DI ATAS 5 TAHUN
24 Oktober 2017

Cara Menghentikan Kebiasaan Anak Bergosip

Anak-anak tidak mengerti kalau bergosip itu kebiasaan buruk
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (fitria.rahmadianti)
Disunting oleh (fitria.rahmadianti)

Bergosip bukan hanya kebiasaan orang dewasa, tapi juga anak-anak. Lantas, bagaimana menghentikan kebiasaan bergosip pada si kecil?

Kebiasaan bergosip biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Menurut Laurent Begue, psikolog sosial asal Prancis, bergosip diibaratkan 'guilty pleasure' bagi banyak orang. Aktivitas ini dianggap bisa mempererat hubungan pertemanan dan memperlancar sosialisasi.

Orang dewasa seharusnya sudah tahu kalau bergosip adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan. Namun, lain orang dewasa, lain pula anak-anak. Mereka tidak mengerti kalau bergosip itu kebiasaan buruk. Di sini, peran Mama sangat penting untuk mengedukasi si kecil.

Sebelumnya, Mama harus bisa membedakan antara mengobrol dan menyebarkan gosip. Mengobrol sangat bermanfaat untuk melatih anak bersosialisasi. Bergosip juga bisa dikatakan demikian, tetapi bahan obrolannya itu yang salah.

Sebagai langkah awal, Mama bisa memberi pemahaman kalau setiap orang punya batasan tentang apa yang boleh dan tidak untuk diceritakan. Beritahu si kecil kalau sesuatu yang buruk tidak perlu diceritakan pada teman-temannya.

Setiap anak membutuhkan sosok yang bisa dipercaya dan diajak bicara. Mama bisa mengambil peran itu. Berikan celah agar si kecil bercerita tentang teman-temannya. Ingat, jangan menghakimi, cukup mendengarkan dan menyimak. Bila ada sesuatu yang janggal, beri pengertian secara perlahan agar anak tidak kapok bercerita.

Lingkungan anak juga berpengaruh. Nah, bila ia memberi 'sinyal' untuk memilih teman, Mama bisa membantunya. Biasanya, anak ingin diterima oleh teman-teman dan meniru apa yang dilakukan orang sekitarnya. Tapi, jangan terlalu membatasi pertemanan, cukup beri pengertian kalau berteman bisa dengan siapa saja, tapi untuk yang dekat harus tetap memilih.

Kalau Mama ingin mencegah anak bergosip, beri ia teladan. Ini adalah contoh yang cukup ampuh, karena anak adalah peniru yang baik. Ia akan memperhatikan apa yang Mama lakukan dan ucapkan.

Baca juga: 5 Kebiasaan Baik yang Harus Ditanamkan ke Anak Perempuan

(ICA)

Artikel Terkait