PARENTING
6 Mei 2020

Beruntung Bahan Makanan Selalu Tersedia, Ini Cerita Kami Melewati Pandemi COVID-19 di Thailand

Bagaimana keadaan Bangkok saat Pandemi COVID-19?
placeholder

Foto: dok. Veronika Napitupulu

placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ole Veronika Napitupulu, 37 tahun, Ibu Rumah Tangga, Ibu dari anak laki-laki kembar, Henry dan Wiliams (6 tahun), tinggal di Bangkok, Thailand

Virus corona (COVID-19) tidak hanya menyebarkan berbagai rasa khawatir dan cemas, namun juga merubah cara hidup kita sehari-hari.

Kota yang tadinya ramai dengan berbagai kendaraan dan lalu lalang orang, mendadak sepi seperti kota mati. Restoran yang ramai akan pengunjung mendadak sepi bahkan tutup, karyawannya pun ada yang dirumahkan.

Mal yang biasanya ramai di hari biasa dan akhir pekan, sekarang kosong bahkan tanpa penerangan. Semuanya seolah lenyap karena COVID-19.

Baca Juga: Kesempatan Quality Time dengan Keluarga, Kisah Pandemi COVID-19 di Inggris

Hal ini juga yang terjadi oleh Bangkok, Thailand. Bangkok yang tidak pernah sepi wisatawan dan ramai dengan berbagai perayaan, mendadak sepi karena semua orang tidak berang keluar rumah.

Ini dia cerita pandemi COVID-19 di Bangkok. Yuk kita tengok, Moms.

Bangkok di Tengah Pandemi COVID-19

cerita corona di bangkok

Foto: dok. Veronika Napitupulu

Meskipun di berbagai negara terjadi panic buying dan sebagainya, untungnya kondisi Bangkok saat ini terlihat masih tenang dan teratur. Supermarket-supermarket masih bisa menyediakan semua bahan pokok, mungkin 1 atau 2 bahan kadang kehabisan, seperti tepung, tapi terisi lagi beberapa hari kemudian.

Masyarakat juga terlihat masih tenang dan berbelanja seperti biasa. Supermarket kadang terlihat lebih sibuk dari biasa tapi masih under control kok.

Saya sudah berdomisili di Bangkok sejak Agustus, 2018. Menurut saya perbedaan yang paling terasa sekarang sih ya tidak bisa ke mana-mana kecuali grocery shopping.

Berhubung saya tidak bekerja dan sudah karantina di rumah sejak 1,5 bulan lalu, tidak banyak perubahan yang terlihat menurut saya. Hanya saja jalan sekarang lebih sepi dan lebih hening daripada biasa.

Kebetulan saya tinggal di pusat kota dan biasa sehari-hari mendengar kebisingan jalan sampai malam, tetapi sekarang terasa lebih sepi.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Bukan Panic Buying Bahan Makanan, Tapi Panic Buying Alkohol

cerita corona di bangkok

Foto: Orami Photo Stock (ilustrasi)

Imbauan dari pemerintah Bangkok diberikan secara bertahap. Pertama dianjurkan untuk tidak keluar rumah (sejak terdengar mengenai COVID-19 muncul awal Februari), lalu himbauan untuk memakai masker, mencuci tangan, dan social distancing.

Tapi terlihat tidak efektif, lalu kemudian mulai ditutup semua tempat-tempat umum seperti salon, mall, panti pijat, pertokoan, dan restaurant (tapi masih memperbolehkan take away) sejak 12 Maret lalu.

Pemerintah Thailand kemudian mengumumkan State Emergency Decree pada tanggal 27 Maret. Tidak berapa lama kemudian memberlakukan jam malam atau “curfew” dari jam 22.00 hingga 05.00 semenjak 3 April.

Dan baru-baru ini diberlakukan larangan membeli alkohol. Awalnya hal ini karena sehubungan dengan perayaan suci “Songkran”, yang dilakukan untuk 10 hari. Tetapi kemudian diperpanjang hingga akhir April.

Lucunya, ketika pengumuman ini keluar, terjadi alcohol panic-buying juga. Orang mengantre panjang untuk membeli alkohol.

Meski Tidak WFH, Sebagian Besar Waktu Saya Tersita untuk Anak

mengapa kebiasaan makan malam bersama keluarga penting untuk anak 4

Foto: Orami Photo Stock (ilustrasi)

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya ibu rumah tangga. Tetapi saat ini saya sedang melanjutkan kuliah online study dengan salah satu Universitas di Canada.

Walaupun ini online study, saya tetap harus menyediakan waktu untuk berkonsentrasi. Biasanya saya lakukan pagi atau siang hari ketika anak-anak di sekolah.

Tetapi sekarang agak susah, karena home learning dan anak-anak dirumah seharian. Jadi waktu saya tersita untuk “mengajar” dan bermain dengan anak-anak saya.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Namun saya punya cara khusus untuk mengatasinya. Biasanya untuk melakukan study online, saya punya ruangan/kamar yang ada pintu yang bisa ditutup. Saya susun meja kerja saya, kursi yang nyaman, komputer, buku-buku, kalender, dan keperluan bekerja lainnya.

Yang paling penting dekat dengan plug station untuk charging. Pokoknya tempat tersebut disusun sebaik mungkin untuk menjadi working space atau tempat kerja.

Biasanya saya tutup pintu untuk bisa kosentrasi bekerja. Atau biasa saya lakukan malam hari ketika anak-anak sudah tidur. Saya juga biasanya menjauhkan ponsel dari jangkauan.

Netflix dan Fasilitas di Condominium Jadi Penyelamat

cerita corona di bangkok

Foto: londontheatre.co.uk (ilustrasi)

Menyusun jadwal dengan baik adalah strategi saya. Kegiatan sehari-hari saya, pagi dari jam 08.30 sampai 14.15 adalah jadwal home learning anak-anak. Jadwal tersebut termasuk snack, makan siang, zoom, dan lain-lain.

Setiap jam 15.00 sore, Senin-Jumat, saya melakukan olahraga virtual dengan beberapa teman. Biasanya 3 kali seminggu yoga dan 2 kali seminggu HIIT. Sekali seminggu entah weekday atau hari Sabtu, saya main tenis dengan suami atau anak-anak.

Kebetulan kami tinggal di condominium dan fasilitas seperti tenis dan outdoor space walaupun dibatasi tetapi masih diperbolehkan dan tidak lebih dari 4 orang. Setelah berolahraga, biasa saya main dengan anak-anak di compound, lalu masak untuk makan malam.

Setelah makan malam dan menidurkan anak, kadang saya me-time dengan nonton Netflix atau mengerjakan tugas-tugas online study saya.

Kegiatan favorit kami mengerjakan puzzle, Lego, bersepeda di compound. Terkadang kami dance party. Biasanya kami di kamar pakai sound system dan mematikan lampu, pakai senter atau lampu-lampu menari-nari, kegiatan sederhana namun menyenangkan.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Drama Korea untuk Ditonton selama Pandemi COVID-19

Di Jumat malam atau Sabtu malam, kegiatan nonton film anak di Netflix, mematikan lampu dan membuat popcorn adalah penyelamat.

Saya termasuk beruntung karena anak saya kembar dan keduanya laki-laki yang memiliki hobi yang sama. Mereka hampir selalu bermain bersama, jadi sampai saat ini mereka tidak terlihat bosan dirumah.

Menjaga Kebersihan, Minum Suplemen, dan Kurangi Makan Daging

cerita corona di bangkok

Foto: Orami Photo Stock (ilustrasi)

Yang paling utama sih, kami tidak keluar rumah kecuali untuk belanja keperluan sehari-hari.

Kalaupun harus keluar, harus dilakukan secara sadar memakai masker dan tidak menyentuh wajah, menggunakan hand sanitizer jika perlu.

Anak-anak saya juga dari awal saya berikan pengertian mengenai virus corona. Sekolah mereka juga dari awal sudah memberikan arahan dan pengetahuan tentang COVID-19. Kami selalu menekankan pentingnya cuci tangan setiap dari luar dan sebelum makan.

Untuk menjaga kesehatan keluarga, saya memasak makanan sehat, kebetulan kami sudah mengurangi konsumsi daging sejak beberapa tahun ini. Tentunya menjaga kebersihan, memberikan suplemen, dan madu setiap hari.

Beruntung, Bahan Makanan Selalu Tersedia

cerita corona di bangkok

Foto: Orami Photo Stock (ilustrasi)

Berbelanja kebutuhan sehari-hari biasa kami lakukan semaksimal mungkin, artinya kami tunggu sampai benar-benar perlu, biasanya seminggu sekali. Tidak lagi terlihat panic buying di Bangkok seperti ketika awal-awal COVID-19.

Pemerintah Thailand telah menjamin dari awal bahwa semua bahan pokok akan tetap terpenuhi. Hal itu terbukti sampai saat ini semua supermarket selalu penuh dengan bahan-bahan makanan, jadi masyarakat sudah tidak khawatir lagi.

Hal-hal khusus yang diterapkan supermarket disini rata-rata setiap mau masuk supermarket ada orang yang mengukur suhu dan memberikan hand-sanitizer, selain dari itu tidak ada.

Baca Juga: 5 Aplikasi Belanja Sayur Online di Tengah Pandemi

Selalu Ada Hal yang Bisa Disyukuri dalam Setiap Situasi Ini

cerita corona di bangkok

Foto: dok. Veronika Napitupulu

Pesan yang ingin saya sampaikan terkait kondisi ini, tetap bersemangat, berdoa, dan berolahraga. Tidak harus olahraga berat, olahraga kecil dan ringan yang penting berkeringat. Karena dengan berolahraga kita akan mengeluarkan zat endorphin yaitu zat yang memicu rasa senang dalam tubuh.

Saya dari dulu memang hobi olahraga, jadi kalau tidak olahraga akan stres. Jadi usahakan untuk menggerakan tubuh dengan olahraga ringan.

Harus tetap waspada dengan lingkungan sekitar ketika harus keluar rumah, memakai masker, mencuci tangan setiap masuk rumah, menjaga jarak, dan berhati-hati di luar. Ada begitu banyak orang yang menerima dampak langsung dari COVID-19 ini, kehilangan pekerjaan, sakit, bahkan meninggal dunia.

Menanamkan dalam diri kita bahwa ini masalah serius dan menaati aturan pemerintah untuk melakukan social distancing, dan lainnya. Tidak perlu terlalu serius karena nantinya membuat kita sedih dan depresi.

Menikmati masa-masa di rumah dengan keluarga dan mengerjakan hal-hal yang dulu tertunda. Ada begitu banyak program atau tawaran yang tetap bisa dilakukan online.

Memang tidak mudah dengan situasi kita yang sekarang ini, tetapi sebisa mungkin tetap bersyukur. Berdonasi, sesuai kemampuan kita tentunya. Tidak harus selalu dengan materi, kita bisa menebarkan kebaikan dengan senyuman atau kata-kata positif melalui sosial media.

Tetap berpikir positif bahwa ini hanyalah sementara. Percaya bahwa kita bisa melalui semua ini bersama-sama dan mengambil efek positif dari semua ini yaitu, dengan berkurangnya aktivitas manusia, udara kita lebih bersih dan sehat.

Artikel Terkait