DI ATAS 5 TAHUN
23 Februari 2019

Grooming, Taktik Pelaku Kekerasan Seksual Anak dalam Mendekati Calon Korban

Grooming, Taktik Pelaku Kekerasan Seksual Anak dalam Mendekati Calon Korban
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina
Disunting oleh Dina

Demi keselamatan dan keamanan buah hati, setiap orang tua wajib tahu berbagai taktik pelaku kekerasan seksual anak.

Karena sudah bukan rahasia kalau predator seksual seringkali adalah mereka yang terlihat baik dan akrab dengan anak-anak.

Salah satu taktik yang umum digunakan oleh para pelaku adalah grooming.

Apa maksudnya dan bagaimana taktik pelaku kekerasan seksual anak ini dijalankan? Silakan simak informasi yang sudah kami rangkum berikut, Moms.

(Baca Juga: Moms Korban Kekerasan Rumah Tangga? Ini yang Bisa Dilakukan!)

Apa Itu Grooming?

grooming, taktik jahat pelaku kekerasan seksual dalam mendekati anak calon korban 1

Foto: Firstpost.com

Menurut U.S. Department of Justice, grooming adalah taktik yang umum dilakukan oleh predator seksual anak untuk memanipulasi mental anak serta orang dewasa di sekitarnya.

Biasanya grooming pada anak dilakukan dengan membangun kedekatan emosional, agar tidak dicurigai saat pelaku ingin lebih dekat dengan anak dan mulai melancarkan aksi seksual.

Walau ada pula predator seksual anak yang menggunakan ancaman dan kekerasan fisik, mayoritas pelaku melakukan grooming sebelum melancarkan aksi bejatnya.

Kenali Perilaku Grooming

grooming, taktik jahat pelaku kekerasan seksual dalam mendekati anak calon korban 2

Foto: Independent.co.uk

Menurut para psikiater forensik, umumnya ada beberapa perilaku yang ditunjukkan oleh predator anak saat sedang melakukan grooming, seperti:

  • Selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberikan perhatian berlebih, agar calon korban merasa istimewa.
  • Bersikap sangat tertarik pada segala hal yang berhubungan dengan korban, baik itu pada cerita, sekolah, baju dan sepatu, dan lainnya.
  • Sering memberi hadiah atau mentraktir dan mengajak jalan-jalan.
  • Memeluk atau memberikan sentuhan ringan di depan keluarga dan orang tua korban, agar anak berpikir kalau pelaku adalah salah satu orang yang boleh dekat secara fisik.
  • Mencari tahu segala kesukaan anak dan mengaku menyukai hal yang sama.
  • Bersikap seperti sahabat baik yang selalu memberikan perhatian dan mendengarkan keluh kesah anak, terutama saat anak sedang kesal pada orang tua.
  • Selalu mencari cara untuk bisa berduaan saja dengan anak, misalnya dengan membantu mengerjakan PR, berenang, menonton film, dan sebagainya.
  • Menceritakan lelucon dewasa atau menunjukkan konten pornografi.
  • Bersikap baik pada keluarga dan orang tua agar bisa lebih sering bersama calon korban, misalnya dengan menawarkan untuk menjaga anak saat orang tua pergi.

Baca Juga: Hati-Hati, Kekerasan Dapat Merusak Karakter Anak!

Setelah melancarkan aksi seksual, pelaku memanfaatkan rasa bersalah anak agar diam dan terus berpartisipasi dalam interaksi seksual. Misalnya dengan mengungkit hadiah yang pernah diberikan, atau menakuti kalau Moms dan Dads tidak akan lagi menyayanginya.

Agar tidak dicurigai, pencitraan sebagai pribadi yang ramah, baik, dan santun di hadapan orang tua, keluarga, serta warga sekitar juga menjadi bagian dari taktik pelaku kekerasan seksual pada anak.

Itulah kenapa Moms dan Dads harus selalu waspada pada orang yang baru dikenal tapi banyak memberikan perhatian dan bantuan pada anak maupun keluarga.

Baca juga : 3 Perkembangan Anak yang Butuh Perhatian Serius

Selalu dengarkan intuisi dan jangan abaikan tindakan tidak wajar yang ditunjukkan oleh orang di sekeliling anak ya, Moms.

Nah, apakah Moms sudah mengajarkan buah hati untuk waspada dan melindungi diri dari pelecehan maupun kekerasan seksual anak?
(WA)

Artikel Terkait