2-3 TAHUN
6 Desember 2017

Cara Mempelajari dan Melatih Emosi Batita Agar Tidak Jadi Pemarah

Kenali emosinya untuk membangun komunikasi yang lebih efektif
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (ade.ryani)
Disunting oleh (ade.ryani)

Memasuki usia 2 atau 3 tahun, perkembangan emosi pada anak batita berlangsung semakin pesat. Batita akan mulai menyadari kalau ia adalah individu tunggal yang terpisah dari ibu, nenek, atau pengasuhnya. Jadi tak heran kalau Moms mulai sering mendengar kata “tidak mau” atau “aku bisa sendiri” dibandingkan sebelumnya.

Di masa ini, batita akan mengalami berbagai emosi seperti rasa bangga, malu, atau rasa bersalah untuk pertama kalinya. Bukan hanya Moms yang bingung, batita juga jadi sering mengalami mood swing karena tak mengerti apa yang dirasakannya.

Untuk mendukung dan mempelajari perkembangan emosi pada balita, Moms bisa melakukan hal berikut:

1. Berbicara Mengenai Emosi dan Perasaan

pelajari emosi batita mama untuk mendukung perkembangannya 1

Foto: joannasnannies.com

Saat sedang santai bersama, bacakan cerita dalam buku sambil menekankan perasaan tokoh di dalamnya, seperti: Bayi beruang merasa bahagia karena bertemu dengan ibunya. Lalu ungkapkan juga perasaan Moms, misalnya: “Wah, Mama kaget melihat gigi beruang yang besar” atau “Mama senang sekali membaca buku bersama adik.

Saat batita mulai mengenali emosi dan perasaannya sendiri, ia akan belajar untuk mengendalikan serta menyampaikannya pada orang lain. Moms kemudian bisa memberikan saran untuk menyelesaikan masalah atau membuat batita merasa lebih baik.

Baca Juga: Sudah Besar Tapi Masih Cengeng, Bagaimana Mengatasinya?

2. Beri Arahan Untuk Mengatasi Emosi

pelajari emosi batita mama untuk mendukung perkembangannya 2

Foto: huffingtonpost.com

Saat merasakan emosi batita yang kuat seperti rasa marah, frustasi, atau sedih, buah hati sangat memerlukan arahan Moms untuk mengatasinya. Hal pertama yang bisa Moms lakukan adalah memvalidasi emosi dan perasaannya, seperti: “Sekarang kamu merasa marah karena Mama larang makan permen.”

Setelah itu Moms bisa memintanya untuk berloncat, bersembunyi di dalam selimut, menyobek kertas, mencorat coret buku, atau melakukan aktivitas lain yang masih dalam batas kewajaran. Yang terpenting disini adalah mengajarkan cara meluapkan emosi batita secara sehat dan tidak berbahaya.

Baca Juga: Cara Melatih Kesabaran Anak

3. Berempati

pelajari emosi batita mama untuk mendukung perkembangannya 3

Foto: nmbreakthroughs.org

Jangan remehkan kekuatan empati untuk menguatkan perkembangan emosi pada balita ya, Moms. Dengan menunjukkan bahwa Moms mengerti alasan dibalik rasa kecewa atau sedihnya, balita akan merasa lebih tenang untuk mengungkapkan emosinya.

Seiring waktu, balita juga akan belajar mengungkapkan alasan dibalik rasa marah, kesal, atau sedih yang sedang dirasakannya. Kalau sudah begini, tentu Moms juga jadi lebih mengerti emosi batita, kan?

4. Waspadai Perkembangan Emosi Tidak Normal

pelajari emosi batita mama untuk mendukung perkembangannya 4

Foto: romper.com

Perkembangan emosi pada balita yang begitu pesat di usia 2 dan 3 tahun, membuat seorang anak lebih aktif bertanya, selalu ingin tahu, bisa bermain sendiri, serta merasakan berbagai jenis emosi yang kuat.

Bila buah hati menunjukkan tanda perkembangan emosi pada balita yang tidak normal, seperti:

  • Menunjukkan agresi berlebihan
  • Marah bila rutinitasnya berubah atau terganggu
  • Terlalu pasif dan tak mau mencoba hal baru
  • Tidak tertarik untuk berinteraksi dengan anak lain
  • Sangat sulit bersabar

Segera hubungi psikolog untuk dicarikan akar masalah serta solusinya.

Dengan mempelajari emosi batita serta mengajarinya cara mengekspresikan emosi dan perasaan dengan benar, komunikasi antara Moms dan buah hati dijamin bisa berlangsung lebih lancar dan efektif.

Apa Moms sudah pernah mengajarkan tentang emosi dan perasaan pada balita di rumah?

(WA)

Artikel Terkait