KESEHATAN
27 November 2019

Depresi: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Tanda-tanda depresi bisa dikenal dari tingkah dan sikap kita sehari-hari
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Depresi merupakan satu hal yang lekat di telinga kita dan mungkin terjadi pada orang-orang di sekitar kita.

Dilansir dari laman American Psychiatric Association, depresi (gangguan depresi mayor) adalah penyakit medis umum dan serius yang memengaruhi secara negatif perasaan kita, cara berpikir, dan perilaku serta tindakan kita.

"Ketika kita terkadang merasa sedih, depresi adalah perasaan putus asa yang meresap secara konsisten, serta merasa rendah diri," jelas Victoria Fisher, psikoterapis dan pekerja sosial klinis berlisensi dengan pengalaman mendiagnosis depresi.

Baca Juga: Suami Mengalami Depresi? Kenali Tanda-tandanya!

Depresi menyebabkan kita kehilangan minat pada aktivitas yang pernah kita lakukan atau sukai. Hal ini tentu berbahaya karena dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik, serta dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk berfungsi di tempat kerja dan di rumah secara efektif.

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 7,6 persen orang di atas usia 12 mengalami depresi dalam periode 2 minggu.

Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), depresi adalah penyakit paling umum di seluruh dunia dan penyebab utama kecacatan. Mereka memperkirakan bahwa 350 juta orang terkena depresi, secara global.

Lalu bagaimana cara mengatasi dan mencegah terjadinya depresi? Simak penjelasannya di bawah ini.

Penyebab Depresi

depresi

Tidak diketahui dengan pasti sebenarnya apa yang menyebabkan depresi. Seperti halnya banyak gangguan mental lainnya, berbagai faktor bisa jadi penyebabnya, seperti:

Baca Juga: 4 Dampak Perceraian Pada Anak, Salah Satunya Gangguan Mental

1. Perbedaan Biologis

Orang yang menderita depresi tampaknya memiliki perubahan fisik di otak mereka. Signifikansi dari perubahan ini masih belum pasti, tetapi pada akhirnya dapat membantu menentukan penyebabnya.

2. Kimia Otak

Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami, dan kemungkinan berperan dalam depresi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan fungsi dan efek neurotransmiter ini dan bagaimana mereka berinteraksi dengan neurocircuits yang terlibat dalam menjaga stabilitas suasana hati dapat memainkan peran penting dalam depresi dan perawatannya.

3. Hormon

Perubahan keseimbangan hormon tubuh juga bisa menyebabkan dan memicu depresi. Perubahan hormon dapat terjadi dalam kehamilan dan beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan (postpartum) dan dari masalah tiroid, menopause atau sejumlah kondisi lainnya.

4. Sifat Bawaan

Depresi lebih sering terjadi pada orang yang kerabat darahnya juga mengalami kondisi ini. Para peneliti mencoba menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.

Baca Juga: Moms, Kenali Lebih Dekat 6 Gejala Depresi Pada Anak

Tanda dan Gejala Depresi

depresi

Banyak dari gejala depresi yang terlihat sama, atau setidaknya sangat mirip. Dengan mengenali gejala depresi ini, akan sangat membantu kita untuk bisa segera mengatasinya.

"Melihat tanda-tanda peringatan dini dari depresi memungkinkan kita menghadapinya secara langsung dengan mencari pengobatan atau dukungan untuk membuat kita pulih," kata Victoria Fisher. Berikut ini tanda-tanda dan gejala depresi yang bisa kita temukan.

1. Waktu Tidur Jadi Terganggu

Perubahan waktu tidur adalah gejala pertama yang mungkin bisa diperhatikan ketika berhadapan dengan depresi.

"Beberapa orang mengalami kesulitan tidur atau mungkin terbangun sangat pagi," ujar Pooja Lakshmin, psikiater bersertifikat yang berspesialisasi dalam kesehatan mental wanita dan psikiatri perinatal.

Sementara tanda lainnya, bisa tertidur dengan baik, tetapi bangun sepanjang malam dan tidak merasa tidak mendapatkan istirahat yang cukup di pagi hari.

Baca Juga: 5 Cara Ampuh Agar Balita Mau Tidur Siang

2. Tidak Punya Motivasi

"Salah satu tanda depresi yang jelas adalah tidak lagi menikmati hal-hal yang pernah kita nikmati," jelas Marianna Strongin, pendiri Strong In Therapy. Menurutnya kita akan merasa kurangnya motivasi.

Misalnya dulunya suka membaca, tapi sekarang tidak ingin membaca lagi, meskipun ada setumpuk buku bagus di samping tempat tidur. Atau tidak ingin bertemu dengan teman, meskipun mereka mengajak jalan-jalan.

3. Merasa Tidak Nyaman dengan Hal-Hal Kecil

Kecelakaan di tempat kerja, kemacetan lalu lintas, kehilangan kunci atau lupa menaruh sesuatu, hal-hal ini mungkin akan terasa mengganggu, tetapi tidak sampai menimbulkan rasa putus asa.

“Namun, jika depresi mulai muncul, kita mungkin "mulai percaya bahwa tidak ada yang akan lebih baik atau berubah," jelas Sheila Tucker, terapis asosiasi perkawinan dan keluarga dan pemilik Heart Mind & Soul Counseling.

4. Semua Terasa Sulit Dilakukan

Perasaan depresi dapat membuat segalanya terasa sulit, mulai dari bangun, untuk mandi atau menyikat gigi, pergi bekerja, untuk mengirim pesan teks ke teman, hingga memasak makan malam. Semuanya akan terasa sulit untuk dilakukan.

Baca Juga: Mengapa Anda Tidak Termotivasi Dalam Pekerjaan?

5. Kehilangan Nafsu Makan

Meskipun mungkin terdengar tidak berkaitan dengan depresi, perhatikan sedikit perubahan pada kita, seperti kurangnya nafsu makan, meskipun dihadapkan dengan makanan favorit kita.

"Depresi dapat menyebabkan perubahan besar dalam nafsu makan," kata Pooja Lakshmin. Kita akan merasa tidak peduli dengan apa yang dimakan, meskipun kita termasuk suka makan.

6. Tidak Sabaran

Depresi membuat keadaan kita terkuras secara emosional, dan sejak awal, kita mungkin menunjukkan tanda-tanda penurunan cadangan emosional, sehingga kehilangan kesabaran.

Kita bisa membentak rekan kerja atau merasa tidak sabar dengan anggota keluarga. Mungkin lebih banyak berdebat dengan pasangan.

Tanda lainnya seperti merasa sering panik dan khawatir, tidak peduli keadaan sekitar, dan lebih sering menyendiri.

Faktor-Faktor Risiko Depresi

depresi

Depresi dapat memengaruhi siapa pun, bahkan orang yang tampaknya hidup dalam keadaan yang relatif ideal dan baik-baik saja. Beberapa faktor dapat berperan dalam depresi:

  • Biokimia: perbedaan bahan kimia tertentu di otak dapat berkontribusi pada gejala depresi.
  • Genetika: depresi dapat terjadi dalam keluarga. Sebagai contoh, jika satu kembar identik mengalami depresi, yang lain memiliki kemungkinan 70 persen untuk menderita suatu penyakit dalam kehidupan.
  • Kepribadian: orang-orang yang kurang percaya diri, yang mudah diliputi oleh stres, atau yang umumnya pesimistis tampaknya lebih mungkin mengalami depresi.
  • Faktor lingkungan: paparan terus menerus terhadap kekerasan, pengabaian, pelecehan atau kemiskinan dapat membuat beberapa orang lebih rentan terhadap depresi.

Baca Juga: Mengalami Pelecehan Seksual di Kantor? Atasi dengan 4 Cara Ini

Mengatasi Depresi

depresi

Jangan khawatir Moms, depresi merupakan salah satu gangguan mental yang dapat diobati. Antara 80 persen dan 90 persen penderita depresi akhirnya merespons pengobatan dengan baik.

Sebelum diagnosis atau perawatan, harus dilakukan evaluasi diagnostik menyeluruh, termasuk wawancara dan mungkin pemeriksaan fisik. Dalam beberapa kasus, tes darah mungkin dilakukan untuk memastikan depresi bukan karena kondisi medis seperti masalah tiroid.

Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi gejala spesifik, riwayat medis dan keluarga, faktor budaya dan faktor lingkungan untuk sampai pada diagnosis dan merencanakan tindakan penanganan.

Dilansir dari jurnal National Institute of Mental Health, ada beberapa cara untuk mengatasi depresi, seperti di bawah ini.

1. Obat

Antidepresan adalah obat yang bisa mengatasi depresi. Jenis obat ini dapat membantu meningkatkan cara otak menggunakan bahan kimia tertentu, lalu mengendalikan suasana hati atau stres.

Antidepresan biasanya memerlukan waktu 2 hingga 4 minggu untuk bekerja, dan seringkali, gejala-gejala seperti masalah tidur, nafsu makan, dan konsentrasi meningkat sebelum suasana hati meningkat, jadi penting untuk memberi obat kesempatan sebelum mencapai kesimpulan tentang efektivitasnya.

2. Psikoterapi

Beberapa jenis psikoterapi (juga disebut "terapi bicara" atau, dalam bentuk yang kurang spesifik, konseling) dapat membantu penderita depresi.

Contoh pendekatan berbasis bukti khusus untuk pengobatan depresi termasuk terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi interpersonal (IPT), dan terapi pemecahan masalah.

Baca Juga: Terapi Sentuhan untuk Mengatasi Depresi

3. Terapi Stimulasi Otak

Jika obat tidak mengurangi gejala depresi, terapi electroconvulsive (ECT) dapat menjadi pilihan untuk mengeksplorasi. Berdasarkan penelitian terbaru, ECT dapat memberikan kelegaan bagi orang dengan depresi berat yang belum dapat merasa lebih baik dengan perawatan lain.

Terapi electroconvulsive dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk depresi. Dalam beberapa kasus parah di mana respon cepat diperlukan atau obat tidak dapat digunakan dengan aman, ECT bahkan dapat menjadi intervensi lini pertama.

Setelah prosedur rawat inap yang ketat, ECT hari ini sering dilakukan berdasarkan rawat jalan. Perawatan terdiri dari serangkaian sesi, biasanya tiga kali seminggu, selama dua hingga empat minggu.

ECT dapat menyebabkan beberapa efek samping, termasuk kebingungan, disorientasi, dan kehilangan memori. Biasanya efek samping ini bersifat jangka pendek, tetapi kadang-kadang masalah memori dapat bertahan lama, terutama selama masa perawatan.

Metode ECT ini tidak menyakitkan, dan kita tidak akan merasakan impuls listrik. Sebelum ECT dimulai, pasien diberikan anestesi singkat dan diberikan pelemas otot. Dalam satu jam setelah sesi perawatan, yang hanya membutuhkan beberapa menit, pasien akan sadar kembali.

Baca Juga: Dapat Menyebabkan Kematian, Mari Kenali Alergi Anestesi

4. Pengobatan Sederhana

Berikut adalah tips lain yang dapat membantu kita atau orang yang kita cintai selama perawatan untuk depresi:

  • cobalah untuk aktif dan berolahraga,
  • tetapkan tujuan realistis untuk diri sendiri,
  • cobalah untuk menghabiskan waktu bersama orang lain dan curhat pada teman atau kerabat yang tepercaya,
  • cobalah untuk tidak mengisolasi diri sendiri, dan biarkan orang lain membantu,
  • harapkan suasana hati meningkat secara bertahap, tidak langsung,
  • tunda keputusan penting, seperti menikah atau bercerai, atau berganti pekerjaan sampai merasa lebih baik.
  • diskusikan keputusan dengan orang lain yang mengenal kita dengan baik dan memiliki pandangan yang lebih objektif tentang situasi yang ada
  • terus mendidik diri sendiri tentang depresi.

Membekali diri kita dengan semua informasi mengenai depresi ini dapat membantu kita dan orang-orang di sekitar kita untuk terhindar dari depresi atau sembuh dari depresi.

.

Artikel Terkait