KESEHATAN
11 Oktober 2019

Gangguan Tidur Narkolepsi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Bisa jatuh tertidur kapan saja, tanpa peringatan
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Kita mungkin sering mendengar bahkan mungkin tidak sedikit dari Moms yang mengalami jenis gangguan tidur yang disebut insomnia. Tapi ternyata gangguan tidur tidak hanya insomnia lho Moms. Ada juga yang disebut narkolepsi.

Hampir serupa dengan insomnia, di mana penderitanya tidak bisa tidur di malam hari. Namun, narkolepsi ini menyebabkan kantuk yang berlebihan di siang hari.

Pada beberapa kasus, seseorang bahkan bisa tiba-tiba jatuh tertidur di siang hari, sekalipun yang bersangkutan tengah beraktivitas, bahkan saat sedang berbicara dengan orang lain. Wah bahaya juga ya Moms.

Untuk itu, yuk kita kenali lebih jauh gangguan tidur narkolepsi ini.

Narkolepsi adalah kelainan neurologis kronis yang memengaruhi kontrol tidur dan bangun. Ini menyebabkan tidur malam yang terfragmentasi dan kantuk di siang hari yang berlebihan. Narkolepsi sering juga dianggap hipersomnia, atau gangguan tidur yang ditandai dengan kantuk berlebihan di siang hari.

Dalam siklus tidur yang khas, seseorang memasuki tahap awal tidur, diikuti oleh tahap tidur yang lebih dalam selama 90 menit di mana akhirnya tidur REM (Rapid Eye Movement) terjadi.

"Untuk orang-orang dengan narkolepsi, tidur REM terjadi dalam waktu 15 menit dalam siklus tidur, dan sebentar-sebentar selama jam-jam tertentu akan terjaga. Dalam tidur REM itulah mimpi dan kelumpuhan otot terjadi," jelas Dr. Deborah Weatherspoon dari Walden University seperti dikutip dari medicalnewstoday.com.

Narkolepsi dapat berkisar dari tingkat keparahan mulai dari ringan hingga berat. Dalam kasus yang parah, gangguan tidur ini bisa berdampak negatif pada kegiatan sosial, sekolah, pekerjaan, dan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Bayangkan, seseorang dengan narkolepsi dapat tertidur kapan saja, misalnya, saat berbicara atau bahkan mengemudi.

Gejala-gejala narkolepsi cenderung muncul pada usia remaja atau awal 20-an dan 30-an. Baik pria dan perempuan sama-sama rentan terkena gangguan tidur ini.

Baca Juga: Ketahui 5 Jenis Gangguan Tidur yang Berbahaya Bagi Balita

Jenis-jenis Naskolepsi

Sleeping .jpg

Ada tiga jenis narkolepsi, yakni:

Tipe 1: Narkolepsi dengan cataplexy atau kelemahan otot yang tiba-tiba di wajah, leher, dan lutut

Tipe 2: Narkolepsi tanpa cataplexy, yang terutama melibatkan kantuk di siang hari yang berlebihan

Narkolepsi sekunder: Ini dapat terjadi akibat cedera pada hipotalamus, yakni bagian otak yang terlibat dalam tidur.

Penyebab Narkolepsi

Daylight sleeping.jpg

Hingga saat ini, penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi narkolepsi mungkin merupakan penyakit autoimun yang diturunkan dan mengarah pada defisiensi hypocretin, atau orexin, bahan kimia yang dibutuhkan otak untuk tetap terjaga.

"Bisa juga terjadi karena adanya disposisi genetik, yang berarti gangguan tidur ini memang menurun dalam keluarga,"kata Dr Weatherspoon.

Hypocretin adalah neurotransmitter atau bahan kimia pensinyalan saraf. Ini mengontrol apakah kita tidur atau bangun dengan bertindak pada kelompok sel saraf yang berbeda, atau neuron di otak. Itu dibuat di daerah hipotalamus otak.

Kebanyakan orang dengan narkolepsi tipe 1 memiliki kadar hormon yang rendah, tetapi mereka yang memiliki tipe 2 tidak.

Hipokretin diperlukan untuk membantu kita tetap terjaga. Ketika itu tidak tersedia, otak memungkinkan fenomena tidur REM mengganggu ke dalam periode bangun normal.

Akibatnya, orang-orang dengan narkolepsi mengalami kantuk yang berlebihan di siang hari dan masalah tidur di malam hari.

Dalam gangguan autoimun, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dirinya sendiri dan melawan sel-sel sehat seolah-olah mereka adalah penjajah asing.

Penyakit autoimun lainnya termasuk rheumatoid arthritis, diabetes tipe 1, dan penyakit celiac. Selain itu, cedera otak, tumor, atau penyakit lain yang memengaruhi otak terkadang dapat menyebabkan narkolepsi.

Baca Juga: Kenali 6 Penyebab Gangguan Tidur Saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Gejala Narkolepsi

Jatuh tertidur tiba2.jpg

Gejala utama narkolepsi adalah mengantuk berlebihan di siang hari (EDS). Selain itu, ada juga beberapa gejala tambahan. Berikut daftarnya.

1. Kantuk yang Berlebihan di Siang Hari

Ini adalah perasaan mengantuk yang datang terus-menerus sehingga mengarah pada kecenderungan untuk tertidur pada interval sepanjang hari, seringkali pada waktu yang tidak tepat.

Ini dikenal sebagai serangan tidur. Hal tersebut dapat menyebabkan kabut otak, konsentrasi yang buruk, penurunan energi, penyimpangan memori, kelelahan, dan suasana hati yang depresi.

2. Halusinasi Hypnogogic

Jenis halusinasi ini biasanya terasa cukup nyata. Biasanya, halusinasi sensorik yang menakutkan ini terjadi saat tertidur. Ini bisa disebabkan oleh perpaduan terjaga dan bermimpi yang terjadi dengan tidur REM.

3. Cataplexy

Cataplexy adalah kelemahan otot yang tiba-tiba di wajah, leher, dan lutut. Beberapa orang hanya memiliki kelemahan ringan, seperti kepala atau rahang yang jatuh (jaw drop), tetapi beberapa orang bahkan benar-benar jatuh ke tanah.

Episode-episode ini seringkali dipicu oleh emosi yang kuat, seperti kejutan, tawa, atau kemarahan. Kelemahannya sementara, berlangsung 2 menit atau kurang.

4. Kelumpuhan Tidur atau Sleep Paralysis

Ini adalah ketidakmampuan singkat untuk bergerak atau berbicara saat tertidur atau bangun. Episode ini dapat berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit.

Setelah episode berakhir, penderita narkolepsi biasanya dengan cepat memulihkan kapasitas penuh mereka untuk bergerak dan berbicara.

Perilaku otomatis juga dapat terjadi. Seseorang mungkin tertidur sebentar tetapi terus melakukan aktivitas sebelumnya, seperti mengemudi, tanpa sadar.

Baca Juga: Ini 5 Gangguan yang Membuat Si Kecil Susah Tidur Nyenyak

Pengobatan Narkolepsi

Sleeping.jpg

Sayangnya, tidak ada obat untuk narkolepsi, tetapi obat-obatan dapat membantu mengelola gejalanya. Stimulan dapat mengobati kantuk sedangkan antidepresan dapat mengobati gejala cataplexy dan tidur REM yang abnormal.

1. Rasa Kantuk

Rasa kantuk yang berlebihan bisa diobati dengan stimulan seperti amphetamine, seperti dexamphetamine, methylphenidate, atau modafinil.

Obat-obatan ini adalah terapi lini pertama karena biayanya rendah, ketersediaannya, dan tingkat kemanjurannya lebih tinggi.

Tapi efek samping termasuk lekas marah atau cemas, dan susah tidur, sementara modafinil dapat menyebabkan sakit kepala dan mual.

2. Cataplexy

Cataplexy dapat dikurangi dengan obat antidepresan, yang menekan tidur REM. Clomipramine digunakan untuk mengobati narkolepsi. Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dan reuptake inhibitor selektif norepinefrin (SNRI) mungkin juga efektif.

Efek sampingnya mungkin termasuk mulut kering, sembelit, dan penglihatan kabur.

Kemudian, sodium oxybate dapat meredakan kantuk, tidur malam yang buruk, dan cataplexy. Ini memiliki sedikit efek samping dan sedikit interaksi dengan obat lain.

Yang jelas penderita narkolepsi dengan cataplexy ini harus menghindari aktivitas apa pun yang dapat menimbulkan ancaman kesehatan, seperti menggunakan mesin atau mengemudi, sampai cataplexy ini bisa dikendalikan.

Treatment yang paling efektif dari narkolepsi adalah kombinasi dari obat-obatan dan perubahan perilaku. Orang yang didiagnosis dengan narkolepsi harus mencari konseling melalui jaringan pendidikan dan support group.

Dengan perpaduan pengobatan medis dan psikis, bukan tidak mungkin penderita narkolepsi bisa menjalani hidup dengan normal dan produktif.

Moms, masalah tidur ini memang kerap dianggap sepele, tapi nyatanya dampaknya besar ya. Jika Moms mengalami beberapa gejala di atas, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter ya.

(SERA)

Artikel Terkait