BALITA DAN ANAK
10 Oktober 2019

Dermatitis Kontak pada Balita: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Bisa disebabkan oleh paparan zat kimia ataupun alergen
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Dermatitis kontak pada balita adalah masalah kulit yang cukup umum terjadi, namun perlu segera ditangani dengan serius supaya tidak bertambah parah.

Dalam sebuah studi yang dirilis oleh National Institutes of Health, yang dimaksud dengan dermatitis kontak adalah peradangan yang terjadi setelah kulit bersentuhan dengan zat kimia, fisik, maupun biotik.

Apa saja tipe dermatitis kontak pada balita dan bagaimana gejalanya? Baca sampai selesai untuk tahu lebih bayak ya, Moms.

Baca Juga: Apa Dermatitis Atopik Pada Balita Akan Terus Berlanjut Sampai Dewasa?

Penyebab Dermatitis Kontak pada Balita

Dermatitis Kontak Pada Balita Gejala, Penyebab dan Pengobatannya 1.jpeg

Foto: Firstaidforlife.org.uk

Menurut American Academy of Dermatologist, dermatitis kontak pada balita dapat dibagi menjadi dua tipe.

Yang pertama dan paling umum ditemui adalah dermatitis kontak iritan, yang terjadi setelah permukaan kulit bersentuhan langsung dengan zat iritan. Penyebab umumnya adalah:

  • Zat kimia, seperti asam dalam baterai, cairan pemutih, deterjen, sabun mandi, minyak wangi, atau krim pelembab.
  • Paparan zat relatif tidak berbahaya yang terlalu sering, seperti ruam popok akibat kulit terlalu lama lembab oleh air seni, bibir kering akibat sering dibasahi oleh lidah, atau kulit kering dan pecah karena sering terkena air.

Ada pula dermatitis kontak alergi, yang terjadi setelah permukaan kulit balita yang sensitif bersentuhan dengan zat alergen dari berbagai sumber, seperti:

  • Metal, terutama nikel, krom, dan merkuri. Bisa ditemukan pada perhiasan sepuhan, aksesori baju, ikat pinggang, tas, maupun jam tangan, juga beberapa mainan.
  • Lateks. Banyak ditemukan pada mainan karet, balon, bola, sarung tangan, juga empeng.
  • Kosmetik orang dewasa. Termasuk diantaranya eye shadow, kutek, dan lipstik.
  • Tanaman poison ivy, oak, dan sumac, yang mengandung minyak beracun urushiol.
  • Makanan tertentu.

Baca Juga: Kerak Parah Pada Bayi, Waspadai Dermatitis Seboroik!

Gejala Dermatitis Kontak pada Balita

Dermatitis Kontak Pada Balita Gejala, Penyebab dan Pengobatannya 2.jpg

Foto: Convenientmd.com

Perubahan pada pH atau sel lemak akibat permukaan kulit bersentuhan dengan zat iritan akan menyebabkan timbulnya peradangan sebagai gejala utama dermatitis kontak.

Meski tingkat keparahan dermatitis kontak pada setiap balita berbeda, umumnya disertai pula dengan gejala seperti:

  • Ruam merah yang membengkak serta terasa gatal dan nyeri.
  • Kulit kering, pecah, atau mengelupas.
  • Kulit yang terlihat melepuh, mengeluarkan cairan, berdarah, atau berkerak.

Gejala paling parah biasanya terlihat pada area kulit yang bersentuhan langsung dengan zat iritan atau alergen, dan bisa meluas.

Berbagai gejala di atas juga bisa timbul akibat masalah kesehatan lain, jadi ada baiknya Moms berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan lain untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Baca Juga: Yuk, Ketahui Cara Tepat Merawat Kulit Bayi dengan Dermatitis Atopik

Mengatasi Dermatitis Kontak pada Balita

Dermatitis Kontak Pada Balita Gejala, Penyebab dan Pengobatannya 3.jpg

Foto: Parents.fr

Langkah pertama untuk mengatasi dermatitis kontak pada balita adalah langsung mencuci kulit yang terpapar zat iritan dengan air dan sabun bebas kimia.

Setelah itu, cuci area tubuh lain seperti wajah, leher, tangan, dan sela jari untuk memastikan.

Kompres area kulit yang teriritasi dengan kain yang sudah dibasahi, untuk meredakan gejala serta radang yang muncul. Setelah itu Moms bisa mengoleskan krim yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi rasa gatal.

Bila ada area kulit yang mengeluarkan cairan karena terpapar zat iritan, balut dengan perban basah dan segera bawa ke dokter untuk dilakukan penanganan yang lebih akurat.

Bila kondisi kulit terlihat tidak kunjung membaik atau malah bertambah parah, Moms juga perlu segera membawa Si Kecil untuk dievaluasi lebih dekat dan mendapatkan penanganan profesional.

Jangan lupa, perhatikan zat kimia ataupun benda fisik yang sebelumnya bersentuhan dengan kulit Si Kecil supaya bisa menghindari kontak atau paparannya di masa depan.

Nah, apa Moms pernah punya pengalaman dalam menghadapi masalah kulit balita lainnya?

(WA)

Artikel Terkait