NEWBORN
10 Agustus 2020

Diare pada Bayi, Bagaimana Cirinya dan Cara Mengatasinya?

Kenali gejala, penyebab, dan cara mengatasi diare pada bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Diare adalah salah satu masalah anak yang paling umum di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Meski terdengar sepele, diare bisa menakutkan dan berbahaya. Di Indonesia, diare pada anak biasa dikenal juga dengan mencret.

Tetapi, ketika Moms memiliki bayi yang baru lahir atau kecil, tidak mudah untuk selalu membedakan antara kotoran normal dan mencret bayi.

Umumnya Si Kecil akan buang air besar lebih sering, tergantung pada usianya. Bayi yang baru lahir bahkan memiliki tinja bertekstur lunak dan agak cair, khususnya selama masih mendapatkan ASI eksklusif. Selain itu, bentuk dan warna kotoran Si Kecil juga sesuai makanan yang dikonsumsi Moms jika bayi masih mendapatkan ASI. Oleh karena itu, sebenarnya cukup sulit mengetahui diare pada bayi.

Baca juga: Makanan Ini Justru Sebabkan Bayi Sembelit

Penyebab bayi mencret sendiri sangat beragam dan penting Moms ketahui. Saat gejala diare pada si kecil muncul, Moms bisa langsung melakukan tindakan pencegahan sehingga kondisinya tidak semakin parah. Untuk lebih jelasnya, Moms bisa mengetahui penyebab dan gejala diare pada bayi dalam pembahasan berikut ini. Yuk kita cari tahu, Moms.

Penyebab Mencret pada Bayi

bayi mencret

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab umum bayi diare yakni virus yang disebut rotavirus. Rotavirus menyebabkan infeksi pada usus yang disebut gastroesteritis.

Menurut jurnal dalam U.S. National Library of Medicine, rotavirus adalah penyebab diare yang paling parah pada anak-anak. Demam dan frekuensi muntah pada bayi yang terjadi lebih dari dua kali per hari adalah gejala umum infeksi rotavirus, yang dianggap sebagai penyebab utama diare dehidrasi parah. Tanda-tanda ini sering terjadi pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena diare.

Infeksi yang merusak lapisan di dalam usus bayi memungkinkan cairan bocor dan makanan mengalir tanpa proses penyerapan nutrisi. Dalam beberapa kasus, rotavirus dapat menyebabkan infeksi usus serius hingga dehidrasi.

Biasanya diare yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur sering menyerang anak-anak yang berada di tempat penitipan dan mereka yang menghabiskan waktu di sekitar anak-anak lain yang terinfeksi. Kuman dapat ditangkap dan menyebar dengan mudah melalui kontak satu sama lain atau mainan.

Baca Juga: 6 Makanan Sehat yang Bantu Lawan Infeksi Virus

Vaksin untuk melawan rotavirus diberikan sebagai bagian dari imunisasi rutin yang didapatkan oleh bayi saat usianya 8 minggu dan diberikan kembali saat usianya 12 minggu.

Selain itu, beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab bayi diare lainnya termasuk:

  • Makanan Padat: Perubahan dalam pola makan bayi Moms dapat menyebabkan perubahan dalam pergerakan usus bayi kita. Produk susu, telur, gluten, kacang tanah, dan kerang-kerangan dapat menyebabkan alergi dan kepekaan terhadap makanan yang menyebabkan bayi mencret.
  • Efek obat: Jika bayi Moms harus minum obat seperti antibiotik, itu bisa mengganggu perutnya dan menyebabkan tinja yang encer atau cair.
  • Karena bepergian: Sama seperti orang dewasa yang juga bisa mengalami diare usai melakukan perjalanan atau bepergian, demikian juga dengan anak-anak. Bayi dan anak kecil mungkin memiliki risiko lebih tinggi. jadi Moms harus berhati-hatilah saat bepergian dengan anak kecil.
  • Kondisi medis: Beberapa kondisi medis, seperti radang usus dapat menyebabkan diare.
  • Anak sedang tumbuh gigi: Tumbuh gigi itu sendiri tidak mungkin menjadi penyebab diare pada anak ya Moms. Namun, bayi yang tumbuh gigi cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulut mereka, karena sedang sakit. Nah, kuman pada mainan atau benda-benda tersebutlah yang tertinggal, dan tangan kecil dapat dengan mudah menemukan jalan mereka ke dalam tubuh anak Moms yang menyebabkan penyakit dan diare.
  • Alasan tidak jelas: Terkadang tidak ada penyebab yang jelas untuk masalah diare pada bayi.

Gejala Bayi Mengalami Mencret

bayi mencret

Foto: Orami Photo Stock

Dari beberapa penyebab di atas, Moms mungkin akan melihat gejala-gejala yang ditunjukkan bayi yang sedang mengalami diare. Beberapa gejala yang menunjukkan bahwa Si Kecil sedang mengalami diare adalah seperti di bawah ini.

Baca Juga: Redakan Diare dan Muntah pada Bayi dengan Makanan Ini

  • Jika masih mendapatkan ASI eksklusif, tinja bayi baru lahir biasanya kekuningan serta teksturnya cenderung lunak atau cair. Bayi baru lahir umumnya juga ganti popok atau buang air besar hingga lima kali sehari.
  • Terkadang bayi baru lahir yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung buang air besar selama atau tepat setelah menyusu. Hal ini terjadi karena saat perutnya terisi, ASI akan menstimulasi gerakan ususnya.

Dalam waktu satu bulan, kebanyakan bayi baru lahir buang air besar satu atau dua kali sehari. Sedangkan bayi yang mendapatkan susu formula cenderung buang air besar hanya sekali dalam sehari. Selain itu, tinja bayi baru lahir yang mengonsumsi susu formula cenderung lebih keras dan bau.

Namun ada beberapa gejala diare pada bayi yang harus Moms khawatirkan. Berikut beberapa gejalanya:

  • Anak jarang buang air kecil
  • Terus-terusan rewel dan nangis
  • Mulut kering
  • Menangis tapi tidak mengeluarkan air mata
  • Kulit terlihat lebih kering

Moms juga harus perhatikan jangan Si Kecil mengalami dehidrasi ya. Hal ini dikarenakan saat bayi mengalami diare, cairan akan keluar dari tubuhnya. Jika Si Kecil kehilangan lebih banyak cairan dibandingkan saat dia menyusu, dia bisa mengalami dehidrasi.

Dehidrasi pada bayi baru lahir dan anak kecil dapat terjadi dengan sangat cepat. Berikut ini tanda-tanda dehidrasi pada bayi yang diare:

  • Rewel dan menangis
  • Frekuensi pipis berkurang
  • Mulut kering
  • Bagian atas kepala bayi cekung dan lunak
  • Mengantuk dan lesu
  • Kulit bayi tidak kembali setelah dicubit perlahan dan dilepaskan dengan lembut

Baca Juga: Ini Tanda Anak Dehidrasi dan Cara Mengatasinya, Catat!

Menurut jurnal dalam Case Reports in Gastrointestinal Medicine, tanatin gelatin dapat dianggap sebagai pengobatan yang bermanfaat sebagai pelengkap solusi rehidrasi oral untuk pengobatan diare pada bayi yang disebabkan karena rotavirus gastroenteritis.

Cara Mengatasi Diare pada Bayi

bayi mencret

Foto: Orami Photo Stock

Karena diare adalah cara tubuh untuk menyingkirkan kuman, yang terbaik adalah membiarkan penyakitnya berjalan tanpa obat.

"Ibu jangan memberikan obat antidiare kepada bayi," kata Shaista Safder, ahli gastroenterologi anak di Rumah Sakit Arnold Palmer untuk Anak-anak di Orlando. Selain itu, jangan berikan obat diare apapun pada si kecil sebelum usianya 12 tahun, mengingat obat antidiare bisa menimbulkan efek yang sangat serius. Namun Moms bisa melakukan berbagai cara di bawah ini.

1. Berikan Bayi Banyak Cairan

Pastikan Si Kecil minum cukup banyak cairan untuk membantunya meredakan gejala diare dan mencegah dehidrasi. Tetap berikan si kecil ASI atau susu formula seperti biasanya.

Dilansir dari American Academy of Pediatrics, salah satu cara untuk mencegah dehidrasi pada bayi akibat diare adalah dengan memberikannya banyak minum. Bila Si Kecil masih dalam masa ASI eksklusif, Moms bisa menyusuinya lebih sering lagi.

Tetap jangan berikan air selain ASI bila sang buah hati masih di bawah usia 6 bulan ya, Moms. Ini karena bisa menggagalkan ASI eksklusif.

Baca Juga: Apa Obat untuk Mengatasi Diare Pada Bayi Usia 9 Bulan?

Moms bisa juga mencoba memberikan larutan oralit kepada si kecil beberapa kali dalam satu jam. Larutan oralit juga bisa membantu menggantikan cairan dan garam yang hilang dari tubuh bayi akibat diare.

Moms harus tetap menyusui, memberikan susu formula atau air (jika sudah mendapat MPASI) seperti biasanya selama bayi mengalami diare. Jangan berikan jus buah, minuman yang mengandung glukosa, dan minuman bersoda jika usia bayi sudah di atas 6 bulan dan tidak lagi mendapatkan ASI. Minuman tersebut hanya akan membuat diare semakin parah.

2. Berikan MPASI yang Tepat

Selain penuh dengan cairan, Moms bisa memilih MPASI yang mengandung serat larut air.

Jenis serat ini dapat mengikat cairan dalam tubuh si bayi, sehingga diare pun berkurang.

Sumber serat larut air yang bisa diberikan misalnya pisang. Jangan memberikan makanan yang bisa memicu diare pada bayi lebih parah seperti makanan yang digoreng dan jus kemasan.

3. Merawat Kulit Bayi

Popok yang kotor dapat mengiritasi kulit bayi Moms dan menyebabkan ruam popok, jadi sering mengganti popok yang basah dan kotor. Usahakan agar area popok bayi tetap bersih dan kering ya Moms.

Menggunakan salep popok setelah setiap menggantinya juga bisa menenangkan dan menambahkan penghalang pelindung pada kulit anak. Pastikan untuk mencuci tangan setelah mengganti popok untuk mencegah penyebaran kuman.

4. Perhatikan Gejala Dehidrasi

Awasi tanda-tanda dehidrasi yang tercantum di atas. Diare berat yang menyebabkan dehidrasi mungkin memerlukan perawatan dengan cairan intravena (IV) di rumah sakit.

5. Jaga Kebersihan

Tergantung pada penyebab diare, apakah dapat menular dan menyebar ke orang lain di keluarga Moms. Jadi, cuci tangan setelah mengganti popok anak kita atau menggunakan kamar mandi, dan ingatkan anggota keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Jangan lupa untuk segera membawa si kecil ke dokter jika kondisinya masih belum membaik dalam waktu beberapa hari ya, Moms.

Artikel Terkait