BAYI
16 Juli 2020

5 Faktor Risiko Bayi Terkena Asma, Wajib Tahu!

Ternyata, polusi juga jadi faktor risiko bayi terkena asma lho Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Mengi, batuk, dan bernafas cepat adalah beberapa tanda bahwa bayi berisiko asma. Asma adalah kondisi kronis yang menyebabkan peradangan saluran napas dan sensitivitas terhadap iritasi.

Dokter dapat mengobati asma pada bayi dengan obat-obatan yang membantu membuka saluran udara.

Meskipun mencegah asma pada bayi tidak selalu berhasi, Moms bisa menghindari pemicu asma seperti asap, bulu hewan peliharaan, serbuk sari, dan paparan tungau debu. Menghindari beberapa hal tersebut dapat membantu mengurangi gejala asma.

Menurut Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA), sekitar setengah dari semua anak-anak yang memiliki asma menunjukkan beberapa tanda-tanda kondisi teretentu sebelum mencapai usia 5 tahun.

Mengenali asma pada bayi dan mencari pertolongan medis dapat memungkinkan Moms untuk memberikan perawatan lebih dini agar menjaga bayi bernafas dengan baik.

Baca Juga: 3 Cara Mengatasi Asma pada Bayi, Catat!

Faktor Risiko Bayi Terkena Asma

Ada beberapa hal menjadi faktor risiko asma pada bayi dan harus mendapat perhatian Moms. Berikut ulasannya..

1. Riwayat Asma Keluarga

faktor risiko bayi asma

Foto: Orami Photo Stock

AAFA menyebutkan bahwa riwayat keluarga dengan asma atau alergi membuat peluang bayi berisiko terkena asma jadi lebih besar.

Asma cenderung menurun dalam keluarga. Sejarah keluarga adalah salah satu faktor yang sering diabaikan. Asma disebabkan oleh banyak gen berbeda yang diwarisi dari orang tua lalu berinteraksi dengan lingkungan.

Penurut Michigan Department of Community Health, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak-anak yang didiagnosis menderita asma memiliki riwayat keluarga asma.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa risiko seseorang menderita asma lebih tinggi jika dia memiliki orang tua dan saudara kandung asma.

2. Ibu Merokok saat Hamil

faktor risiko bayi asma

Foto: Orami Photo Stock

Ibu yang merokok saat hamil juga kemungkinan besar akan membuat bayi dalam kandungannya berisiko terkena asma. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bayi yang ibunya merokok saat hamil atau yang terpapar asap rokok setelah lahir memiliki paru-paru yang lebih lemah daripada bayi lain, yang meningkatkan risiko banyak masalah kesehatan.

Bukan hanya itu, ibu yang merokok cenderung melahirkan bayinya lebih awal. Persalinan prematur adalah penyebab utama kematian, kecacatan, dan penyakit pada bayi baru lahir

Satu dari setiap lima bayi yang lahir dari ibu yang merokok selama kehamilan memiliki berat badan lahir rendah. Ibu yang terpapar asap rokok saat hamil lebih mungkin memiliki bayi berat lahir rendah. Bayi yang lahir terlalu kecil atau terlalu dini tidak sehat.

Bayi yang ibunya merokok saat hamil dan bayi yang terpapar asap rokok setelah lahir lebih mungkin meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) daripada bayi yang tidak terpapar asap rokok. Bayi yang ibunya merokok sekitar tiga kali lebih mungkin meninggal akibat SIDS.

3. Infeksi Virus pada Saluran Pernapasan

Asma pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Infeksi virus pada saluran pernapasan adalah salah satu penyebab paling umum dari gejala asma pada anak berusia 5 tahun ke bawah. Meskipun orang dewasa dan anak-anak sama-sama bisa mengalami infeksi saluran pernapasan, anak-anak mengalami dampak yang lebih buruk.

Beberapa anak prasekolah sering mendapatkan infeksi virus ini. Setidaknya setengah dari anak-anak dengan asma menunjukkan tanda-tanda itu sebelum usia 5 tahun. Virus adalah penyebab paling umum dari episode asma akut pada bayi berusia 6 bulan atau lebih muda.

Baca Juga: 8 Gejala Asma pada Bayi, Waspada!

4. Terpapar Polusi

Ini 2 Hal yang Akan Membuat Bayi Berisiko Asma -1.jpg

Foto: Thestar.com

Sekitar 4 juta anak didiagnosis menderita asma setiap tahun karena menghirup udara yang tercemar, menurut penelitian baru. Kasus asma pada anak telah melonjak sejak pertengahan 50-an, dan kondisi ini sekarang merupakan penyakit tidak menular yang paling umum yang menyerang anak-anak di seluruh dunia.

Studi baru melihat efek nitrogen dioksida (NO2), yang merupakan penyebab utama polusi udara terkait lalu lintas. Penulis studi menganalisis data dari 2010 hingga 2015 di 125 kota di 194 negara.

Para peneliti mengatakan kemungkinan polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas dapat menyebabkan saluran udara pada anak-anak menjadi meradang. Ini bisa memicu asma berkembang pada bayi yang berisiko genetik untuk penyakit ini.

Dari 4 juta kasus asma anak di seluruh dunia, sekitar 64 persen berasal dari anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Daerah kaya, termasuk Amerika Utara, Eropa Barat dan Asia-Pasifik, memiliki tingkat NO2 yang tinggi.

Tiongkok memiliki jumlah polusi udara dan kasus asma anak terbesar, dengan 760.000 kasus per tahun. India dan AS mengikuti, masing-masing dengan 350.000 dan 240.000 kasus.

Laporan tersebut menunjukkan, Meskipun terdapat penurunan substansial dalam konsentrasi NO2 selama dekade terakhir di wilayah besar AS dan Eropa Barat, namun temuan riset menunjukkan bahwa tingkat polusi NO2 ambien adalah faktor risiko substansial untuk kejadian asma pediatrik di negara maju dan berkembang, terutama di perkotaan daerah.

5. Terpapar dari Produk Pembersih

Ini 2 Hal yang Akan Membuat Bayi Berisiko Asma -2.jpg

Foto: Consumeraffairs.com

Bayi yang lebih dering tinggal di rumah akan lebih sering terpapar produk pembersih, ini akan meningkatkan faktor risiko asma pada bayi selain juga maslah pernafasan lain seperti mengi berulang dan mengi berulang dengan atopi.

Risiko tertinggi masalah pernapasan dikaitkan dengan produk pembersih beraroma dan yang disemprotkan. Produk pembersih yang paling umum digunakan adalah sabun pencuci piring, deterjen pencuci piring, pembersih permukaan, pembersih kaca, dan sabun cuci.

Beberapa pembersih dapat secara signifikan meningkatkan risiko kondisi paru-paru seperti mengi atau asma, menurut penelitian. Bayi yang memiliki paparan awal terhadap produk pembersih rumah tangga dikaitkan dengan perkembangan asma anak dan mengi pada usia 3 tahun.

“Masyarakat telah mengkondisikan kita untuk percaya bahwa rumah rumah yang bersih harus tercium bersih agar menjadi 'bersih', tetapi bukan itu masalahnya,” ujar pemimpin penelitian Dr. Tim Takaro, seorang profesor ilmu kesehatan di Universitas Simon Fraser di Kanada.

Meskipun penelitian sebelumnya melihat hubungan antara produk pembersih dan asma yang berfokus pada orang dewasa, penelitian ini secara khusus mengamati bayi. Semua anak adalah peserta dalam Canadian Healthy Infant Longitudinal Development (CHILD), yang direkrut dari pusat kota Kanada.

Takaro menjelaskan, penelitian tersebut menilai seberapa sering berbagai produk pembersih rumah tangga digunakan. “Kemudian kami memeriksa perkembangan asma dan mengi berulang pada usia 3 tahun dan melihat apakah paparan penggunaan produk pembersih rumah tangga mereka berbeda di awal kehidupan," jelasnya.

Hasilnya, studi ini menemukan bahwa bayi dan anak-anak yang tinggal di rumah dengan penggunaan produk pembersih yang lebih besar selama masa bayi meningkatkan kemungkinan mengi berulang, mengi berulang dengan atopi, dan diagnosis asma pada usia 3 tahun. "Produk pembersih adalah paparan sederhana yang dapat dikontrol dan diminimalkan oleh orang tua untuk mengurangi risiko anak mereka terserang penyakit pernapasan," kata Tim.

Baca Juga: Lingkungan Kotor Turunkan Risiko Alergi dan Asma pada Bayi

Itulah beberapa faktor risiko bayi terkena asma yang perlu Moms ketahui. Ada yang tidak bisa terhindarkan. Tapi ada juga yang bisa Moms cegah.

Artikel Terkait