PARENTING
18 September 2019

Gempa Palu Membuat Saya Tersadar untuk Punya Lebih Banyak Waktu dengan Si Kecil

Demi menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak, saya akhirnya mantap mengundurkan diri dan jadi ibu rumah tangga
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Intan Arif (30 th), Ibu dari Sarah Eliya Lasaka (10 bln), Member WAG Orami Toddler (2).

Berhenti menjadi pekerjaan kantoran demi membesarkan Si Kecil tentu telah banyak dirasakan ibu-ibu lainnya. Begitu pun dengan saya.

Namun, semua ada cerita di belakangnya.

Keinginan itu tidak timbul begitu saja, sampai peristiwa gempa 7,4 SR yang melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah 28 September 2018 melanda.

Bisa dikatakan, gempa, tsunami, dan liquifaksi yang terjadi saat itu mengubah seluruh pandangan saya tentang paradigma menjadi seorang ibu.

Bencana, terkadang selain membawa petaka juga membawa hikmah bagi umat manusia untuk kembali ke fitrah, terutama bagi para wanita yang telah menjadi ibu.

Awalnya, saya tidak pernah membayangkan perjalanan hidup saya dimulai dari kejadian tersebut.

Seperti ibu pekerja pada umumnya, saya menganggap usai lepas cuti melahirkan bisa kembali bekerja walaupun sejujurnya hati kecil mendesak agar sebaiknya menjadi ibu rumah tangga.

Nyatanya, hal itu agaknya sulit dicapai.

Kenapa sulit? Karena sudah banyak perempuan yang berpendidikan dan saat ini kaum perempuan juga sudah banyak yang menekuni pekerjaan yang sebelumnya hanya dilirik kaum Adam.

Baca Juga: Tips Menyapih Anak Kembar dengan Penuh Cinta

Jarak Jauh dari Suami Sembari Menjalani Kehamilan

20190108_100504.jpg

Foto: Orami/Intan Arif

Sebelum menikah, saya bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar lokal di Kota Palu, Sulawesi Tengah, hingga saya berumah tangga.

Suami dan saya sepakat untuk tetap bekerja.

Akhirnya, kami menjalani pernikahan jarak jauh. Saya di Kota Palu, sementara suami di Kabupaten Parigi Moutong, dengan jarak tempuh tiga jam.

Alhmadulilah, walaupun jarang bertemu karena perbedaan jarak, setahun kemudian saya hamil anak pertama.

Di saat itu pula, saya mulai mengurangi aktivitas karena ingin menjaga kehamilan tetap sehat. Bulan berganti bulan, akhirnya saya melahirkan anak pertama pada 8 September 2018.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Menyelamatkan Anak dalam Situasi Genting

20190623_161808.jpg

Foto: Orami/Intan Arif

Belum lama merasakan indahnya menjadi ibu, selang 20 hari kemudian terjadi bencana gempa di Palu yang menyebabkan tsunami dan liquifaksi.

Beruntung saat kejadian itu, saya dan bayi selamat. Walaupun saya, kakak, dan orang tua harus menyelamatkan diri dari bangunan tempat tinggal yang bisa roboh setiap waktu dan menimpa kami.

Pascakejadian, banyak hal yang berubah. Hal ini yang saya sebut bencana membawa hikmah. Semua adalah cobaan dan takdir dari Sang Pencipta.

Begitupun cerita tentang kakak saya, Arti.

Di tahun 2018, kami sama-sama menyandang status sebagai ibu baru. Arti melahirkan di bulan Februari, dan saya bulan September.

Kami berdua pekerja kantoran. Saya seorang wartawan, sementara kakak saya menjadi tenaga kontrak di salah satu instansi vertikal pemerintah di Kota Palu.

Kami berdua pekerja keras dan berdedikasi di bidang masing-masing. Namun, kejadian gempa yang dahsyat itu benar-benar mengubah pemikiran tentang siapa kami.

Saat gempa terjadi, saya, ibu, dan kakak saya berada di rumah. Kami bertiga sama-sama terjebak di depan kamar.

Guncangan gempanya begitu hebat, hingga kami tidak bisa berbuat banyak. Hanya memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Namun, masing-masing dari kami membawa anak. Saya memegang Sarah yang saat itu masih lelap tidur di tangan sebelah kiri saya. Sedangkan Arti, tanpa kami sadari, di tengah kepanikan, rupanya telah lari mendahului kami keluar rumah.

Kedengarannya lucu. Tetapi, ada cerita haru di baliknya. Ternyata, dalam keadaan genting seperti itu, kakak saya berjuang agar anaknya selamat.

Ia tidak tega bangunan beton setinggi tiga meter yang kami diami rubuh menimpa anaknya.

Maka dengan usaha yang cukup keras, terlempar ke kiri dan kanan, ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar berhasil ke luar dari rumah.

Baca Juga: Begini Cara Saya Menghadapi Masa-masa Terrible Two Si Kecil

Memutuskan Berhenti Jadi Pekerja Kantoran dan Beralih Profesi

20190725_083241.jpg

Foto: Orami/Intan Arif

Kami pun tersadar bahwa saya dan kakak saya, terutama yang kala itu memegang anak kecil, masih disayang Tuhan, Allah SWT. Hal ini dirasakan betul oleh kakak saya, hingga kini ia sangat emosional ketika mengenang peristiwa itu.

Bagaimana tidak? Selama ini, saat saya masih hamil dan mengurangi pekerjaan, kakak saya sibuk di kantor, terkadang ia harus pulang ke rumah pukul 17:30 WITA.

Otomatis, anaknya bernama Al-Fayad yang masih berusia enam bulan lebih, terpaksa dititip dengan neneknya.

Arti juga pernah mengaku kepada saya, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan anaknya, dan ia ingin bersamanya setiap hari.

Namun, pascabencana tersebut, saya dan kakak sadar begitu berharganya waktu bersama anak.

Materi, yang menjadi kebutuhan utama kami serasa tidak menjadi kebutuhan pokok lagi. Kami terguncang.

Bagaimana tidak, dalam waktu yang bersamaan, kami menyelamatkan anak kami masing-masing dengan kondisi suami yang juga tidak bersama dengan kami.

Sempat terpikir oleh kami, bagaimana ketika saat kejadian itu kami tidak berada di tempat dan sibuk di kantor?

Akhirnya, Arti memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Diakui olehnya setelah mengajukan pengunduran diri, hatinya sangat lega. Dilema yang selama ini menjadi beban pikirannya seakan lepas.

Kini, ia beralih profesi menjadi penjual kue. Padahal sebelumnya, ia tidak menguasai keahlian satu ini.

Berkat keinginan kuat, ia berhasil merintis usahanya sendiri walaupun belum begitu besar.

Kakak saya tidak tertarik lagi melirik pekerjaan kantor, karena dengan membuat kue, ia masih bisa dekat dengan anaknya sambil mendapatkan rezeki.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja, dan memilih menjadi ibu rumah tangga.

Alhamdulilah seperti janji Allah SWT, ketika kita bersyukur maka Allah akan cukupkan. Begitulah kondisi yang saya rasakan hari ini.

Bersyukur dengan penghasilan suami, dan tidak lupa walaupun serba kekurangan, selalu bersedekah kepada yang lebih membutuhkan.

Tak hanya itu, berkat keputusan kami menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan dapur mulai dilirik kembali sebab di masa-masa sibuk dahulu, semua urusan dapur diberikan kepada Mama.

Kini, kebiasaan itu tidak ada lagi, dapur kini menjadi teman yang setia untuk ibu-ibu seperti kami.

Belajar membuat kue mendapat perhatian lebih untuk menyenangkan suami dan anak. Semua terasa nikmat ketika mereka tersenyum.

Moms, jangan pernah ragu menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karier yang sudah dibentuk setinggi langit, dan jangan khawatir dengan rezeki. Karena semua sudah Tuhan yang mengatur.

Apa yang terpenting, tidak ada hal yang paling membahagiakan ketika anak kita aman, nyaman, dan tentram, serta tidak jauh dari pengawasan kita.

Artikel Terkait