KESEHATAN
30 Maret 2020

Efek Samping Penggunaan Obat yang Mengandung Kortikosteroid untuk Tubuh

Obat kortikosteroid yang bisa mengatasi radang sendi hingga penyakit kulit memiliki efek samping ringan sampai serius pada tubuh
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Dina Vionetta

Kortikosteroid adalah obat sintetis yang digunakan untuk mengobati berbagai gangguan, termasuk asma, radang sendi, kondisi kulit dan penyakit autoimun. Obat ini dilansir oleh livescience.com, bekerja dengan meniru kortisol, yakni hormon yang diproduksi secara alami oleh kelenjar adrenal pada orang sehat.

Kortisol biasa disebut sebagai hormon stres, yakni hormon steroid yang dilepaskan sebagai respons terhadap stres. Menurut Johns Hopkins Medicine, hormon ini berfungsi pada berbagai proses dalam tubuh, seperti metabolisme, peradangan, tekanan darah dan pembentukan tulang.

Kortikosteroid bekerja dengan mengurangi peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh. Jika tidak diobati, peradangan berlebih dapat merusak jaringan sehat, menyebabkan kemerahan, pembengkakan dan rasa sakit.

Ada beberapa jenis kortikosteroid, termasuk kortison, prednison, deksametason, prednisolon, betametason, dan hidrokortison. Kortison adalah obat kortikosteroid pertama yang boleh digunakan di Amerika Serikat pada 1950.

Baca Juga: Apa Saja Efek Samping Obat Darah Tinggi? Cari Tahu di Sini

Fungsi Pengunaan Kortikosteroid

efek kortikosteroid 1.jpeg

Foto: shutterstock

Kortikosteroid termasuk obat dalam golongan glukokortikoid memengaruhi sistem tubuh dalam beberapa cara. Tetapi dilansir oleh medicinenet.com, sebagian besar digunakan untuk efek antiinflamasi yang kuat dan dalam kondisi yang terkait dengan fungsi sistem kekebalan tubuh seperti:

  1. Radang sendi
  2. Kolitis ( radang usus besar dan penyakit crohn)
  3. Asma
  4. Bronkitis
  5. Kondisi yang menyebabkan ruam kulit
  6. Alergi atau peradangan yang melibatkan hidung dan mata.

Sementara itu, kortikosteroid glukokortikoid biasanya digunakan untuk mengobati lupus sistemik, psoriasis berat, leukemia, limfoma, purpura trombositopenik idiopatik, dan anemia hemolitik autoimun.

Kortikosteroid jenis ini juga digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mencegah penolakan transplantasi organ baru.

Kemudian, fludrocortisone (Florinef) yakni kortikosteroid mineralokortikoid oral sistemik yang digunakan untuk mengobati penyakit addison dan kondisi yang menyebabkan kehilangan garam, seperti hiperplasia adrenal kongenital.

Kondisi ini juga digunakan untuk mengobati tekanan darah rendah (hipotensi), walaupun obat ini bukan indikasi yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).

Baca Juga: Vaksin Influenza, Ini Waktu Tepat Pemberian dan Efek Sampingnya

Apa Efek Samping Kortikosteroid Sistemik?

efek kortikosteroid 2.jpeg

Foto: shutterstock

Kortikosteroid memiliki banyak efek samping, dari ringan sampai serius. Efek samping ini lebih jelas ketika kortikosteroid digunakan pada dosis yang lebih tinggi atau jangka waktu lama.

Adapun beberapa efek samping akibat penggunaan kortikosteroid, antara lain:

  1. Menyebabkan natrium (garam) dan cairan tertahan di dalam tubuh, sehingga memicu pertambahan berat badan atau pembengkakan pada kaki (edema).
  2. Tekanan darah tinggi
  3. Kehilangan potasium
  4. Sakit kepala
  5. Kelemahan otot
  6. Bengkak di wajah
  7. Pertumbuhan rambut wajah
  8. Menipis dan mudah memar kulit
  9. Penyembuhan luka lambat
  10. Glaukoma
  11. Katarak
  12. Bisul di perut dan usus dua belas jari
  13. Kehilangan kontrol diabetes
  14. Menstruasi tidak teratur

Penggunaan kortikosteroid berkepanjangan juga bisa menyebabkan obesitas, keterbelakangan pertumbuhan pada anak-anak hingga kejang-kejang serta gangguan kejiwaan.

Adapun gangguan psikiatrik yang muncul akibat kortikosteroid termasuk depresi, euforia, insomnia, perubahan suasana hati dan perubahan kepribadian. Bahkan seseorang juga bisa mengalami perilaku psikotik.

Kortikosteroid yang menekan sistem kekebalan tubuh, bisa menyebabkan peningkatan risiko infeksi dan mengurangi efektivitas vaksin serta antibiotik.

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang bisa menyebabkan osteoporosis yang mengakibatkan patah tulang .

Bahkan penyusutan (atrofi) kelenjar adrenal bisa terjadi akibat penggunaan kortikosteroid jangka panjang. Karena obat ini mengakibatkan ketidakmampuan tubuh memproduksi kortisol dan kortikosteroid alami tubuh ketika kortikosteroid sistemik dihentikan.

Kondisi lain juga bisa terjadi akibat penggunaan kortikosteroid jangka panjang, yakni nekrosis adrenal pada sendi panggul. Biasanya kondisi itu sangat menyakitkan sampai memerlukan pembedahan.

Gejala nyeri pinggul atau lutut pada orang yang menggunakan kortikosteroid juga memerlukan perhatian medis segera.

Seseorang tidak boleh menghentikan penggunaan kortikosteroid secara mendadak setelah penggunaan jangka waktu lama. Karena, cara itu bisa menyebabkan krisi adrenal akibat ketidakmampuan tubuh mengeluarkan cukup kortisol.

Sehingga efek samping dari krisis adrenal bisa meliputi mual, muntah dan syok.

Baca Juga: Ketahui Efek Samping dari Penggunaan Botol Susu pada Gigi Anak

Cara Mengurangi Efek Samping Kortikosteroid

efek kortikosteroid 3.jpeg

Foto: shutterstock

Sebenarnya dilansir oleh Hospital for Special Surgery, cara mengurangi efek samping obat kortikosteroid tidak bisa sembarang. Seseorang perlu ke dokter untuk mendiskusikan efek sampingnua.

Karena, efek samping kortikosteroid juga tergantung pada dosis penggunaannya. Jika dosisnya rendah, risiko efek samping serius cukup kecil.

Moms perlu memahami dan mempertimbangakan kalau penggunaan kortikosteroid bisa menyebabkan efek samping, baik ringan hingga serius.

Jadi, obat ini tidak bisa dikonsumsi sembarang tanpa arahan dokter karena efek sampingnya yang bisa serius. Karena itu pula seseorang tidak boleh menghentikan konsumsi kortikosteroid mendadak.

Artikel Terkait