KESEHATAN
6 Januari 2019

Bagaimana Cara Tepat Melindungi Kulit Bayi dari Sinar Matahari?

Harus memakai sunscreen setiap 3 jam sekali
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Intan
Disunting oleh Intan

Penyebab utama kanker kulit adalah sengatan sinar matahari yang berlebihan tanpa perlindungan.

Sunburn atau terbakar matahari merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker kulit, terutama melanoma dan karsinoma sel skuamosa.

Akhir-akhir ini jumlah kasus kanker kulit di usia kurang dari 30 tahun mulai meningkat, 80 persen dari total paparan matahari seseorang terjadi sebelum usia 18 tahun.

Sebagian besar anak dan dewasa muda masih belum terbiasa menggunakan perlindungan terhadap matahari sehingga memperbesar risiko untuk mengalami flek, tumor jinak dan kanker kulit di kemudian hari.

Dibandingkan dengan kulit orang dewasa, kulit bayi dan anak lebih tipis, lebih sedikit kandungan melaninnya, dan daya tahannya belum sempurna.

Hal ini menyebabkan sinar matahari bisa menembus kulit lebih dalam dan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami banyak kerusakan dan dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari.

Jadi, bagaimana cara melindungi anak dari paparan sinar matahari?

Cara Melindungi Kulit Bayi dari Paparan Sinar Matahari

shutterstock 369318797

Cara untuk melindungi kulit pada anak yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics (AAP) sebagai berikut:

1. Hindari sinar matahari langsung

Di bawah 6 bulan, dianjurkan untuk menghindari sinar matahari langsung.

Hindari sinar matahari di siang hari atau beraktivitas di tempat yang teduh seperti di bawah pohon, payung, atau tenda.

Di atas 6 bulan, harus memakai baju atau topi yang melindungi dari sinar matahari langsung dan gunakan sunscreen pada kulit yang tidak tertutup pakaian.

Gunakan broad-spectrum sunscreen dan water-resistant sunscreen minimal SPF 30.

2. Gunakan pakaian yang melindungi

Kaus tangan panjang dan celana atau rok panjang memberikan proteksi yang baik.

Warna gelap lebih baik dari warna terang. Dan, beberapa baju khusus seperti baju renang/menyelam memiliki informasi mengenai SPF.

3. Pakai topi

Pilih topi/pelindung kepala yang menutupi wajah, kepala, telinga dan leher.

Topi baseball tidak menutupi area tersebut. Gunakan sunscreen pada area yang tidak tertutup.

4. Pakai kacamata hitam

Kacamata hitam dapat melindungi mata dari sinar matahari dan mengurangi risiko katarak di kemudian hari.

Gunakan kacamata yang nyaman dan melindungi hampir 100 persen UVA and UVB.

Baca Juga: Agar Hasilnya Efektif, Begini Cara Pemakaian Sunblock Sesuai Tingkat SPF

Tanda Terpapar Sinar Matahari Berlebihan

shutterstock 715041259

Tanda terpapar sinar matahari berlebihan antara lain wajah kemerahan, gatal, perih, dan terkelupas.

Kulit yang tidak dilindungi bisa mengalami kerusakan dalam 15 menit paparan langsung matahari. Namun, efek paparan tersebut bisa baru terlihat 12 jam kemudian.

Hindari paparan matahari yang lebih lama ketika kulit anak sudah mulai kemerahan atau berubah warna.

Sebagian besar orang Indonesia memiliki kulit tipe IV-V yang tidak mudah terbakar, namun mudah berubah warna menjadi lebih cokelat atau tanning.

Perubahan warna kulit merupakan tanda bahwa sudah terjadi kerusakan di kulit karena sinar matahari.

Baca Juga: Apakah Bayi Boleh Menggunakan Sunblock atau Sunscreen?

Istilah-istilah Pada Sunscreen

shutterstock 1221312289

Sebelum memilih sunscreen, ketahui dulu istilah yang bisa ditemukan pada kemasan sunscreen di pasaran.

1. UVA dan UVB

Sinar matahari atau sinar ultraviolet (UV) terdiri dari UVA, UVB dan UVC. UVC tidak menembus atmosfer, sehingga hanya UVA dan UVB yang dapat merusak kulit.

Sebagian besar sunscreen melindungi dari UVB, namun sebaiknya pilih sunscreen yang melindungi dari UVB dan UVA.

2. Sunscreen kimia dan fisika

Sunscreen fisika mengandung komponen inorganik yang bekerja dengan memantulkan atau menyebarkan sinar UV secara fisik.

Contoh bahan sunscreen fisika adalah zinc oxide dan titanium oxide. Sunscreen fisik biasanya berwarna putih kapur dan terlihat keabuan ketika dioleskan.

Sunscreen kimia bekerja dengan menyerap sinar UV secara kimia. Banyak dipakai dalam produk kosmetik karena tidak meninggalkan sisa warna putih di kulit.

3. SPF

SPF merupakan ukuran dari proteksi terhadap UVB. SPF merupakan rasio jumlah sinar UVB yang diperlukan untuk membuat kulit yang diproteksi menjadi merah dibandingkan kulit yang tidak diproteksi dalam waktu tertentu.

Contoh, bila kulit kita ‘terbakar’ setelah 5 menit paparan matahari, maka bila kita memakai tabir surya SPF 30, kulit kita akan terlindungi selama 30x5menit: 150 menit.

Tapi bukan berarti makin tinggi SPF boleh berlama-lama dalam paparan matahari. Sunscreen tidak bisa melindungi lebih dari 2-3 jam tanpa pemakaian ulang.

4. PA

PA (Protection Grade of UVA) merupakan perlindungan terhadap UVA, biasanya tercantum di sunscreen produksi negara Asia.

UVA tidak membuat kulit terbakar, namun membuat penuaan kulit dan kerusakan yang menetap di kulit.

PA ++ sampai +++ memberikan perlindungan tinggi dan sedang terhadap UVA, namun tidak berhubungan dengan waktu pajanan seperti pada SPF.

Kesimpulannya, pilihlah broad spectrum sunscreen (perlindungan UVA dan UVB), minimal SPF 30, water resistant (40-80 menit), teregistrasi POM/FDA.

Baca Juga: Bolehkah Ibu Hamil Menggunakan Sunblock? Ketahui Bahan yang Harus Dihindari

Cara Mengaplikasikan Sunscreen

shutterstock 370414133

1. Gunakan dalam jumlah yang cukup banyak (ikuti petunjuk di kemasan sunscreen).

2. Oleskan di area yang tidak tertutup pakaian, termasuk hidung, telinga, punggung tangan dan kaki.

3. Gunakan 15-30 menit sebelum terpapar matahari.

4. Pakai setiap 2-3 jam, lebih sering bila berenang atau berkeringat (beberapa sunscreen anti air selama waktu tertentu).

5. Gunakan walaupun cuaca mendung.

6. Gunakan pada setiap aktivitas di luar ruangan, bukan hanya saat tertentu seperti di pantai atau gunung.

7. Tiap sunscreen berbeda dan reaksi alergi selalu ada. Sebelum memakai sunscreen pertama kali, oleskan sedikit di punggung tangan atau leher dan pantau selama 24 jam apakah ada reaksi merah atau gatal.

Bahan aktif sunscreen biasanya sudah diuji berulang kali untuk menilai keamanannya dan melihat kemungkinan sensitisasi, iritasi, fototoksisitas dan karsinogenik.

Sunscreen dengan merk yang sudah diakui badan POM dan FDA relatif aman, namun kemungkinan iritasi dan alergi seringkali tidak bisa dihindarkan dan berbeda tiap individu.

Sunscreen kimia dapat diserap dalam jumlah sedikit oleh kulit. Sunscreen fisik tidak bisa diserap, misal titanium oksida, sehingga potensi gangguan sistemik hampir tidak ada.

Beberapa orang menganggap sunscreen bisa memengaruhi kemampuan tubuh mengkonversi vitamin D, sehingga menyebabkan kekurangan vitamin D.

Namun, beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa pemakaian sunscreen tidak memengaruhi kadar vitamin D seseorang.

Jadi mulai sekarang jangan lupa untuk mengoleskan sunscreen pada kulit Si Kecil untuk melindungi tubuhnya dari paparan sinar matahari!

Oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Sumber: Kejora Indonesia

Artikel Terkait