BALITA DAN ANAK
19 September 2020

Diare pada Anak, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Ketahui penyebab diare pada anak untuk penanganan yang tepat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Diare adalah masalah yang sangat umum terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Di negara berkembang, beberapa episode diare pada anak dapat menyebabkan masalah serius seperti malnutrisi (gizi buruk).

Diare didefinisikan sebagai peningkatan jumlah tinja atau adanya tinja yang lebih encer dari biasanya pada individu, yaitu lebih dari tiga kali buang air besar setiap hari.

Berdasarkan lama waktunya diare pada anak, penyakit satu ini terbagi menjadi:

  • Jangka pendek (akut). Diare yang berlangsung 1 atau 2 hari dan hilang begitu saja. Ini mungkin disebabkan oleh makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh bakteri (infeksi bakteri). Atau mungkin terjadi jika anak sakit karena virus.
  • Jangka panjang (kronis). Diare yang berlangsung selama beberapa minggu. Ini mungkin disebabkan oleh masalah kesehatan lain seperti sindrom iritasi usus besar. Bisa juga disebabkan oleh penyakit usus. Ini termasuk kolitis ulserativa, penyakit Crohn, atau penyakit celiac. Giardia juga dapat menyebabkan diare kronis.

Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi diare pada anak? Yuk simak penjelasan berikut, Moms.

Baca Juga: Apakah Sakit Perut Merupakan Tanda Usus Buntu pada Anak?

Penyebab Diare pada Anak

diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Dr. dr. Muzal Kadim, Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Anak, RS Pondok Indah – Pondok Indah, diare pada anak sebagian besar disebabkan oleh virus yang bernama rotavirus.

Tetapi bisa juga diakibatkan oleh bakteri salmonella, e.coli, dan shigella. Selain itu, juga bisa disebabkan oleh parasit amuba dan alergi susu pada bayi.

Untuk mengenal penyebab-penyebab diare pada anak ini lebih lanjut, simak penjelasan berikut ini yuk, Moms.

1. Virus

Viral gastroenteritis (sering disebut "flu perut") adalah penyakit umum yang terjadi pada anak-anak. Ini menyebabkan diare dan, seringkali, mual dan muntah. Gejala biasanya berlangsung beberapa hari, tetapi anak-anak (terutama bayi) yang tidak dapat minum cukup dapat mengalami dehidrasi.

Rotavirus menyerang bayi dan anak kecil dan dapat menyebabkan diare yang berair. Wabah lebih sering terjadi bermula dari tempat penitipan anak atau sekolah. Vaksin rotavirus dapat melindungi anak dari penyakit ini.

Enterovirus, seperti coxsackievirus, juga dapat menyebabkan diare pada anak-anak, terutama selama musim panas.

2. Bakteri

Penyebab diare pada anak selanjutnya adalah bakteri. Berbagai jenis bakteri dapat menyebabkan diare, termasuk E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan Shigella.

Jenis bakteri ini sering kali bertanggung jawab atas masalah "keracunan makanan", yang dapat menyebabkan diare dan muntah dalam beberapa jam setelah seorang anak terinfeksi.

3. Parasit

Infeksi parasit yang dapat menyebabkan diare pada anak-anak antara lain giardiasis dan kriptosporidiosis.

4. Penyebab Lainnya

Penyebab diare pada anak lainnya antara lain:

  • diet tinggi gula (misalnya, dari minum banyak jus)
  • alergi makanan
  • intoleransi laktosa
  • masalah di usus seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus (penyakit Crohn dan kolitis ulserativa)

Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Moms Harus Menjaga Kesehatan Usus Anak!

Tanda dan Gejala Diare pada Anak

tanda diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Menurut American College of Gastroenterology, diare pada anak mungkin encer atau mengandung darah. Feses bisa mengapung yang mengindikasikan adanya peningkatan lemak di dalam tinja. Gejala diare pada anak juga bisa disertai dengan:

  • Urgensi buang air besar, artinya anak merasa harus segera ke kamar mandi atau tidak bisa ditahan.
  • Sakit perut dan kembung
  • Nyeri rektal
  • Mual dan muntah
  • Penurunan berat badan
  • Demam

Penderita diare pada anak berisiko mengalami dehidrasi, yang terjadi ketika seorang anak tidak dapat mengonsumsi cukup cairan secara oral untuk memenuhi kebutuhan harian mereka dan mengkompensasi kehilangan tinja mereka. Tanda-tanda dehidrasi karena diare pada anak meliputi:

  • penurunan output urin/popok basah
  • bibir dan mulut kering
  • air mata yang tidak keluar saat menangis
  • meningkatnya iritabilitas dan kerewelan Si Kecil
  • peningkatan rasa kantuk dan penurunan tingkat energi

Dokter dapat menentukan apakah seseorang mengalami dehidrasi dan seberapa parah mereka mengalami dehidrasi dengan memeriksanya.

Baca Juga: Penyebab Muntaber pada Anak dan Cara Mencegah Dehidrasi

Mendiagnosis Diare pada Anak

gejala diare yang dialami anak

Foto: Orami Photo Stock

Untuk memberikan diagnosis, dokter anak akan bertanya tentang gejala dan riwayat kesehatan anak Moms. Dia akan memberi anak pemeriksaan fisik, karenanya Si Kecil mungkin akan menjalani tes laboratorium untuk memeriksa darah dan urin.

Tes diagnosis diare pada anak lain yang mungkin dilakukan termasuk:

  • Kultur tinja untuk memeriksa bakteri atau parasit abnormal di saluran pencernaan anak. Sampel feses kecil diambil dan dikirim ke laboratorium.
  • Evaluasi feses untuk memeriksa tinja dari darah atau lemak
  • Tes darah untuk menyingkirkan penyakit tertentu
  • Tes pencitraan untuk menyingkirkan masalah struktural
  • Tes untuk memeriksa intoleransi atau alergi makanan
  • Melakukan sigmoidoskopi. Tes ini memungkinkan penyedia layanan kesehatan memeriksa bagian dalam dari usus besar anak. Ini membantu untuk mengetahui apa yang menyebabkan diare, sakit perut, sembelit, pertumbuhan abnormal, dan pendarahan. Dokter anak menggunakan tabung pendek, fleksibel, dan menyala (sigmoidoscope). Tabung dimasukkan ke usus anak melalui rektum. Tabung ini menghembuskan udara ke dalam usus untuk membuatnya membengkak. Ini membuatnya lebih mudah untuk melihat ke dalam.

Mengatasi Diare pada Anak

berikan anak banyak cairan saat diare

Foto: Orami Photo Stock

Perawatan akan tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan umum anak kita. Itu juga akan tergantung pada seberapa parah kondisinya.

Namun mengutip Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada beberapa cara sederhana yang bisa orang tua lakukan untuk mengobati diare pada anak.

1. Rehidrasi Anak Kembali setelah Diare

Cara mengatasi diare pada anak yang pertama adalah rehidrasu anak. Karena anak mengeluarkan banyak cairan saat diare, maka anak sangat rentan dehidrasi. Anak yang mengalami dehidrasi ringan sedang akan terlihat kehausan, sebaliknya bila sudah mengalami dehidrasi berat maka ia malas minum.

“Kita harus mencegah anak dehidrasi dengan menghidrasi mereka kembali dengan cairan yang cukup,” jelas dr. Muzal.

Moms juga bisa memberikan anak cairan rumah tangga, seperti air tajin/air yang berasal dari beras yang dimasak pakai air, yang penting jangan terlalu manis.

Jangan menunggu anak haus, pemberian cairan segera diberikan sebanyak anak mau. Namun Moms sebaiknya tidak diberikan cairan untuk olahraga (sport drink).

Program kesehatan nasional pada balita yang mengalami diare adalah dengan pemberian cairan rehidrasi oral atau dikenal oralit.

Cairan oralit merupakan cairan yang dikemas secara khusus, mengandung air serta elektrolit yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare. Pemberian oralit dapat secara teratur diberikan bersamaan dengan makanan bayi (ASI, susu formula, atau makanan pendamping).

2. Memberikan Anak ASI

Cara mengatasi diare pada anak yang selanjutnya adalah memberikan ASI. Obat diare untuk balita yang paling penting adalah meningkatkan konsumsi cairan. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Hendaknya Moms sering meminumkan Si Kecil beberapa teguk cairan sesering mungkin meski mengalami gejala muntah.

Hal ini lebih baik dilakukan daripada tidak ada sama sekali cairan yang masuk. Hindari konsumsi jus buah atau minuman bersoda yang dapat memperburuk kondisi diare si balita tersebut.

Jika bayi mencret namun tetap aktif mengonsumsi ASI, maka teruskanlah untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya. Jangan takut untuk memberi ASI pada bayi atau balita yang mengalami diare.

Air susu ibu memiliki efek proteksi terhadap terjadinya diare. Saat anak mengalami diare, lanjutkan memberikan ASI. Mengapa? Karena kandungan laktosa yang terdapat dalam ASI tidak menyebabkan diare bertambah parah.

Pemberian susu formula bebas laktosa saat sedang diare masih kontroversial, meski beberapa penelitian menunjukkan manfaat mengganti susu formula ke bebas laktosa saat sedang diare.

Baca Juga: Adakah Pengukuran ASI untuk Sekali Minum?

3. Berikan Anak Nutrisi yang Dibutuhkan

Cara mengatasi diare pada anak yang selanjutnya adalah berikan nutrisi yang dibutuhkan. Saat sedang diare nafsu makan anak mungkin akan menurun, tetapi asupan makanan yang masuk tetap harus diperhatikan.

Saat diare, Si Kecil mungkin juga merasa mual atau malah muntah, berikan makanan dalam porsi lebih kecil yang lebih mudah diterima. Makanan dalam porsi kecil ini perlu diberikan lebih sering, misal tiap 3-4 jam, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi si kecil selama diare.

Anak tetap harus diberi makan sesuai umurnya. Menurut dr. Muzal, Moms bisa memberikan makanan yang mengandung nutrisi seperti zinc.

4. Memberi Makanan yang Mengandung Energi Tinggi

Cara mengatasi diare pada anak yang selanjutnya adalah beri asupan makanan yang mengandung energi tinggi. Bila diare sudah membaik, maka Moms harus mengejar kekurangan asupan makan tersebut dengan melanjutkan memberikan makanan yang mengandung tinggi energi agar pertumbuhan Si Kecil tetap terjaga saat masa penyembuhan.

Jika anak telah berusia enam bulan atau lebih dimana dia sudah makan makanan padat, maka berikan makanan yang disajikan secara segar, baik dimasak, ditumbuk ataupun digiling.

Salah satu makanan yang disarankan adalah sereal atau makanan lain yang banyak mengandung zat tepung dicampur dengan sayuran, kacang-kacangan, atau daging/ikan. Tambahkan pula 1-2 sendok teh minyak sayur yang ditambahkan pada setiap sajian untuk menambah cita rasa di lidah balita.

5. Memberikan Anak Antibiotik

Cara mengatasi diare pada anak yang selanjutnya adalah berikan antibiotik. Antibiotik dapat diresepkan untuk anak-anak dengan diare yang disebabkan karena bakteri atau parasit tertentu, meskipun dalam banyak kasus antibiotik tidak mengubah berapa lama diare berlangsung atau tingkat keparahannya.

Probiotik (tablet atau kapsul yang diproduksi secara komersial yang mengandung "bakteri baik") mungkin berguna dalam mengurangi keparahan gejala dengan adanya ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di usus.

Obat yang memperlambat buang air besar tidak dianjurkan pada anak-anak dengan diare akut meskipun kadang-kadang berperan pada anak-anak dengan diare kronis.

6. Perawatan Rumah Sakit

Cara mengatasi diare pada anak yang selanjutnya adalah perawatan di rumah sakit. Moms dapat segera membawa Si Kecil ke rumah sakit jika ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan seperti yang telah dipaparkan di atas. Saat dirawat di rumah sakit, balita anda akan di infus untuk menjaga cairan tubuh pada anak.

Selain itu, dokter akan memberikan antibiotik atau obat anti parasit untuk mengatasi sumber penyebab diare tersebut. Pemberian oralit dan tablet ZINC juga diberikan sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan oleh dokter.

Itu dia Moms beberapa hal yang perlu diketahui mengenai diare pada anak. Pastikan Moms memberikan anak cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi ya!

Artikel Terkait