KESEHATAN
22 Oktober 2019

Fakta-Fakta Mengenai Aritmia pada Ibu Hamil, Berbahayakah?

Ketahui risikonya jika detak jantung Moms tidak beraturan.

Sumber: k24klik.com

Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Aritmia atau detak jantung tidak beraturan tidak boleh disepelekan. Terutama pada ibu hamil.

Jika dibiarkan, maka akan berisiko terhadap janin. Bahkan bisa menyebabkan sindrom kematian mendadak.

Dilansir dari situs Cleveland Clinic, ada beberapa hal yang wajib Moms ketahui tentang aritmia pada ibu hamil. Di antaranya sebagai berikut:

Gejala Umum

Gejala Umum Aritmia

Foto: medscape.com

Aritmia bisa jadi tidak menunjukkan gejala apa pun. Seorang dokter dapat mendeteksi detak jantung yang tidak teratur selama pemeriksaan.

Yakni, dengan mendengarkan detak jantung pasien atau dengan melakukan tes diagnostik. Namun, gejala umumnya sebagai berikut:

  • Palpitasi, yaitu perasaan jantung berdetak kencang, berkibar, atau perasaan bahwa jantung "melarikan diri".
  • Dada berdebar-debar.
  • Pusing atau perasaan pusing.
  • Sesak napas.
  • Ketidaknyamanan pada dada.
  • Merasa sangat lelah

Gejala palpitasi mewakili 15-25 persen dari semua gejala yang dilaporkan oleh pasien jantung wanita.

Gejala ini terkait dengan sindrom pramenstruasi, kehamilan, dan periode perimenopause.

Ketika jantung berdebar, dokter memulai evaluasinya dengan mencari penyakit jantung yang mendasarinya.

Baca Juga: Apa Penyebab Sesak Napas dan Bagaimana Penanganannya?

Perbedaan Bacaan EKG

Bacaan EKG.jpg

Wanita dan pria serupa dalam hal detak jantung dan ritme dasar.

Namun, wanita cenderung memiliki denyut jantung awal yang lebih cepat.

Lalu bacaan EKG wanita mungkin berbeda. Rata-rata, wanita cenderung memiliki denyut jantung awal yang lebih cepat daripada pria.

EKG atau elektrokardiogram adalah tes yang digunakan untuk merekam aktivitas elektrik jantung pada kertas grafik.

Gambar, yang diambil oleh komputer dari informasi yang disediakan oleh elektroda yang ditempatkan pada kulit dada, lengan dan kaki, menunjukkan waktu dari berbagai fase irama jantung.

Jenis Aritmia

Jenis Aritmia.jpg

Foto: parenting.firstcry.com

Ada beberapa jenis aritmia, namun aritmia tertentu lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria.

Misalnya, fibrilasi atrium, salah satu irama jantung tidak teratur yang paling umum.

Ini adalah irama jantung cepat yang tidak teratur yang berasal dari atrium.

Wanita lebih cenderung mengalami fibrilasi atrium yang terkait dengan penyakit katup.

Sedangkan pria, lebih sering mengalami fibrilasi atrium yang terkait dengan penyakit arteri koroner.

Studi Jantung Kopenhagen menunjukkan bahwa wanita dengan atrial fibrilasi memiliki peningkatan risiko stroke dan kematian kardiovaskular dibandingkan dengan pria.

Hal ini terutama berlaku pada wanita yang memiliki fibrilasi atrium dan lebih tua dari usia 75.

Baca Juga: Awas, Sesak Napas Saat Berbaring Bisa Jadi Pertanda Penyakit Jantung

Risiko Aritmia

Risiko Aritmia.jpg

Foto: mommyasia.com

Kematian jantung mendadak adalah kematian mendadak dan tak terduga yang disebabkan oleh hilangnya fungsi jantung.

Kematian jantung mendadak (SCD) terjadi lebih jarang pada wanita, tetapi masih terkait dengan sekitar 400.000 kematian per tahun pada wanita.

Studi Kesehatan Perawat di Kanada menunjukkan bahwa sementara mayoritas wanita yang memiliki SCD tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular sebelum kematian.

Namun, mereka memiliki setidaknya satu faktor risiko jantung. Seperti merokok, hipertensi dan diabetes memiliki dampak terbesar.

Riwayat keluarga juga memainkan peran dalam peningkatan risiko.

Aritmia dan Kehamilan

Aritmia dan Kehamilan.jpg

Foto: k24klik.com

Aritmia dapat terjadi lebih sering selama kehamilan karena perubahan hormon.

Wanita yang mengalami perbaikan kelainan jantung bawaan memiliki peningkatan risiko aritmia selama kehamilan.

Aritmia pada kehamilan diperlakukan secara konservatif. Setelah menentukan jenis aritmia, dokter akan mengevaluasi penyebab yang mendasari.

Ketika aritmia menyebabkan gejala atau penurunan tekanan darah, obat antiaritmia dapat digunakan.

Namun, tidak ada obat antiaritmia yang sepenuhnya aman selama kehamilan.

Oleh karena itu, obat-obatan harus dihindari selama trimester pertama untuk membatasi risiko pada janin.

Baca Juga: Mengenal Aritmia, Penyakit yang Jadi Sebab Mati Mendadak

Pengobatan selama Hamil

Pengobatan Aritmia.jpg

Foto: theconversation.co.uk

Dikutip dari laman NCBI, obat seperti propranolol, metoprolol, digoxin, dan adenosin telah diuji dan terbukti dapat ditoleransi dengan baik dan aman selama dikonsumsi pada trimester kedua dan ketiga.

Kemudian, kardioversi aman selama semua trimester kehamilan dan dapat digunakan jika perlu.

Dalam banyak kasus, penggunaan obat antiaritmia mengarah pada hasil yang aman dan sukses untuk ibu dan bayi.

Kesimpulannya, aritmia perlu perhatian khusus dari pihak medis.

Namun, aritmia pada ibu hamil masih bisa diobati dengan baik.

Oleh sebab itu, Moms, wanita dengan aritmia tidak perlu takut untuk hamil. Jangan khawatir!

(CIL/DIN)

Artikel Terkait