KESEHATAN
21 Agustus 2020

Sindrom Iritasi Usus Besar: Kenali Gejala dan Penyebabnya

Apa yang biasanya akan dirasakan?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Sindrom iritasi usus besar adalah gangguan fungsional pada pencernaan yang dapat memengaruhi kinerja usus besar.

Mengutip dari jurnal Physiology, Large Intestine, usus besar memiliki 3 fungsi utama, yaitu menyerap air dan elektrolit, memproduksi dan menyerap vitamin, serta membentuk dan mendorong tinja menuju dubur untuk dieliminasi.

Mereka yang menderita sindrom iritasi usus besar, harus mengatasi masalah ini dengan mengubah pola makan dan gaya hidup, selain itu juga mengonsumsi berbagai macam obat. Namun, ini adalah kondisi kronis yang dapat dikendalikan, tetapi tidak dapat disembuhkan.

Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar

iritasi usus besar

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab sindrom iritasi usus besar masih belum jelas. Hal ini mungkin dikarenakan masalah yang beragam dan disebabkan oleh berbagai faktor pada setiap orang.

Sebagai gangguan pencernaan fungsional, iritasi ini tampaknya disebabkan oleh masalah dalam bagaimana otak dan usus berinteraksi. Otot-otot di usus besar yang memindahkan makanan yang dicerna, pada penderita iritasi ini, akan sangat sensitif terhadap rangsangan atau pemicu tertentu.

Penderita iritasi ini mungkin memiliki perbedaan dalam motilitas usus, hipersensitivitas visceral, peradangan, dan bakteri usus. Kadang-kadang iritasi berkembang setelah infeksi pada saluran pencernaan kita.

Baca Juga: Waspadai Radang Usus Buntu! Kenali Penyebab dan Gejalanya

Meskipun jenis iritasi ini secara teknis tidak disebabkan oleh stres atau emosi yang kuat, beberapa orang mengalami gejala sindrom iritasi usus besar pertama, saat mengalami periode yang penuh tekanan dalam hidup, seperti kematian seorang kerabat atau kehilangan pekerjaan.

Gejala Sindrom Iritasi Usus Besar

iritasi usus besar

Foto: nccih.nih.gov

Saat berbicara mengenai sindrom iritasi usus besar, ada sejumlah masalah pada usus yang tidak menyenangkan.

Bukan hanya itu saja, intensitas dan tingkat keparahan gejala iritasi ini bervariasi dari orang ke orang, beberapa gejala yang paling dominan meliputi:

Baca Juga: Kenapa Kram Perut pada Masa Hamil? Simak Penjelasannya di Sini

Beberapa kram perut yang dirasakan mungkin akan hilang dengan buang air besar, tetapi yang lain mungkin mengalami kram dan kesulitan buang air besar. Tingkat keparahan gejala sindrom iritasi usus besar bervariasi dan bisa mulai dari yang agak menjengkelkan hingga menguras tenaga.

Namun perlu diingat, iritasi ini tidak mengarah pada penyakit kronis apa pun, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulserativa, atau kanker usus. Namun, dapat meningkatkan kemungkinan beberapa masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Jika Moms atau keluarga mengalami beberapa gejala di atas, sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter.

Mengenal FODMAP Diet untuk Penderita Sindrom Iritasi Usus Besar

Jika dokter telah menyatakan bahwa Moms mengalami sindrom iritasi usus besar, ada baiknya Moms menerapkan diet rendah FODMAP.

Apa itu FODMAP?

fodmap

Foto: mhunters.com

FODMAP adalah sekumpulan karbohidrat rantai pendek yang kurang baik diserap di usus kecil yang kemudian difermentasikan oleh bakteri. Gas hasil fermentasi menyebabkan kembung dan sakit perut pada penderita sindrom iritasi usus besar.

FODMAP sendiri merupakan singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, and polyol. Beberapa makanan yang tergabung dalam FODMAP dan perlu dihindari penderita sindrom iritasi usus besar di antaranya:

  • Oligosakarida: gandum, bawang putih, bombai, dan lain-lain
  • Disakarida: susu, yoghurt, keju lunak, dan makanan lain yang karbohidrat utamanya adalah laktosa
  • Monosakarida: mangga, madu, dan makanan lain yang karbohidrat utamanya adalah fruktosa
  • Poliol: leci, beberapa sayur dan buah lain, serta pemanis rendah kalori seperti sorbitol, mannitol, xylitol, dan maltitol

Baca Juga: 6 Makanan yang Baik Dikonsumsi Saat Asam Lambung Naik

Diet Rendah FODMAP

fodmap

Foto: healthblog.uofmhealth.org

Seperti dilansir oleh situs Healthline, empat studi berkualitas tinggi membuktikan bahwa mengikuti diet rendah FODMAP menaikkan peluang kesembuhan sakit perut sebesar 81% serta kembung 75%. Beberapa penelitian lain juga menyebutkan bahwa diet tersebut bisa mengatasi perut bergas, diare, dan sembelit.

Beberapa makanan rendah FODMAP yang bisa dikonsumsi penderita sindrom iritasi usus besar adalah:

  • Protein: daging sapi, ayam, ikan, domba, babi, udang, telur, tahu (bukan tahu sutera), tempe
  • Sumber karbohidrat: beras cokelat dan beras lain, jagung, oat, quinoa, kentang, serta biskuit dan camilan yang dibuat dengan bahan-bahan tadi tanpa tambahan bahan tinggi FODMAP (misalnya bombai, pir, dan madu)
  • Buah: pisang, kiwi, jeruk, pepaya, nanas, stroberi, anggur, melon, blueberry
  • Sayuran: tauge, paprika, wortel, terung, tomat, bayam, pok choi, kucai dan bagian hijau daun bawang, mentimun, selada, zucchini
  • Kacang-kacangan: almond (tidak lebih dari 10 butir per makan), macadamia, kacang tanah, pecan, walnut. Mete dan pistachio tidak termasuk

Baca Juga: 4 Penyakit Ini Ternyata Muncul karena Gangguan Asam Lambung

  • Biji-bijian: biji labu kuning, wijen, biji pinus, biji bunga matahari
  • Olahan susu: susu dan yogurt bebas laktosa serta keju keras seperti cheddar dan parmesan
  • Minyak: minyak kelapa dan minyak zaitun
  • Minuman: teh hitam, hijau, putih, dan peppermint, kopi, serta air
  • Bumbu: daun basil, cabai, jahe, lada, garam, mustard, cuka beras, dan wasabi

Daftar lengkap makanan tinggi dan rendah FODMAP bisa Moms lihat di sini.

Bagaimanapun juga, Moms perlu memastikan bahwa Moms mengalami sindrom iritasi usus besar sebelum menerapkan diet rendah FODMAP. Jika tidak, diet ini justru akan membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan.

Sebab, kebanyakan makanan FODMAP adalah prebiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus dan cocok bagi penderita sindrom iritasi usus besar.

Artikel Terkait