PARENTING
13 Oktober 2019

Dilema Working Moms, Tetap ‘Waras’ saat Anak GTM

Karena anak GTM, aku di kantor uring-uringan, dan kadang suka melamun sendiri memikirkan Si Kecil yang susah makan
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Ferina Tyas Hapsari (26 th), Ibu dari Feiyaz Aleesha (10 bln), Member dari WAG Working Moms.

"You can learn many things from children. How much patience you have, for instance." -Franklin P. Adams.

Moms pastinya pernah mengalami fase-fase dimana anak menolak makan 'kan Moms? Katanya sih, ini fase yang cukup mengerikan dan bisa membuat kita kehilangan 'kewarasan' sejenak. Hehe.

Ditambah lagi, untuk working Moms seperti aku yang tidak bisa 100 persen ada di samping anak saat dia lagi GTM (Gerakan Tutup Mulut).

Di kantor kepikiran, takut berat badan menurun, takut Baby Fei kurang gizi, takut daya tahan tubuhnya menurun, dan jenis kekhawatiran lainnya.

Baca Juga: Penghargaan Terbesar untuk Suami yang Memiliki Baby Blues

Saat GTM Akhirnya Terjadi pada Bayi Mungilku

1.JPG

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Ketika baby Fei memasuki masa MPASI, semua terasa begitu indah. Ia makan dengan lahap, semua jenis puree disukainya, momen ini pun menjadi ajang Maminya untuk foto-foto demi konten media sosial.

Senang rasanya melihat gemasnya reaksi Si Kecil setiap kali mencoba rasa baru dari makanan yang disajikan.

Hatiku pun riang gembira dan semangat untuk membagikan resep-resep unik nan Instagramable ke pengasuh yang menjaga baby Fei dirumah selama aku bekerja.

Namun, kenikmatan masa MPASI itu ternyata tak berlangsung lama.

Memasuki usia 9 bulan, baby Fei mulai menunjukkan tanda-tanda menolak makan, mulai dari memalingkan muka saat disuapi, makannya diemut, pilih-pilih makanan.

Hingga akhirnya di usia 10 bulan, baby Fei hanya mau minum, dan benar-benar menutup mulutnya terhadap semua makanan yang disajikan.

JRENG.. JRENG.. JRENGG.

Baca Juga: Kunci Keberhasilan Toilet Training: Sabar, Konsisten, dan Kerja Sama

Usaha yang Dilakukan untuk Membuat Baby Fei Kembali Buka Mulut

2.JPG

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Jujur, minggu pertama baby Fei GTM, aku sudah mulai 'gila' Moms. Hahaha.

Di kantor uring-uringan, di rumah senewen, kadang suka melamun sendiri memikirkan nasib anak yang tidak mau makan. Tapi, aku segera tersadar kalau aku tidak boleh larut dalam stres ini.

Aku pun berusaha mencari tahu satu persatu hal yang mungkin menjadi penyebab anak GTM, dan aku juga mencarikan solusinya.

1. Tumbuh Gigi

Setelah dicek, Fei belum menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh gigi lagi.

Kalaupun iya, aku pastikan selalu memberi Fei teether dingin yang sebelumnya aku taruh di wadah tertutup di kulkas.

2. Bosan Rasa dan Suasana

Akhirnya, aku turun ke dapur. Jujur, aku tidak handal dalam hal memasak, yah sedikit-sedikit lah.

Tapi demi Fei mau makan, aku berkolaborasi dengan pengasuh Fei untuk membuat variasi makanan dan tekstur, lengkap dengan ragam bentuk yang kira-kira akan disukai Fei.

Tak ketinggalan dengan makanan-makanan homemade online yang terlihat menggiurkan, semua kuhadirkan untuk Fei. Sekali makan, 3-4 menu kusiapkan untuknya.

Tidak lupa duduk dan makan bersama Fei, serta bekal akal dan kreativitas untuk menghadirkan suasana makan yang menyenangkan.

3. Trauma dan Feeding Rules

Insha Allah, aku enggak pernah memaksa Fei untuk makan atau membuka mulut.

Itu juga hal yang selalu aku wanti-wanti ke pengasuhku, supaya ia mengikuti saja apa yang Fei mau, selama masih dalam batas yang wajar.

4. Konsultasi ke Dokter

Yaap, akhirnya aku memutuskan konsultasi ke tiga dokter sekaligus: dokter anak, dokter ahli gizi anak, dan dokter ahli alergi dan imunologi.

Aku hanya ingin memastikan tidak ada sesuatu yang salah dengan kesehatan putriku. Kalaupun ia sedang menolak makan, aku harus pastikan hal tersebut bukan karena suatu gangguan kesehatan.

Baca Juga: Siapa Bilang jadi IRT Bisa Santai? Ternyata Penuh Tantangan Lho Moms

Meruntuhkan Segala Idealisme dan Sikap Perfeksionis

3.JPG

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Insha Allah, sudah semua cara yang ada di internet, yang disarankan dokter, dan yang aku lakukan sendiri sudah dicoba. Sayangnya, Fei belum mau makan Moms. Hikssss.

I'm mentally, physically, and financially exhausted.

Walaupun aku bekerja, aku khawatir banger sama dunia anak dan pola parenting yang aku pilih untuk Fei. Mulai dari feeding rules, menu makanan, takaran gizi, dll.

Tapi semuanya 'bubar' ketika Fei GTM. Aku berusaha mengalah demi kewarasan bersama. Aku berusaha mengikuti apa yang Fei mau.

Aku juga mulai belajar, bahwa menjadi idealis boleh saja, tapi lihat situasi dan kondisi juga.

Aku pun juga belajar untuk mengelola perasaan dan pikiranku dengan lebih bijaksana dan anti 'baper' (terbawa perasaan) saat anak GTM.

Baca Juga: Ini 4 Tips Efektif Agar Anak Saya Cinta Membaca

Follow the Child

Berhubung aku lagi mempelajari dan mendalami tentang Montessori di mana salah satu filosofinya adalah konsep follow the child, aku sampai di tahap "legowo" (ikhlas) saja deh.

Segala ikhtiar dan doa telah aku panjatkan, sekarang waktunya berserah sembari membenahi diri lagi, fokus pada pekerjaan dan tugas yang lainnya.

Sekarang baby Fei, lagi suka makan camilan biskuit saja, ya sudah, aku ikuti saja.

Aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa GTM ini tidak akan berlangsung selamanya kok, dan aku bukan satu-satunya ibu yang frustasi karena GTM di muka bumi ini. Hahaha.

Aku pun memutuskan untuk refreshing sejenak bersama keluarga. Membersihkan pikiran dari "ion-ion negatif".

Putriku dianugerahi akal yang begitu cerdas, aku yakin dia tahu persis apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Aku yakin dia akan makan lagi dengan lahap, tumbuh sehat dan sempurna setiap waktunya.

Mungkin memang orang tua zaman dulu itu ada benarnya juga. Kalau memang lagi masanya, yang penting jangan putus asa dan tetap ikhtiar, tetap tenang supaya selalu waras.

Perjuangan seorang ibu masih panjang, jangan terjebak di urusan makan Si Kecil saja. Semangat!

Artikel Terkait