PERNIKAHAN & SEKS
5 November 2019

Depresi pada Suami, Lakukan Hal Ini untuk Meringankannya

Gejala depresi bisa dialami oleh siapa saja, termasuk suami
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Sebenarnya wajar saja jika seseorang mengalami stres, namun stres yang tidak dikelola dengan baik dan dibiarkan menumpuk, berpotensi untuk sebabkan depresi.

Suami, yang menjadi kepala rumah tangga dan mempunyai kewajiban serta tanggung jawab yang besar, juga pasti rentan mengalami stres.

Jika ia hanya menyimpan rasa stres tersebut sendirian dan membiarkan semua menumpuk, maka depresi bisa terjadi. Sayangnya, seseorang yang depresi kadang tidak menyadari gejala-gejala yang ada atau menyembunyikannya.

Alasannya, karena laki-laki dianggap bisa untuk mengendalikan emosi sehingga enggan membicarakan keadaan hatinya pada pasangan.

Padahal, pria yang menderita depresi empat kali lebih tinggi untuk berisiko melakukan bunuh diri daripada wanita. Oleh sebab itu, Moms harus lebih waspada terhadap gejala depresi yang muncul di diri suami.

Baca Juga: Suami Depresi Bisa Mempersulit Peluang Istri untuk Hamil

Gejala Depresi pada Suami

depresi pada suami

“Di luar mungkin ia bisa terlihat kuat dan tidak terjadi masalah. Namun, seseorang yang mulai mengalami gejala depresi biasanya takut untuk membicarakan apa yang ia rasakan dan tidak ingin memikirkannya,” ujar Dr. Margaret Rutherford, psikolog klinis di Fayetteville, Arkansas.

Untuk itu, Moms bisa memerhatikan gejala depresi berikut ini yang dapat dialami oleh suami, yaitu:

  1. Sulit fokus untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang paling umum untuk dilakukan.
  2. Muncul gejala fisik seperti sakit punggung, sakit kepala, punya masalah tidur, disfungsi seksual, dan gangguan pencernaan.
  3. Mudah marah bahkan tanpa sebab yang jelas. Ia juga jadi kehilangan selera humor, mudah tersinggung, dan parahnya bisa melakukan kekerasan.
  4. Melakukan tindakan sembrono atau perilaku yang berisiko, seperti menyetir dengan ceroboh, melakukan hubungan seksual berisiko, atau melakukan olahraga yang berbahaya.
  5. Sulit untuk mengungkapkan tentang perasaannya, apakah ia sedang merasa sedih, senang, atau marah.

Baca Juga: Gejala Depresi dan Kelelahan Hampir Sama, Ini Cara Bedakannya

Pengaruh Depresi pada Suami Terhadap Pernikahan

Depresi pada Suami

Moms, jangan mengacuhkan kondisi suami yang sudah menunjukkan gejala-gejala depresi. Menurut Fran Walfish, psikoterapis di Beverly Hills, ketika salah satu pasangan mengalami depresi, maka pernikahan juga bisa menjadi depresif.

Jika suami mengalami depresi dan dibiarkan terlalu lama, maka ada risiko sang istri juga mengalami hal yang sama.

“Kondisi depresi bisa mengikis keintiman antara suami dan istri baik secara emosional dan seksual. Hubungan menjadi penuh kemarahan, pesimisme, dan kebencian. Hal ini dapat membuat pasangan suami istri menjadi tertekan, yang fatalnya berujung perceraian,” ujar Fran, menjelaskan.

Cara terbaik untuk mengatasi depresi adalah meminta bantuan kepada psikolog atau dokter. Tapi kenyataannya, hanya 33 persen orang yang depresi mencari dan mendapatkan bantuan.

Padahal, ketika sudah didiagnosis dan dirawat, maka peluang untuk bisa sembuh sebanyak 80 sampai 90 persen.

Meringankan Depresi pada Suami

depresi pada suami

Di saat depresi, suami membutuhkan dukungan dan dampingan dari istri agar ia tidak merasa melewatinya sendirian.

Belajar untuk mendengarkan dan memahami kemauan suami serta menyadari apa yang sedang mereka butuhkan saat ini.

Mungkin saja ada waktunya suami ingin punya waktu untuk sendiri dulu, jadi tidak salahnya untuk memberikan ruang sendiri kepada pasangan.

Baca Juga: Penyebab Depresi Secara Biologis dan Psikologis, Simak Penjelasannya di Sini!

Hal lainnya yang bisa Moms lakukan adalah mengajak suami untuk melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan dan bertujuan membuat tubuh serta pikirannya lebih rileks.

Pada intinya, cara menghadapi gejala depresi pada suami tentunya membutuhkan kesabaran dan kekuatan.

Cara menyelamatkan pernikahan tentunya membutuhkan usaha dari keduanya, jadi ajak suami untuk berkomunikasi secara suportif agar menemukan penyelesaian dari masalah yang ada.

Juga berusahalah untuk meyakinkan suami agar mau memeriksakan kondisinya pada psikolog atau psikiater.

(DG)

Artikel Terkait