DI ATAS 5 TAHUN
28 Juli 2020

Serba-serbi GERD pada Anak, Cari Tahu Yuk Moms!

Tidak hanya pada orang dewasa, GERD juga bisa menyerang anak-anak.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkah Moms mendengar tentang GERD pada anak? Refluks Gasroesofageal Disease (GERD) adalah penyakit asam lambung yang disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah.

“GERD ini berbeda dengan GER yang Moms. Kalau GERD menandakan adanya komplikasi,” jelas dr. Frieda Handayani, Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastohepatologi RS Pondok Indah Bintaro Jaya.

GERD ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Namun GERD juga bisa terjadi pada pada anak dan bayi.

GERD umumnya terjadi pada balita usia 2-3 tahun atau lebih. Anak-anak dengan masalah perkembangan atau neurologis seperti cerebral palsy lebih berisiko mengalami GERD dengan gejala yang lebih berat dan lama.

Penyakit asam lambung atau GERD terjadi akibat asam lambung yang meluap ke kerongkongan. Menurut Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam dan gastroenterologist mengatakan, penyakit ini biasanya ditandai dengan keluhan nyeri di bagian dada.

Baca Juga: 5 Makanan Untuk Redakan Gejala Asam Lambung Pada Anak

“Pasien GERD merasakan nyeri dan panas di dada seperti terbakar (heartburn). Rasa nyeri ini juga diikuti dengan mulut pahit karena ada asam yang naik (regurgitasi),” paparnya saat ditemui pada peluncuran aplikasi GERDQ.

Meskipun GERD lebih sering ditemui pada orang dewasa, namun penyakit ini juga bisa menyerang anak-anak. Penyebabnya pun mirip dengan orang dewasa, yakni obesitas, terlalu sering mengonsumsi makanan manis, pedas, dan goreng-gorengan, dan makan berlebihan (overeating).

“Kalau anak sering makan cokelat atau keju, bisa saja terkena GERD. Atau dibiarkan gemuk oleh orang tuanya, ini juga berisiko. Dampaknya memang baru terasa dalam waktu yang cukup panjang. Namun, jika tidak dicegah berakibat buruk di masa depan,” jelas Dr. Ari.

Nah, apa saja gejala GERD yang bisa terlihat pada anak-anak? Yuk kita cari tahu Moms.

Baca juga: 1 dari 4 Anak di Indonesia Kurang Minum, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Gejala GERD pada Anak

gejala gerd pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa gejala yang menunjukkan bahwa Si Kecil menderita GERD. Yuk, disimak Moms.

  • Menolak makan atau makan hanya sedikit
  • Mudah rewel, gelisah, dan menangis kencang setelah makan. Sebab, Si Kecil belum bisa mengekspresikan hal yang mengganggunya
  • Sering muntah dan muntahnya kuat, terutama setelah makan
  • Heartburn yang bisa berlangsung sampai dua jam dan cenderung memburuk setiap habis makan. Ini merupakan gejala GERD pada anak dan remaja yang paling umum
  • Perut anak mengalami kembung dan jika Moms raba, akan terasa keras
  • Anak akan menunjukkan gejala respiratorik, yaitu mengi dan batuk
  • Berat badan anak tetap dan tidak naik

“Beberapa gejala di atas bisa memburuk jika anak berbaring atau didudukkan setelah makan,” terang dr. Frieda.

Seiring bertambahnya usia Si Kecil, gejala GERD makin mirip dengan gejala pada orang dewasa. Menurut Canadian Society of Intestinal Research, GERD pada anak juga bisa dikaitkan dengan batuk kronis, napas berbau busuk, sinusitis, suara serak, dan pneumonia.

Baca Juga: 5 Makanan Paling Baik Saat Gejala Asam Lambung Anak Menyerang

Penyebab GERD pada Anak

penyebab GERD pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Dikutip dari Johns Hopkins Medicine, GERD sering disebabkan oleh sesuatu yang mempengaruhi LES, sfingter esofagus bagian bawah. LES adalah otot di bagian bawah pipa makanan (kerongkongan).

LES terbuka untuk membiarkan makanan masuk ke perut. Tutup untuk menyimpan makanan di perut. Ketika LES terlalu sering rileks atau terlalu lama, asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Ini menyebabkan muntah atau mulas.

Setiap orang mengalami refluks dari waktu ke waktu. Jika pernah bersendawa dan memiliki rasa asam di mulut, itu artinya sedang mengalami refluks. Kadang-kadang LES bersantai di saat yang salah. Seringkali Si Kecil hanya akan memiliki rasa tidak enak di mulutnya. Atau is mungkin merasakan GERD yang pendek dan ringan.

Bayi lebih cenderung memiliki LES yang lemah. Ini membuat LES rileks ketika harus tetap tertutup. Saat makanan atau susu dicerna, LES terbuka. Ini memungkinkan isi lambung naik kembali ke kerongkongan.

Terkadang isi lambung naik sampai ke kerongkongan. Kemudian bayi atau anak itu muntah. Dalam kasus lain, isi lambung hanya naik sebagian dari naik esofagus. Ini menyebabkan GERD atau masalah pernapasan. Dalam beberapa kasus tidak ada gejala sama sekali.

Beberapa makanan tampaknya memengaruhi pergerakan otot LES. Mereka membiarkan LES tetap terbuka lebih lama dari biasanya. Makanan-makanan ini termasuk:

  • Cokelat
  • Permen
  • Makanan tinggi lemak

Makanan lain menyebabkan perut membuat lebih banyak asam. Makanan-makanan ini termasuk:

  • Jeruk
  • Saus tomat dan tomat

Hal-hal lain yang dapat menyebabkan GERD termasuk:

  • Gemuk
  • Obat-obatan, termasuk beberapa antihistamin, antidepresan, dan obat sakit
  • Berada di sekitar asap rokok

Baca Juga: Ini Penyebab Anak Terkena Sakit Maag

Dampak GERD pada Anak

dampak gerd pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Beberapa anak mengalami komplikasi dari GERD. Refluks asam yang terjadi terus menerus dapat menyebabkan:

  • Gangguan pernapasan (apabila isi perut masuk ke dalam trakea, paru-paru atau hidung).
  • Iritasi di kerongkongan, biasa disebut esophagitis.
  • Pendarahan di kerongkongan.
  • Adanya luka di kerongkongan yang membuat anak sulit menelan makanan.
  • Karena komplikasi ini menyulitkan anak dalam mengonsumsi makanan, maka ada kemungkinan GERD mempengaruhi gizi mereka. Jika berat badan anak menurun, segera konsultasikan dengan dokter.

Komplikasi GERD yang Akan Dialami Anak

komplikasi GERD pada Anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa komplikasi GERD yang mungkin bisa terjadi pada Si Kecil.

1. Esofagitis

Atau dikenal juga dengan radang atau iritasi kerongkongan. Esofagitis ini disebabkan refluks yang terjadi akibat gangguan pada katup bagian bawah kerongkongan yang berfungsi menahan isi dari lambung agar tidak naik menuju kerongkongan.

Kondisi esofagitis refluks yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kesulitan naiknya berat badan pada anak dan juga kesulitan bernapas.

2. Radang Paru Berulang

Salah satu kemungkinannya adalah karena aliran asam lambung yang berulang ke kerongkongan merusak lapisan tenggorokan dan saluran udara ke paru-paru.

Menurut dr. Frieda, ini bisa membuat sulit bernapas dan batuk yang berkepanjangan. Seringnya paparan asam juga membuat paru-paru lebih sensitif terhadap iritasi, seperti debu atau serbuk sari yang semuanya menjadi pemicu asma.

3. Striktur (Penyempitan) Esofagus

Striktur esofagus adalah penyempitan saluran esofagus, disebut juga kerongkongan. Peradangan atau kerusakan pada esofagus bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang lantas menyebabkan sempitnya kerongkongan.

Moms harus membawa anak ke dokter segera jika mengalami gejala striktur esofagus. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan anak ya Moms.

Baca Juga: 4 Manfaat Minum Air Putih untuk Kesehatan Anak

Menangani GERD pada Anak

Menangani GERD pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Pengobatan GERD pada anak tergantung pada seberapa parah gejalanya. Untuk anak-anak, biasanya dilakukan dengan menghindari makanan dan minuman yang memicu gejala GERD, seperti:

  • Buah-buahan yang asam
  • Cokelat
  • Makanan dan minuman yang mengandung kafein
  • Makanan berminyak dan goreng-gorengan
  • Bawang bombay dan bawang putih
  • Makanan pedas
  • Makanan berbahan dasar tomat
  • Daun mint
  • Pada anak remaja, alkohol dan rokok juga menjadi penyebab utama GERD

Baca Juga: Sedang Musim Sakit, Ini Cara Mengobati Flu pada Anak

Saat anak menderita GERD, dokter menyarankan untuk mengangkat kepala anak 15-20 cm untuk mengurangi refluks yang biasanya terjadi pada malam hari.

Jika ini tidak membantu, dokter akan memberikan resep obat seperti H2 blockers, yang membantu mengurangi produksi asam lambung. Obat seperti prokinetik juga kadang-kadang digunakan untuk mengurangi jumlah episode refluks.

Pada beberapa kasus, ketika obat-obatan tidak cukup, dan anak menunjukkan komplikasi, prosedur pembedahan yang disebut fundoplikasi bisa menjadi pilihan.

Artikel Terkait