BALITA DAN ANAK
15 Juli 2020

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIV/AIDS pada Anak

Pahami faktanya untuk bantu hilangkan stigma pada anak dengan HIV/AIDS
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Wina Andria
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Kurangnya pemahaman akan fakta HIV/AIDS pada anak membuat stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya terus terjadi di masyarakat. Padahal, pemahaman yang benar dapat membantu anak penderitanya menjalankan hidup dengan normal dan berkualitas.

Menurut data lembaga UNAIDS, di seluruh dunia diperkirakan ada 1.8 juta anak yang terinfeksi HIV, dan tidak semuanya memiliki akses terhadap pengobatan yang layak.

5 Fakta Seputar HIV/AIDS pada Anak

Yuk Moms, tambah pemahaman tentang fakta anak penderita HIV/AIDS supaya tidak lagi salah kaprah dengan mitos yang beredar.

1. HIV Tidak Menular Melalui Sentuhan

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIVAIDS Pada Anak 1.jpg

Foto: Bbcamerica.com

Perlakuan diskriminatif terhadap anak dengan infeksi HIV sering terjadi karena masih banyak orang tua beranggapan kalau HIV bisa menular karena berdekatan atau bersentuhan.

Padahal, menurut penjelasan dari Stanford Children’s Hospital, virus HIV hanya bisa menular melalui transmisi vertikal (dilahirkan atau disusui oleh ibu HIV positif) dan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi.

Sampai saat ini belum pernah ada kasus penularan HIV/AIDS melalui sentuhan, air liur, keringat, air mata, berbagi peralatan makan atau tempat tidur, berenang, tempat duduk toilet, atau gigitan nyamuk.

Jadi, anak dengan infeksi HIV sebenarnya tidak perlu dijauhi apa lagi dikucilkan dari lingkungan sekolah, rumah, maupun pergaulan.

Baca Juga:

2. Anak Dengan Infeksi HIV Belum Tentu AIDS

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIVAIDS Pada Anak 2.jpg

Foto: Duluthnewstribune.com

Sering dianggap sama, infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency sindrome (AIDS) pada anak sebenarnya adalah dua kondisi yang berbeda.

Sesuai dengan penjelasan dari WHO, anak dengan infeksi HIV bisa menjalankan terapi antiretroviral untuk menekan laju kerusakan sistem kekebalan tubuh. Selama terapi dilakukan dengan disiplin dan konsisten, anak bisa hidup normal dan infeksi HIV tidak berkembang menjadi AIDS.

Nah, AIDS sendiri adalah infeksi HIV stadium 3 yang terjadi saat virus telah menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh penderitanya.

3. Anak Dengan Infeksi HIV Bisa Berumur Panjang

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIVAIDS Pada Anak 3.jpg

Foto: Jmntherapyfairfax.com

Fakta HIV/AIDS pada anak yang juga harus Moms ketahui adalah angka harapan hidup penderita yang semakin panjang berkat kemajuan pengobatan modern. Meski infeksi HIV belum bisa disembuhkan sepenuhnya, saat ini laju infeksi sudah bisa ditekan sehingga penderitanya bisa menjalankan hidup normal.

Dengan pengobatan dini dan tepat, beberapa temuan terbaru juga menunjukkan kalau anak dengan infeksi HIV memiliki angka harapan hidup lebih dari 10 tahun, bahkan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.

Baca Juga:

4. Anak Dengan Infeksi HIV Tetap Perlu Imunisasi

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIVAIDS Pada Anak 4.jpg

Foto: Simcoemuskokahealth.org

Sama seperti anak lain pada umumnya, anak dengan infeksi HIV juga perlu imunisasi agar tetap sehat. Namun, pemberian imunisasi harus selalu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan sistem kekebalan tubuhnya dapat menerima dengan baik.

Anak dengan infeksi HIV serta orang yang tinggal serumah juga direkomendasikan untuk melakukan vaksin influenza secara rutin setiap tahun ya, Moms.

5. Anak Dengan Infeksi HIV Rentan Terkena Infeksi Bakteri

Jangan Salah Kaprah Lagi, Ini 5 Fakta Seputar HIVAIDS Pada Anak 5.jpg

Foto: Masseyeandear.org

Infeksi HIV menyerang sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang, sehingga Si Kecil cenderung lebih rentan terkena infeksi bakteri seperti pneumonia atau otitis media meski sudah menjalankan terapi dan pengobatan rutin.

Selain itu, anak dengan infeksi HIV cenderung memiliki tinggi badan dan berat badan yang lebih rendah dari teman sebayanya karena kurang nafsu makan akibat efek pengobatan dan  juga lebih sering diare.

Karena itu, anak dengan infeksi HIV perlu menjalankan pola makan dan gaya hidup sehat supaya tidak sering sakit dan tumbuh kembangnya tetap optimal.

Baca Juga:

Kesadaran dan pemahaman tentang fakta HIV/AIDS pada anak memang harus terus disebarluaskan, supaya penderitanya tidak lagi dirundung stigma dan bisa mendapatkan kesempatan lebih besar untuk menjalankan hidup berkualitas seperti anak lain pada umumnya.

Menurut Moms, adakah mitos lain tentang HIV/AIDS pada anak yang perlu diluruskan faktanya?

Artikel Terkait