BALITA DAN ANAK
7 September 2020

Mengenal Difteri pada Anak: Penyebab, Gejala, Risiko dan Pencegahannya

Difteri terkadang masih menyerang anak-anak di Indonesia. Vaksin merupakan satu langkah penting bagi Moms dalam menjaga Si Kecil dari Difteri
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Dina Vionetta

Pada tiga tahun terakhir, Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkan sekitar 28 provinsi sebagai tempat penyebaran wabah difteri dengan status Kejadian Luar Biasa. Wabah tersebut mengakibatkan adanya sekitar 600 kasus pasien difteri dengan 30 lebih pasien meninggal diantaranya, baik dewasa ataupun anak-anak.

Merebaknya  kasus difteri menimbulkan beberapa pertanyaan bagi klinisi yang harus dikaji mengapa hal tersebut dapat terjadi. Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), KLB ini disebabkan beberapa faktor yaitu cakupan imunisasi yang gagal mencapai target dan imunisasi yang gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak.

Selain itu, Jurnal Berkala Epidemiologi Unair tahun 2018 juga menyebutkan bahwa South-East Asia Region setiap tahunnya menempati urutan pertama kasus difteri di dunia. Indonesia merupakan negara dengan kasus insiden difteri terbanyak kedua dibandingkan India.

Mengingat difteri juga sering terjadi pada anak-anak, maka penting bagi Moms untuk tahu apa itu difteri para anak, penyebab, resiko dan cara menjaga Si Kecil agar terhindar dari penyakit tersebut. Berikut ini adalah beberapa penjalasan terkait difteri pada anak:

Baca Juga: Cegah Efek Buruk Difteri Pada Anak, Ini 4 Tips yang Bisa Moms Lakukan

Difteri pada Anak

difteri5.jpg

Difteri merupakan penyakit anak yang umum di tahun 1930-an dan merupakan infeksi bakteri yang mudah menyebar dan terjadi dengan cepat. Penyakit bakteri akut ini dapat menginfeksi tenggorokan (difteri pernapasan) atau kulit (difteri kulit).

Difteri pada anak umumnya mudah menjangkit anak-anak di bawah 5 tahun. Anak-anak yang tinggal dalam kondisi sesak atau tidak bersih, kurang gizi, dan tidak diimunisasi sejak dini, juga berisiko lebih tinggi.

Difteri sangat jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, di mana pejabat kesehatan telah memberikan imunisasi kepada anak-anak selama beberapa dekade. Namun, hal ini masih umum terjadi di negara berkembang dimana imunisasi tidak diberikan secara rutin.

Difteri dapat diobati dengan obat-obatan. Namun pada stadium lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf. Meski dengan pengobatan, difteri pada anak juga bisa mematikan. Namun, saat ini sudah jarang terjadi karena kampanye dan penggunaan vaksin difteri pada anak-anak mulai dilakukan secara massal.

Dikutip dari Boston Children Hospital, terdapat 2 jenis difteri yaitu:

Difteri pernafasan

Difteri pernapasanan adalah kondisi dimana bakteri difteri berkembang biak di tenggorokan. Selaput dapat terbentuk di atas tenggorokan dan amandel, sehingga menyebabkan sakit tenggorokan, sesak nafas, dan bahkan melepaskan racun ke dalam darah, sehingga menyebabkan gagal jantung.

Difteri kulit

Difteri kulit berupa infeksi ringan yang gejalanya biasanya lebih ringan dari difteri pernapasan. Difteri kulit tampak seperti bintik kuning atau luka pada kulit.

Baca Juga: Penyakit Ini Punya Gejala Mirip dengan Difteri, Bagaimana Cara Membedakannya?

Penyebab Difteri pada Anak

Penyebab Difteri

Difteri pada anak disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini biasanya berkembang biak di atau dekat permukaan tenggorokan.

Mayo Clinic menyebutkan bahwa difteri pada anak dapat menyebar melalui dua cara, yaitu:

Airbone Droplets

Saat orang yang terinfeksi bersin atau batuk mengeluarkan kabut tetesan yang terkontaminasi, orang di sekitar dapat menghirup. Terlebih ketika kondisi ramai, Corynebacterium diphtheriae akan sangat mudah menyebar.

Barang pribadi atau mainan yang terjangkiti

Anak-anak terkadang terjangkit difteri karena memegang mainan milik anak lain atau main bersama anak lain yang terinfeksi. Mainan anak lain di rumah atau barang-barang lainnya mungkin terkontaminasi bakteri tersebut.

Anak Moms juga dapat memindahkan bakteri penyebab difteri dengan menyentuh luka anak lain yang terinfeksi. Anak yang telah terinfeksi oleh bakteri difteri dan belum diobati, dapat menginfeksi orang yang belum mendapatkan vaksin difteri. Ini dapat terjadi bahkan ketika anak yang sakit atau menularkan tidak menunjukkan gejala apa pun.

Baca Juga: Ketahui Pengertian Penularan Penyakit Secara Airborne, Droplet, dan Aerosol

Tanda / Gejala Difteri pada Anak

penyakit mirip difteri hero banner magz (1510x849)

Moms harus hati-hati karena pada tahap awal, difteri bisa disalahartikan sebagai sakit tenggorokan yang parah. Demam ringan dan kelenjar leher bengkak adalah gejala awal difteri pada anak.

Racun yang disebabkan oleh bakteri dapat menyebabkan lapisan tebal (selaput) di hidung, tenggorokan, atau saluran napas. Hal ini yang membuat infeksi difteri berbeda dari infeksi lain yang lebih umum dan juga menyebabkan sakit tenggorokan, misalnya radang tenggorokan.

Lapisan ini biasanya berwarna abu-abu kabur atau hitam dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan kesulitan menelan. Saat infeksi berlanjut, seseorang mungkin:

  • Mengalami kesulitan bernapas atau menelan
  • Mengeluh penglihatan ganda
  • Berbicara cadel
  • Bahkan menunjukkan tanda-tanda syok (kulit pucat dan dingin, detak jantung cepat, berkeringat, dan penampilan cemas)

Dalam kasus yang perkembangannya lebih parah dari infeksi tenggorokan, toksin difteri menyebar melalui aliran darah dan dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa yang mempengaruhi organ lain, seperti jantung dan ginjal.

Racun dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan memengaruhi kemampuannya untuk memompa darah serta mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membersihkan limbah.

Dikutip dari Kids Health, bakteri difteri ini rupanya juga dapat menyebabkan kerusakan saraf pada anak, yang akhirnya menyebabkan kelumpuhan. Sebanyak 40% hingga 50% dari mereka yang tidak dirawat, memiliki kemungkinan untuk meninggal karena tidak mendapatkan perawatan yang tetap.

Baca Juga: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Sakit Tenggorokan

Komplikasi Akibat Difteri pada Anak

KomplikAsi difteri.jpg

Jika diferi pada anak Moms tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang bisa memperburuk kondisi medis mereka, antara lain:

Masalah pernapasan

Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan racun. Racun ini merusak jaringan di area infeksi yang biasanya terjadi di hidung dan tenggorokan. Di tempat itu, infeksi menghasilkan membran keras berwarna abu-abu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lain. Akhirnya, membran tersebut dapat menghalangi jalannya pernapasan.

Kerusakan jantung

Toksin difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di tubuh anak Moms yang terserang difteri. Misalnya merusak otot jantung dan lalu menyebabkan komplikasi seperti radang otot jantung (miokarditis).

Kerusakan jantung akibat miokarditis mungkin terjadi dalam tingkat ringan atau parah. Pada kondisi paling parah, miokarditis dapat menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.

Kerusakan saraf

Toksin difteri rupanya juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Target tipikal dari pengrusakan ini adalah saraf ke tenggorokan, di mana konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Saraf pada lengan dan tungkai juga bisa meradang dan menyebabkan kelemahan otot.

Jika toksin difteri merusak saraf yang membantu mengontrol otot yang digunakan untuk bernapas, otot ini dapat menjadi lumpuh. Pada saat itu, anak Moms mungkin membutuhkan bantuan mekanis untuk bernapas.

Dengan pengobatan, kebanyakan penderita difteri dapat bertahan hidup dari komplikasi ini, meskipun pemulihannya seringkali cukup lambat. Menurut data WHO, 5%-10% kasus difteri dapat berakibat fatal dan tingkat kematian yang lebih tinggi terjadi pada anak-anak.

Baca Juga: Mengenali Gangguan Saraf pada Anak agar Tidak Terlambat Ditangani

Cara Mencegah Difteri pada Anak

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi.jpg

Sebagian besar kasus difteri terjadi pada anak-anak yang belum menerima vaksin sama sekali. Ini dikarenakan pencegahan difteri hampir sepenuhnya bergantung pada pemberian vaksin difteri / tetanus / pertusis kepada anak-anak (DTaP) dan penyakit difteri masih ada di negara-negara terbelakang sehingga vaksin tetap diperlukan.

Vaksin DTaP merupakan vaksin yang lebih baru dan kecil kemungkinannya menyebabkan reaksi dibandingkan jenis yang diberikan sebelumnya. DTaP diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, 4 sampai 6 tahun, dan 11 sampai 12 tahun, lalu booster setiap 10 tahun setelahnya.

Beberapa anak tidak boleh mendapatkan vaksin DTaP, atau harus mendapatkannya nanti. Misalnya:

  • Anak-anak yang sebelumnya mengalami reaksi sedang atau serius setelah divaksinasi
  • Anak-anak yang sebelumnya mengalami kejang atau memiliki orang tua atau saudara kandung yang mengalami kejang
  • Anak-anak yang memiliki masalah otak yang kondisinya kurang baik
  • Anak-anak yang sedang menderita penyakit sedang atau berat.

Baca Juga: Vaksin Bayi, Perlu atau Tidak?

Artikel Terkait