KESEHATAN
17 Oktober 2019

Epilepsi pada Masa Kehamilan: Penyebab, Gejala, Risiko, dan Pengobatannya

Termasuk gangguan kesehatan kronis yang sering disepelekan
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Pernahkah Moms mendengar tentang epilepsi? Epilepsi adalah gangguan kronis atau kelompok gangguan yang ditandai dengan kejang berulang yang tidak dapat diprediksi.

Kejang adalah disfungsi fisiologis sementara otak, di mana neuron akan menghasilkan pelepasan listrik yang berlebihan.

Epilepsi adalah gangguan kesehatan kronis. Tak heran banyak wanita ingin tahu tentang epilepsi selama kehamilan, dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi janin dalam kandungan.

Oleh sebab itu, itu Orami sudah merangkum semuanya untuk Moms. Mulai dari gejala, risiko, hingga opsi perawatannya selama kehamilan, seperti dilansir dari situs American Pregnancy berikut ini.

Gejala Epilepsi

01 Gejala Epilepsi - sumber parentscom.jpg

Foto: parents.com

Sayangnya, beberapa gejala epilepsi mirip dengan gejala kehamilan.

Contohnya sakit kepala, perubahan mood atau tingkat energi, pusing, pingsan, dan kebingungan. Dalam kasus yang parah, gejala epilepsi termasuk hilang ingatan dan kejang-kejang.

Institut Nasional Neurologis Disorder and Stroke (NINDS) memperkirakan, epilepsi mempengaruhi satu persen dari populasi Amerika Serikat (sekitar 2,5 juta orang).

Diperkirakan sekitar sepertiga hingga setengah wanita dengan epilepsi akan mengalami kejang lebih sering selama kehamilan.

Penyebab Kejang

02 PENYEBAB KEJANG - sumber aivaromm.jpg

Foto: aivaromm.com

Kemungkinan alasan peningkatan kejang adalah obat antikonvulsan. Obat ini cenderung bekerja secara berbeda selama kehamilan.

Akibatnya, dokter mungkin akan mengubah resep obat lain jika Moms mengalami epilepsi saat kehamilan.

Baca Juga: Paniknya Saya sebagai Ibu Baru saat Melihat Anak Kejang karena Demam

Pengaruh Terhadap Janin

03 Pengaruh Terhadap Janin - sumber healthline.jpg

Foto: healthline.com

Jenis kejang yang disebabkan epilepsi dapat menyebabkan berbagai tingkat komplikasi. Jika Moms mengalami kejang parsial atau tidak ada kejang sama sekali, risiko terhadap bayi sangat minimal.

Namun, jika Moms mengalami bentuk kejang tonik-klonik (grand mal), risiko cedera pada bayi dan ibu meningkat.

Selama kejang tonik-klonik, ada gangguan pernapasan sementara. Meskipun gangguan ini jarang mempengaruhi ibu, ini dapat menyebabkan kekurangan oksigen pada janin dalam kandungan.

Selain itu, detak jantung bayi bisa melambat selama 30 menit setelah kejang tonik-klonik.

Risiko Epilepsi Selama Kehamilan

04 Risiko Terhadap Janin - verywell family.jpg

Foto: verywellfamily.com

Epilepsi dapat memengaruhi kehamilan dengan berbagai cara. Jika kejang terjadi selama kehamilan, sejumlah komplikasi dapat terjadi pada bayi, termasuk cedera janin, deselerasi detak jantung janin, pemisahan prematur plasenta dari uterus, hingga keguguran.

Bahkan dalam beberapa kasus, bisa memicu persalinan prematur.

Baca Juga: Penanganan Pertama Epilepsi Anak, Wajib Moms Ketahui!

Efek Obat Antikonvulsan

05 Efek Obat Epilepsi - sumber whattoexpect.jpg

Foto: whattoexpect.com

Perhatian utama untuk ibu hamil dengan epilepsi adalah efek obat pada bayi. Dikutip dari Daniel Murell, MD, seorang dokter dari Chicago, Amerika Serikat, dari Medical News Today, wanita epilepsi memiliki kemungkinan 4-6% untuk memiliki bayi yang lahir dengan cacat lahir sebagai akibat dari mengambil obat antikonvulsan.

Beberapa cacat ringan seperti jari-jari kecil dan kuku kaki, yang kemungkinan besar tumbuh dari bayi.

Namun, ada lebih banyak cacat lahir utama seperti spina bifida, bibir sumbing, cacat tabung saraf, dan kelainan jantung.

Moms harus berkonsultasi dengan dokter tentang obat antikonvulsan ketika mencoba untuk hamil. Mereka mungkin akan merekomendasikan penurunan dosis atau menggantinya dengan obat lain.

Tindakan Pencegahan

06 Pencegahan Epilsepsi - sumber youtube bill.jpg

Ada langkah-langkah yang harus diambil jika wanita dengan epilepsi ingin memastikan kehamilan yang paling sehat. Konseling prakonsepsi harus dilakukan dengan dokter sebelum Moms hamil.

Di tahap ini, dokter akan meninjau riwayat medis Moms untuk menentukan pengobatan.

Saat meminum obat antikonvulsan, Moms harus berbicara dengan dokter tentang mengonsumsi asam folat. Mengkonsumsi asam folat sebelum dan selama kehamilan memang dapat meningkatkan kesehatan bayi.

Namun, obat antikonvulsan dapat mengganggu kadar asam folat dalam tubuh, dan kadar asam folat yang rendah dapat menyebabkan cacat tabung saraf.

Penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi asam folat selama tiga bulan pertama kehamilan mengurangi risiko spina bifida.

Baca Juga: Simak Manfaat Folavit, Suplemen Asam Folat untuk Program Hamil, Yuk!

Itulah 6 fakta epilepsi yang perlu diketahui ibu hamil. Penting bagi Moms yang mengidap epilepsi untuk banyak istirahat, tetap bebas stres, dan minum obat sesuai resep dokter. Mendapatkan bantuan dari keluarga dan teman, atau menekuni hobi adalah beberapa cara untuk mengurangi stres.

(CIL/DIN)

Artikel Terkait