada di antara kategori -1 SD hingga Median.

Sehingga, bila disimpulkan ini menandakan bahwa Si Kecil memiliki tinggi badan yang normal.

Baca Juga: ASI Eksklusif Dapat Cegah Stunting, Benarkah?

Standar Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak Perempuan 24-60 Bulan

tinggi badan ideal balita 2-5 tahun: tb-u perempuan.jpg

Foto: Organisasi Kesehatan Dunia

Pengukuran tabel tinggi badan anak perempuan menurut usia secara prinsipnya juga sama dengan anak laki-laki. Tetapi angka tinggi badannya sedikit berbeda dibanding tinggi badan laki-laki.

Si Kecil masuk kategori normal (-2 SD sampai dengan +3 SD)? Berarti aman, Moms. Namun, pengukuran ini harus dilakukan secara berkala, apakah pemetaan skornya naik mengikuti garis pertumbuhan atau tidak. Jika tidak, Moms perlu berkonsultasi ke dokter untuk mengecek status gizinya.

Anak dengan kriteria sangat pendek, pendek, dan tinggi (<-2 SD atau >+3 SD) harus dikonfirmasi status gizinya berdasarkan indeks BB/U (berat badan berdasarkan umur), BB/TB (berat badan berdasarkan tinggi badan), dan IMT/U (indeks massa tubuh berdasarkan umur) oleh petugas kesehatan yang kompeten.

Seluruh indeks antropometri harus dicek agar masalah sesungguhnya dapat diketahui dan bisa segera ditindaklanjuti.

Baca Juga: Bayi Lebih Pendek dari Temannya, Benarkah Pertanda Stunting?

Bila Anak Masuk Kategori Pendek

anak stunting-1

Foto: Orami Photo Stock

Balita dengan TB/U <-2 SD adalah anak dengan perawakan pendek (short stature). Ia wajib ditindaklanjuti dengan tatalaksana stunting dan dirujuk.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyebab perawakan pendek di antaranya:

1. Faktor Lingkungan

Status gizi ibu saat hamil, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh pada rendahnya skor pengukuran tabel tinggi badan anak menurut usia.

Faktor lingkungan masih dapat diintervensi untuk mencegah perawakan pendek. Sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh gizi kurang dalam waktu lama atau sering sakit.

2. Faktor Genetik dan Hormonal

Sementara, ada juga faktor genetik dan hormonal yang memengaruhi perawakan anak yang pendek.

Dalam jurnal Paediatrics and International Child Health, stunting dimulai dalam rahim dan berlanjut setidaknya selama 2 tahun pertama kehidupan pascanatal.

Dengan kata lain, periode dari pembuahan hingga ulang tahun kedua anak atau seribu hari pertama anak, telah diidentifikasi sebagai jendela peluang paling kritis untuk pencegahan anak yang pendek.

Baca Juga: Salah Kaprah Menu Tunggal MPASI, Cegah Stunting pada Anak dengan Nutrisi Ini

Bila Anak Masuk Kategori Tinggi

tinggi badan anak

Foto: Orami Photo Stock

Anak yang masuk kategori tinggi (>+3 SD) biasanya tidak menjadi masalah, tapi perlu dirujuk ke dokter spesialis anak jika sangat tinggi menurut umurnya sedangkan tinggi orang tuanya normal.

Dikhawatirkan ia mengalami gangguan endokrin seperti tumor yang memproduksi hormon pertumbuhan. Namun, kasus ini jarang terjadi di Indonesia.

Mencegah Perawakan Pendek pada Anak

tinggi badan ideal balita 2-5 tahun: Mencegah Perawakan Pendek pada Anak.jpg

Foto: pexels.com

Periode 1000 hari pertama kehidupan (awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun) merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek.

Karena itu, tindakan antisipasi sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan. Berikut cara mencegah perawakan pendek pada Si Kecil:

1. Saat Hamil

  • Memeriksakan kehamilan secara teratur
  • Menghindari asap rokok
  • Memenuhi kebutuhan gizi selama hamil, misalnya dengan menu sehat seimbang serta cukup asupan zat besi, asam folat, dan yodium

2. Setelah Melahirkan

  • Memantau pertumbuhan dan perkembangan anak lewat kunjungan ke pusat pelayanan kesehatan dengan jadwal sebagai berikut:
    • Setiap bulan untuk anak 0-12 bulan
    • Setiap tiga bulan untuk anak 1-3 tahun
    • Setiap enam bulan untuk anak 3-6 tahun
    • Setiap tahun ketika anak 6-18 tahun
  • Memberikan ASI eksklusif sampai Si Kecil berusia enam bulan, diteruskan dengan pemberian MPASI yang memadai
  • Mengikuti program imunisasi, terutama imunisasi dasar

Bagaimana, Moms, apakah pertumbuhan tinggi badan Si kecil sudah sesuai dengan tabel tinggi badan anak menurut usia 2-5 tahun?

Artikel Terkait