KEHAMILAN
6 Agustus 2020

5 Fakta Tentang Ari-ari Bayi yang Mungkin Belum Moms Ketahui

Tahukah Moms fakta dibalik ari-ari bayi yang seharusnya juga perlu dijaga sejak proses kehamilan?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Amelia Puteri

Moms semua pasti tahu bahwa ari-ari bayi memiliki peran sangat penting selama masa kehamilan. Ari-ari yang akan ikut keluar saat Moms melahirkan, rupanya memiliki banyak fungsi baik ketika masih di dalam dan manfaat bahkan saat sudah dikeluarkan.

Saat Moms hamil, Moms mungkin bertanya-tanya apa yang ari-ari bayi lakukan dan faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhinya. Ari-ari bayi atau biasa dikenal dengan sebutan plasenta adalah organ yang berkembang di rahim Moms selama kehamilan.

Struktur ari-ari bayi rupanya mampu menyediakan oksigen dan nutrisi untuk Si Kecil yang sedang tumbuh.

Ari-ari bayi ini biasanya menempel pada bagian atas, samping, depan atau belakang rahim. Dalam kasus yang jarang terjadi, ari-ari juga mungkin menempel di daerah bawah rahim.

Berikut ini adalah beberapa fakta yang bisa dan biasa terjadi pada ari-ari bayi serta hal yang harus Moms ketahui agar ari-ari bayi berkembang dengan baik dan berfungsi maksimal menjaga Si Kecil di dalam perut.

Baca Juga: Tak Cuma di Indonesia, 3 Negara Ini Punya Tradisi Seputar Ari-ari Bayi

1. Faktor yang Memengaruhi Kondisi Ari-ari Bayi

faktor yang pengaruhi kondisi ari-ari bayi

Foto: Orami Photo Stock

Dikutip dari Mayo Clinic, berbagai faktor dapat memengaruhi kesehatan atau kondisi ari-ari bayi selama kehamilan, dengan sebagian di bawah kendali Moms dan sebagian lagi tidak.

Usia Ibu

Melansir dari Tech Explorist, Research Associate University of Cambridge, Dr. Tina Napso menyebutkan bahwa usia ibu yang lanjut ternyata mempengaruhi efisiensi ari-ari bayi.

Ini secara nyata mempengaruhi struktur dan fungsi ari-ari bayi laki-laki, dimana mengurangi kemampuannya untuk mendukung pertumbuhan janin.

"Kehamilan di usia yang lebih tua adalah proposisi yang mahal bagi ibu, yang tubuhnya harus memutuskan bagaimana nutrisi dibagi dengan janin. Itulah sebabnya, secara keseluruhan, janin tidak tumbuh cukup selama kehamilan ketika ibu lebih tua dibandingkan dengan ketika dia masih muda," kata Dr Napso.

Pecah Ketuban

Selama kehamilan, Si Kecil yang masih berupa janin di dalam perut, masih dikelilingi dan diberi bantalan oleh selaput berisi cairan yang disebut kantung ketuban.

Jika kantung bocor atau pecah sebelum persalinan dimulai, maka risiko masalah pada ari-ari bayi akan meningkat pada kondisi tertentu.

Tekanan Darah Tinggi

Menjaga agar tidak stres adalah salah satu cara agar tekanan darah lebih stabil. Moms perlu ingat bahwa tekanan darah tinggi juga dapat memperburuk keadaan ari-ari dan tentunya keadaan Si Kecil di perut Moms.

Dengan kata lain, Moms yang memiliki tekanan darah tinggi menjadi faktor yang berpengaruh terhadap ari-ari bayi.

Kembar atau Kehamilan Ganda Lainnya

Mengetahui bahwa ada lebih dari satu janin di perut Moms tentu merupakan kabar yang bahagia. Namun Moms juga harus hati-hati karena jika Moms hamil dengan lebih dari satu bayi.

Moms mungkin berisiko tinggi mengalami masalah ari-ari bayi tertentu. Kehamilan kembar menjadi faktor yang memengaruhi kondisi ari-ari bayi.

Gangguan Pembekuan Darah

Setiap kondisi yang mengganggu kemampuan darah Moms untuk menggumpal, maka itu akan meningkatkan risiko masalah ari-ari bayi dan fungsi lainnya.

Baca Juga: Ketuban Pecah Dini, Segera Lakukan 3 Hal Ini

2. Masalah Umum pada Ari-ari Bayi

masalah umum pada ari-ari bayi

Foto: Orami Photo Stock

Selama masa kehamilan, kemungkinan masalah ari-ari bayi seperti solusio plasenta, plasenta previa, dan plasenta akreta biasa terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan vagina yang berpotensi memperburuk kesehatan.

Selain itu ketika setelah melahirkan, retensi plasenta juga terkadang menjadi perhatian. Ini dia Moms beberapa yang perlu diketahui tentang berbagai gangguan ari-ari bayi atau plasenta tersebut.

Solusio Plasenta

Jika ari-ari bayi terlepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya, maka kondisi ini dinamakan solusio plasenta.

Kondisi ari-ari bayi yang terlepas ini dapat menghilangkan oksigen dan nutrisi Si Kecil dan bahkan menyebabkan Moms mengalami pendarahan hebat. Solusio plasenta dapat menyebabkan situasi darurat yang membutuhkan kelahiran dini.

Placenta Previa

Dikutip dari MedicineNet, Ahli Anatomi Patologi bersertifikat AS Melissa Conrad Stöppler, MD, mengatakan plasenta previa adalah kondisi dimana terjadi perlekatan plasenta atau ari-ari bayi ke dinding rahim di lokasi yang sepenuhnya atau sebagian menutupi serviks atau jalan keluar uterus.

"Pendarahan setelah usia kehamilan 20 minggu adalah gejala utama dari plasenta previa, sehingga pemeriksaan ultrasonografi digunakan untuk menegakkan diagnosis plasenta previa. Melahirkan secara bedah caesar sering menjadi solusi dari masalah plasenta previa yang menyebabkan pendarahan parah," ujarnya.

Plasenta Akreta

Secara umum, ketika Moms melahirkan maka ari-ari bayi akan terlepas dari dinding rahim.

Namun pada kondisi plasenta akreta, sebagian atau seluruh plasenta tetap melekat erat ke rahim. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim.

Plasenta akreta dapat menyebabkan Moms kehilangan darah yang berakibat fatal selama persalinan. Dokter mungkin akan merekomendasikan bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim bila memang kondisinya cukup mengkhawatirkan.

Retensi Plasenta

Ketika Moms melahirkan Si Kecil, idealnya plasenta atau ari-ari bayi juga akan ikut keluar. Jika ari-ari bayi tidak keluar dalam kurun waktu 30 menit setelah melahirkan, itu disebut ari-ari tersebut yang tertahan atau retensi plasenta.

Biasanya ari-ari atau plasenta yang tertahan dapat terjadi karena organ tersebut terperangkap di belakang serviks yang tertutup sebagian atau karena plasenta masih menempel pada dinding rahim.

Jika masalah umum pada plasenta ini tidak diobati, ari-ari bayi yang tertahan dapat menyebabkan infeksi parah atau kehilangan darah yang mengancam jiwa sang ibu.

Baca Juga: 3 Bahaya Plasenta Previa dan Tandanya, Waspada!

3. Cara Mengurangi Risiko pada Ari-ari Bayi

cara mengurangi risiko pada ari-ari bayi

Foto: Orami Photo Stock

Moms tentu tidak ingin terjadi masalah serius dengan ari-ari bayi yang ada di perut Moms. Lantas apa yang bisa Moms lakukan untuk mengurangi risiko yang dapat terjadi?

Sebagian besar masalah plasenta atau ari-ari bayi ini tidak dapat dicegah secara langsung. Namun, Moms dapat mengambil langkah-langkah tepat untuk menciptakan suasana kehamilan yang sehat.

Konsultasi Teratur dengan Dokter

Kunjungi penyedia layanan atau dokter kandungan Moms secara teratur sepanjang masa kehamilan Moms.

Bekerjasama dengan dokter untuk mengelola atau menjaga kondisi kesehatan apapun yang terjadi, misalnya menjaga tekanan darah agar tidak hipertensi dan berolahraga sesuai saran dokter.

Tidak Merokok dan Menggunakan Narkoba

Dalam keadaan sehat pun, seseorang tidak dianjurkan untuk merokok dan menggunakan narkoba. Apalagi ketika sedang hamil, rokok dan narkoba menjadi pantangan yang paling utama.

Robin Elise Weiss, PhD, MPH, Childbirth and Postpartum Educator, Certified Doula, Doula Trainer, Lactation Counselor, mengatakan ketika wanita hamil merokok, maka pembuluh darah termasuk yang memasok ke ari-ari bayi, akan mengerut atau mengecil.

"Aliran darah terganggu dan janin mungkin kekurangan oksigen dan nutrisi. Risiko solusio plasenta akan meningkat. Hal ini juga dapat menyebabkan persalinan prematur atau ketuban pecah dini karena tubuh merasa bahwa bayi tidak bisa lagi diberi makan dengan benar," ujarnya mengutip Very Well Family.

"Kita juga tahu bahwa merokok adalah kecanduan. Wanita membutuhkan dukungan dan bantuan untuk berhenti merokok," lanjut Dr. Robin.

Jangan Ragu Menceritakan Riwayat Kesehatan

Jika Moms pernah mengalami masalah pada plasenta atau ari-ari bayi selama kehamilan sebelumnya dan merencanakan kehamilan lain, bicarakan dengan dokter tentang cara-cara untuk mengurangi risiko agar tidak mengalami kondisi itu lagi.

Moms juga tidak boleh lupa untuk memberi tahu dokter kandungan Moms jika Moms pernah menjalani operasi rahim di masa lalu. Dengan memberitahu dokter, maka mereka akan memantau kondisi kehamilan Moms dengan seksama selama kehamilan.

Baca Juga:Ketahui 3 Bahaya Merokok Saat Hamil, Ayo Distop!

4. Fungsi Ari-ari Bayi yang Sehat

fungsi ari-ari bayi.png

Foto: gomidwife.com

Ari-ari bayi yang sehat tentu akan membantu Si Kecil di dalam perut agar juga lebih sehat hingga waktunya dia keluar melalui persalinan. Berikut ini adalah apa yang dilakukan ari-ari bayi untuk menjaga kondisi Si Kecil di perut Moms.

Memasok Oksigen dan Nutrisi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dikutip dari Healthline bahwa plasenta atau ari-ari bayi adalah organ yang tumbuh di rahim selama kehamilan.

Masalah disfungsi ari-ari bayi merupakan komplikasi kehamilan yang jarang terjadi namun bisa serius bila dibiarkan.

Misalnya, terjadi ketika ari-ari bayi tidak berkembang dengan baik atau rusak. Selain itu bisa juga gangguan aliran darah yang ditandai dengan berkurangnya pasokan darah Moms atau terjadi ketika suplai darah Moms tidak meningkat secara memadai pada pertengahan kehamilan.

Lantas ketika ari-ari bayi tidak berfungsi, maka organ ini tidak dapat memasok oksigen dan nutrisi yang cukup kepada Si Kecil di perut.

Tanpa dukungan vital ini, Si Kecil tidak dapat tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya dapat menyebabkan berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan cacat lahir.

Mendiagnosis masalah ini sejak dini sangat penting untuk kesehatan Moms dan Si Kecil, agar tidak terjadi peningkatan risiko komplikasi bagi Moms.

Melindungi Si Kecil dari Bakteri dan Kuman

Ari-ari bayi juga memiliki peran penting dalam produksi hormon. Organ ini dapat melindungi janin dari bakteri dan infeksi berhaya. Ari-ari yang sehat, akan terus tumbuh sepanjang kehamilan.

American Pregnancy Association memperkirakan bahwa ari-ari bayi memiliki berat 1 - 2 pon atau 500 gr - 1 kg pada saat kelahiran. Organ ini akan ikut dikeluarkan selama persalinan.

Menurut Mayo Clinic, ari-ari bayi akan keluar dalam waktu antara 5-30 menit setelah Si Kecil dilahirkan.

Baca Juga: 3 Tanda Janin Kekurangan Oksigen, Waspada, Moms!

5. Risiko Konsumsi Ari-ari Bayi

risiko makan ari-ari bayi

Foto: Orami Photo Stock

Moms pernahkan mendengar bahwa beberapa orang ada yang percaya akan manfaat dari memakan ari-ari bayi? Rupanya, hal aneh ini sudah menjadi sesuatu yang biasa dilakukan oleh para wanita dibeberapa negara lain.

Beberapa mempercayai bahwa nutrisi yang telah berpindah dari ibu ke janin selama berbulan-bulan kehamilan, masih dikemas baik di dalam organ berdarah atau ari-ari bayi dan tidak boleh disia-siakan.

Alih-alih dibuang, ari-ari bayi baik olahan atau mentah dipercaya dapat memenuhi apa yang dibutuhkan oleh sang ibu saat pulih dari melahirkan dan mulai menyusui. Dan itu berarti, khasiat ini diperoleh dengan cara memakannya.

Lantas, Moms mungkin bertanya-tanya apakah Moms juga harus melakukannya? Atau apakah memakan ari-ari bayi ini merupakan sesuatu hal yang aman dilakukan secara medis dan memiliki banyak khasiat tersembunyi yang tidak kita ketahui?

Membahayakan Si Kecil

Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, Dokter Spesialis Ginekologi Mary L. Marnach, M.D., menyebutkan bahwa memakan ari-ari bayi setelah melahirkan ternyata bisa membahayakan Moms dan bayi Moms sendiri.

Selain diolah menjadi kapsul dengan mengukus dan mengeringkannya, ada juga orang yang diketahui mengkonsumsi ari-ari bayi saat mentah atau diolah menjadi smoothie atau ekstrak cair.

"Persiapan atau proses pengolahan ini tidak sepenuhnya menghancurkan bakteri dan virus menular yang mungkin terkandung di dalam ari-ari bayi," kata dokter asal New York tersebut.

Mary mengungkapkan bahwa hal ini juga sudah diperingatkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yang mana melarang konsumsi kapsul berisi ari-ari bayi.

Hal ini dikarenakan terdapat kasus bayi baru lahir yang mengidap Bakteri Streptococcus grup B atau sering disebut juga GBS. GBS adalah bakteri yang biasa ditemukan di usus atau saluran kelamin.

Rupanya hal ini terjadi setelah Moms dari bayi tersebut mengambil atau mengonsumsi kapsul berisi ari-ari sang bayi yang mengandung GBS dan menyusui bayinya yang baru lahir.

Moms juga perlu tahu dan ingat bahwa GBS dapat menyebabkan penyakit serius pada bayi baru lahir, sehingga larangan konsumsi ari-ari bayi ini tidak boleh disepelekan.

Berisiko untuk Diri Sendiri

Hal yang sama bahwa ari-ari bayi mudah terkontaminasi bakteri lainnya atau tidak hanya GBS, juga diungkapkan oleh Titi Otunla, seorang bidan bersertifikat di Rumah Sakit Ibu dan Anak di Houston, Texas.

Menurutnya, ari-ari bayi berfungsi sebagai filter yang bisa menjauhkan kotoran berbahaya dari bayi. Namun, beberapa kotoran masih bisa terkandung dalam ari-ari setelah melahirkan.

"Sementara plasenta berada di dalam rahim, itu hampir seperti filter, menyaring hal-hal yang seharusnya tidak didapat bayi, termasuk bakteri. Lalu kemudian Anda akan menelannya, itu terdengar tidak tepat," ujarnya seperti dikutip dari Parents.com.

Khasiatnya Belum Diuji Klinis

Orang yang mendukung konsumsi ari-ari bayi mengatakan bahwa hal ini dapat meningkatkan energi dan jumlah ASI Moms. Mereka juga mengatakan konsumsi ari-ari bayi bisa memacu hormon, menurunkan peluang Moms dari depresi pascapersalinan dan insomnia.

Namun dikutip dari WebMD, klaim tersebut belum sepenuhnya diuji. Sehingga tidak ada bukti bahwa mengkonsumsi ari-ari bayi benar-benar akan membuat Moms menjadi lebih baik.

Akan tetapi, diakui memang oleh beberapa ahli bahwa mereka masih harus terus mempelajarinya. Sayangnya, karena penelitian konsumsi ari-ari bayi ini sangat sedikit, sulit untuk mengetahui dampak setelah melakukannya.

Kebanyakan Moms yang ingin atau berharap untuk merasa baik atau lebih baik setelah mengkonsumsi ari-ari bayi, memang merasakan hal yang diharapkan tersebut. Namun, banyak anggapan itu mungkin hanya efek plasebo.

Dalam studi baru yang diungkap American Association for the Advancement of Science, para peneliti menyimpulkan bahwa para Moms baru yang mengonsumsi ari-ari bayi mereka tidak mengalami perubahan signifikan dalam suasana hati, tingkat energi, kadar hormon, atau ikatan dengan bayi baru mereka.

"Ini benar-benar menunjukkan bahwa sebagian besar dari apa yang terjadi, hanyalah efek plasebo," kata Mark Kristal, seorang ilmuwan tentang perilaku saraf di State University of New York di Buffalo. Mark sendiri telah mempelajari praktik placentophagy, termasuk pada hewan selama lebih dari 40 tahun.

Pertimbangkan Bila Ingin Memakannya

Meskipun tampaknya tidak ada bukti bahwa mengonsumsi ari-ari bayi dapat membantu Moms menjadi lebih baik atau sebaliknya, justru merasa menjadi lebih buruk. Perlu Moms ingat bahwa ketika memilih untuk memakannya dengan cara 'segar' atau mentah, maka hal ini berbahaya karena terindikasi dapat menularkan infeksi seperti yang sudah dikatakan oleh para pakar atau dokter berkaitan.

Selain itu, beberapa rumah sakit juga mungkin tidak mengizinkan Moms untuk mengambil agar bisa mengonsumsinya. Jadi jika Moms benar-benar ingin mempertimbangkan konsumsi ari-ari bayi ini, tanyakan sebelumnya tentang kebijakan rumah sakit.

Artikel Terkait