KESEHATAN
5 Oktober 2019

Dapat Menyebabkan Kematian, Mari Kenali Alergi Anestesi

Alergi ini bisa terjadi karena adanya faktor genetik
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Berbagai jenis alergi mungkin sudah umum kita dengar terjadi di dalam masyarakat, seperti alergi kulit, alergi dingin, alergi makanan, dan alergi lainnya. Namun tahukah Moms tentang alergi anestesi?

Alergi anestesi adalah reaksi alergi yang timbul selama pemberian anestesi, tetapi hal ini tidak umum terjadi.

Dilansir dari Healthline, diperkirakan 1 dari setiap 10.000 orang yang menerima anestesi memiliki reaksi alergi pada periode di sekitar operasi mereka.

Hal ini mungkin disebabkan oleh sejumlah obat, tidak hanya oleh obat yang diperlukan untuk memberikan anestesi saja.

Baca Juga: Kenali Berbagai Gejala dan Cara Mengatasi Alergi Dingin!

Selain reaksi alergi, reaksi non alergi dan efek samping obat dapat menyebabkan gejala yang mudah disalahartikan sebagai reaksi alergi.

Supaya bisa memahami alergi anestesi lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini ya.

Penyebab Alergi Anestesi

alergi anestesi

Penyebab pasti timbulnya alergi terhadap obat anestesi sampai saat ini belum diketahui secara pasti.

Namun menurut Dr. dr. Iris Rengganis, dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi dan imunologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, menyebutkan bahwa setiap individu memiliki kerentanan yang berbeda.

Menurutnya, semua individu memiliki risiko alergi terhadap jenis obat apapun, termasuk obat anestesi.

Namun, risiko lebih besar dapat ditemukan pada individu yang sudah diketahui memiliki alergi obat sebelumnya baik obat non-anestesi ataupun obat anestesi.

Namun terdapat hipotesis mengenai faktor genetik yang menyebabkan seseorang lebih besar risikonya mengalami anestesi.

Gejala Alergi Anestesi

alergi anestesi

Menurut Dr. dr. Iris Rengganis, gejala yang timbul akibat alergi anestesi bisa bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Gejala ringan seperti timbulnya ruam dan gatal-gatal.

Gejala yang berat sampai bisa menyebabkan hipotensi, penurunan kesadaran, syok (anafilaktik) bahkan kematian.

Baca Juga: Tengok Aneka Cara Mengobati Alergi pada Ibu Hamil dengan Aman Berikut Ini

Pada reaksi yang ringan dapat timbul keluhan berupa ruam-ruam saja dan terasa gatal.

Pada reaksi yang sedang dapat timbul kesulitan bernapas seperti asma dan penurunan tekanan darah.

Sedangkan jika sudah sampai tahap berat, dapat timbul hipotensi berat sampai syok (anafilaktik), penurunan kesadaran, dan jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan kematian.

Mencegah dan Mengatasi Alergi Anestesi

alergi anestesi

Untuk mencegah timbulnya alergi anestesi, tim medis harus menanyakan riwayat alergi obat pada pasien yang akan menjalani prosedur anestesi terlebih dahulu.

“Riwayat alergi obat baik pada pasien maupun keluarganya. Jika pasien tersebut memiliki riwayat seperti alergi terhadap obat bius jenis lidocain, maka tim medis tidak boleh memakai obat tersebut untuk keperluan anestesi,” tutur Dr. dr. Iris Rengganis.

Kemungkinan adanya alergi lain terhadap obat bius jenis lain tetap masih ada, sehingga tim medis harus waspada dan menyiapkan perlengkapan emergensi sewaktu-waktu terjadi alergi akibat obat anestesi.

Baca Juga: 5 Jenis Hewan Peliharaan yang Aman Untuk Anak Alergi atau Asma

Namun jika sudah terlanjur terkenal alergi, maka penanganannya tergantung beratnya gejala yang muncul.

Jika gejalanya ringan, dapat hanya diberikan obat injeksi anti alergi saja seperti diphenhidramin atau dexametason.

“Tetapi bila reaksinya sudah berat maka perlu penanganan lebih intensif, seperti pemasangan monitor, memberikan infus tetesan cepat sampai injeksi epinefrin (obat vasokonstriktor),” jelas Dr. dr. Iris Rengganis.

Pada reaksi alergi anestesi baik pada gejala ringan sampai berat, perlu observasi. Lamanya observasi tergantung tim medis yang menangani, bisa beberapa jam saja sampai beberapa hari di rawat inap.

Artikel Terkait