PROGRAM HAMIL
21 Januari 2019

5 Faktor Penyebab Gagalnya Inseminasi Buatan

Proses ini tak selalu berhasil, karena ada beberapa faktor yang membuatnya gagal
Artikel ditulis oleh -
Disunting oleh -

IUI atau inseminasi intrauterin juga disebut inseminasi buatan adalah jenis perawatan kesuburan.

Hal ini merupakan proses ditempatkannya sperma di dalam rahim perempuan melalui kateter selama ovulasi untuk memudahkan pembuahan.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah sperma yang mencapai tuba fallopi sehingga meningkatkan kemungkinan pembuahan.

Sayangnya, proses ini tak selalu berhasil ada beberapa faktor yang membuatnya gagal seperti:

Usia

Seperti kebanyakan perawatan kesuburan lainnya, bertambahnya usia wanita dari 35 tahun ke atas akan menurunkan tingkat keberhasilan.

Karena sebenarnya kualitas telur cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Pada usia 18 tahun, seorang perempuan memiliki peluang hamil 25 persen.

Pada usia 40 peluangnya menurun menjadi sekitar 4 hingga 6 persen.

Seorang perempuan juga memiliki lebih sedikit telur atau cadangan ovarium seiring bertambahnya usia karena banyak telah digunakan dengan siklus sebelumnya.

Kualitas Sel Telur

Hanya karena seorang perempuan berovulasi tidak berarti ia memiliki sel telur yang berkualitas.

Sel telur berkualitas rendah memiliki permasalahan internal seperti masalah kromosom atau masalah dengan produksi energi.

Seorang perempuan dilahirkan dengan sekitar 1 juta sel telur, namun sayangnya sejauh ini belum ada yang dapat meningkatkan kualitas telur.

Selain itu, telur yang dikeluarkan mungkin belum matang dan karena itu tidak dapat dibuahi.

Selama siklus normal, hormon-hormon tertentu mempersiapkan telur untuk memiliki kemampuan untuk dibuahi.

Baca Juga: Apakah Kesibukan Pekerjaan Dapat Memengaruhi Program Hamil?

Saluran Tuba Tersumbat

Saluran tuba yang tersumbat dapat terjadi dari banyak faktor seperti PMS, infeksi rahim yang disebabkan oleh aborsi atau keguguran, usus buntu yang pecah, kehamilan ektopik, atau endometriosis.

Jika tabung tersumbat, ada penghalang fisik yang mencegah telur dan sperma bersentuhan.

Untungnya tes HSG, meskipun invasif dan menyakitkan, dapat mendeteksi ini.

Sering kali cairan yang disuntikkan ke dalam rahim selama prosedur dapat membuka blokir tabung.

Jika gagal, terkadang diperlukan operasi laparoskopi untuk mengangkat jaringan parut.

Waktu yang Tidak Tepat

Pengaturan waktu sangat penting. Setelah telur dilepaskan dari ovarium, mereka hanya memiliki sekitar 12 jam untuk dibuahi.

Jika pembuahan gagal, telur akan hancur. Meski berita baiknya adalah sperma dapat bertahan selama beberapa hari di dalam rahim perempuan.

Bila hubungan seksual terjadi beberapa hari sebelum pembuahan, sperma sudah dapat berada di sana untuk menunggu sel telur.

IUI memiliki keuntungan membantu sperma mencapai target lebih cepat, tapi jika sel telur belum matang atau sudah mati prosedur akan gagal.

Untuk memastikan hal ini tidak terjadi, penting bagi perempuan tersebut untuk melakukan beberapa tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang mengindikasikan dia sedang berovulasi.

Baca Juga: Apa Bedanya Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan?

Kualitas Sperma Kurang Baik

Meskipun mungkin ada sperma yang cukup, tapi jika kualitasnya kurang baik maka mungkin sperma tersebut tidak memiliki kemampuan fisik untuk menembus sel telur untuk membuahinya.

Ini biasanya disebabkan oleh kelainan pada sperma.

Banyak penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan yang buruk untuk IUI dengan kualitas sperma yang buruk.

Sayangnya tidak ada perawatan medis yang diketahui untuk meningkatkan kualitas sperma.

Itulah tadi beberapa faktor yang menyebabkan inseminasi buatan menjadi tidak berhasil, karenanya sebelum melakukan proses tersebut sebaiknya penuhi dulu kriteria yang dibutuhkan.

(MDP)

Artikel Terkait