NEWBORN
9 April 2019

Faktor Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah dan Pencegahannya

Selain penting menjaga asupan nutrisi semasa hamil, ada hal lain yang perlu Moms perhatikan!
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Amelia Puteri

Setiap ibu tentu ingin agar buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan optimal, karenanya penting memberikan asupan nutrisi yang terbaik sejak dalam kandungan.

Salah satu kekhawatiran terbesar orangtua, adalah ketika berat badan bayi yang baru lahir terlalu rendah.

Moms mungkin merasa telah memilih makanan dengan nutrisi yang dibutuhkan, tetapi bingung mengapa berat badan Si Kecil yang baru lahir justru rendah.

Dikatakan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) jika bayi tersebut mempunyai berat badan lahir di bawah 2500 gram. Ini karena kelahiran prematur (bayi lahir dengan usia kehamilan < 38 minggu), atau pertumbuhan janin terhambat (PJT), atau kombinasi keduanya.

Bayi dengan BBLR mempunyai risiko kesakitan dan kematian yang tinggi saat kelahiran hingga usia 1 tahun. Gangguan pertumbuhan janin selama dalam kandungan akan mengganggu pertumbuhan otak janin, pertumbuhan serta perkembangan setelah lahir seperti gangguan belajar, cerebral palsy, hingga kematian bayi mendadak (SIDS/Sudden Infant Death Syndrome).

Di Indonesia sendiri, menurut data Riskesdas 2018, proporsi BBLR pada anak usia 0-59 bulan sejak 2013-2018 sebesar 6.2 persen (Target RPJMN 2019 adalah 8 persen), dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak dari laki-laki dan dengan persentase yang hampir sama di perkotaan maupun pedesaan.

Sementara bayi yang lahir pendek (<48 cm) menunjukkan peningkatan di tahun 2018 menjadi 22.7 persen dibandingkan tahun 2013, sebesar 20.2 persen.

Proporsi ukuran lingkar kepala saat lahir 33-37 cm pada anak usia 0-59 bulan sebesar 58.4 persen dan lingkar kepala <37 cm, sebesar 40.6 persen.

Moms perlu mengetahui, ada beberapa faktor yang bisa membuat bayi baru lahir memiliki berat badan yang rendah. Dokter Spesialis Anak di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr. Fransiska Farah, Sp. A, M.Kes, menjelaskan beberapa faktornya.

Baca Juga: 3 Cara Mencegah Berat Badan Turun di Trimester Pertama Kehamilan

Faktor Berat Badan Bayi Baru Lahir Rendah 

Foto: marieclaire.co.uk

1. Faktor Ibu

Ibu juga berpengaruh terhadap BBLR bayi, akan lebih berisiko jika seorang ibu berusia di bawah 18 tahun, dan di atas 35 tahun. Selain itu, BBLR lebih berisiko jika banyak kehamilan dan jarak antar kelahiran kurang dari 18 bulan.

Tak hanya itu, adanya riwayat kelahiran prematur, riwayat BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan riwayat PJT (Pertumbuhan Janin Terhambat) juga jadi pengaruh Si Kecil lahir dengan berat badan rendah.

2. Faktor Nutrisi

Selama kehamilan, ada nutrisi yang penting Moms konsumsi untuk mendukung tumbuh kembang janin yang optimal.

Jika Moms kekurangan asupan protein, dan mikronutrien seperti zat besi, asam folat, kalsium, magnesium, vitamin D, zinc, multivitamin (vitamin A, B kompleks, C, E), dan minyak ikan, dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah.

3. Faktor Antropometri (Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia)

- Faktor ini menekankan kepada apakah berat badan Moms selama kehamilan berlebih atau berkurang.

- Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm

- Berat badan ibu sebelum hamil (kurus/gemuk)

The US Institute of Medicine menyarankan kenaikan berat badan pada ibu selama kehamilan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT):

- IMT < 19.8 kenaikan BB yang disarankan 28 - 40lb, (12-18kg)

- IMT 19.8 - 26 kenaikan BB yang disarankan 25 - 35lb, (11-15kg)

- IMT 26.1 – 29 kenaikan BB yang disarankan 15 - 25lb (7-11kg)

- IMT > 29 kenaikan BB yang disarankan 15lb (7 kg)

4. Faktor Medis

Kesehatan Moms secara umum, juga jadi faktor Si Kecil lahir dengan berat badan rendah. Seperti infeksi bakteri, jamur, infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual, gigi.

Termasuk juga hipertensi, penyakit jantung, riwayat kehamilan banyak dan masalah psikis/stres pada ibu.

Serta faktor medis lainnya seperti lingkungan: rokok (perokok aktif, pasif), polusi; faktor rahim; faktor plasenta; pasangan; kelahiran kembar.

Pencegahan BBLR

Foto: mommydocs.com

Ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk mencegah dan menghindari BBLR pada Si Kecil.

Dokter Fransiska menjelaskan, Moms harus memerhatikan dan meningkatkan asupan nutrisi dengan gizi seimbang saat sebelum dan selama masa kehamilan, serta mencapai kenaikan berat badan yang cukup selama hamil.

Karenanya, Moms perlu rutin melakukan pemeriksaan kandungan dan kesehatan sebelum dan selama hamil untuk mendapatkan pengawasan dan pengobatan, terutama pada ibu dengan riwayat kelahiran BBLR sebelumnya.

Hindari juga paparan rokok, polusi serta zat berbahaya lainnya. Jika Moms hendak memiliki anak lebih dari satu, perhatikan jarak antar kehamilan yang aman, karena bila jarak antar kehamilan dekat (kurang dari 18 bulan) bisa meningkatkan risiko kelahiran bayi dengan BBLR.

Baca Juga: 8 Gejala Kehamilan Paling Memalukan!

Penanganan BBLR

ibuhamil2

Foto: medicalnewstoday.com

Jika Si Kecil lahir dengan berat badan rendah, jangan khawatir dan panik, ada beberapa langkah yang bisa Moms lakukan.

Moms bisa terus memberikan ASI karena ASI adalah nutrisi yang terbaik untuk semua bayi termasuk bayi BBLR atau pada bayi prematur.

Pada bayi prematur, pemberian ASI memberikan kenaikan berat badan yang baik karena mudah dicerna, mengurangi kejadian infeksi pada bayi baru lahir, mengurangi lama dirawat di rumah sakit dan kembali rawat di rumah sakit.

ASI juga melindungi bayi terhadap kerusakan retina mata karena lahir prematur, meningkatkan pertumbuhan tulang dan mineral tubuh dan merupakan faktor pelindung terhadap penyakit jantung dan paru akibat prematuritas.

Pemberian ASI meningkatkan perbaikan pertumbuhan saraf bayi pada tahun-tahun berikutnya, meningkatkan nilai IQ, memiliki kemampuan respon berbahasa yang baik pada usia 3 tahun.

Dengan ASI, bisa memperbaiki kemampuan kognitif, tingkah laku dan kemampuan akademik, meningkatkan volume otak serta memperbaiki perkembangan mental, psikomotor dan perilaku.

Untuk penanganan selanjutnya, Moms bisa membawa Si Kecil secara rutin ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan penting juga melengkapi imunisasi Si Kecil.

(AP/INT)

Artikel Terkait