PERNIKAHAN & SEKS
11 Oktober 2019

3 Hal yang Diam-diam Menghancurkan Pernikahan

Tak terduga, tapi beginilah kenyataannya.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Thomas G. Fiffer, seorang penulis profesional yang berfokus pada diagnosis dan penyembuhan hubungan yang disfungsional, dalam sebuah tulisannya untuk The Good Men Project mengungkapkan bahwa pernikahan butuh setidaknya tiga hal untuk bertahan: saling menghormati, komunikasi yang fungsional, dan keintiman termasuk dalam hal seks.

Pernikahan yang hebat mungkin saja memenuhi bahkan lebih dari tiga syarat yang disebut di atas. Namun tanpa salah satu dari tiga hal itu, bersiaplah segalanya akan berantakan dengan cepat.

Ya, tiga hal itulah yang bisa jadi penyebab hancurnya pernikahan, jika salah satunya tak dimiliki pasangan suami-istri. Seperti segitiga, jika satu titiknya hilang, maka tak bisa lagi dia disebut segitiga.

Pakar pernikahan, Paul Friedman, pendiri The Marriage Foundation meneliti berdasarkan pengalaman konselingnya dengan berbagai pasangan yang mempertimbangan untuk bercerai.

Berikut Orami merangkum tiga hal yang diam-diam jadi penyebab hancurnya pernikahan, dari apa yang ditemukan Paul yang ditulis oleh Thomas untuk The Good Men Project.

1. Terlalu Akrab

Ini Alasan Mengapa Seks Sangat Penting Dalam Pernikahan

Kok bisa? Bukankah keakraban adalah hal yang baik dalam sebuah hubungan? Ternyata tidak, karena terlalu akrab bisa menjadi penyebab hancurnya pernikahan.

Menurut Paul, rasa hormat bisa luntur seiring meningkatnya keakraban, dan bahkan bisa terkikis ketika semakin hari pasangan suami-istri semakin akrab berlebihan. Perlu untuk diketahui, seberapa batas keakraban disebut berlebihan bukan?

Yang dimaksud keakraban berlebihan adalah ketika Moms atau Dads berpikir bahwa masing-masing merasa cukup dekat dengan pasangan, sehingga merasa wajar untuk melakukan hal-hal yang menjengkelkan, tetapi sebaliknya, tak mau jika hal tersebut dilakukan pada diri sendiri.

Ini bisa termasuk bicara dengan keras, mengkritik, mengabaikan, menggoda, mengomel, mengeluh, dan semacamnya.

Ketika terlalu akrab, secara tak sadar Moms atau Dads melakukan hal-hal tersebut di atas secara berlebihan, sehingga terasa tidak ada rasa hormat lagi pada pasangan.

Rasa hormat yang luntur inilah yang akhirnya menjadi salah satu penyebab pernikahan hancur.

2. Kemampuan Komunikasi yang Buruk

3 Hal yang Diam-Diam Menghancurkan Pernikahan 2 (1).jpg

Banyak orang dalam pernikahan yang berpikir bahwa pasangannya punya kesulitan dalam berkomunikasi.

Padahal yang sebenarnya terjadi justru dia yang tak bisa membuat pasangannya mendengarkan dan mengerti apa yang dia maksud.

Sebenarnya itu semua bukanlah masalah komunikasi, tapi justru merupakan masalah sikap.

Seringnya Moms atau Dads mengutamakan keinginan sendiri dan abai akan keinginan pasangan, sehingga mereka merasa dianggap tidak penting. Bila kondisi ini terus-terusan terjadi, bisa menjadi penyebab hancurnya pernikahan.

Menuduh pasangan mengalami kesulitan berkomunikasi bisa jadi justru sikap kekanakan Moms atau Dads karena tak mendapatkan apa yang diinginkan.

Masing-masing tidak menyadari bahwa pria dan wanita melihat, mendengar dan mengungkapkan sesuatu dengan cara berbeda.

Masalah komunikasi dalam pernikahan memang berbeda dengan jenis komunikasi lainnya.

Hal ini sangat spesial, karena tujuannya adalah untuk memungkinkan dua orang saling membuka hati, bukan hanya soal membuat perincian giliran mencuci piring, membuang sampah, dan kegiatan rumah tangga lainnya.

Dalam perjalanannya belajar memahami tujuan dan nilai komunikasi, mereka ternyata kehilangan inti dari pernikahan: hubungan intim.

3. Terlalu Perhitungan

keuangan2.jpg

Dalam berbisnis, Moms and Dads memang harus mematuhi dan menghormati apa yang sudah menjadi kesepakatan, karena hal itu merupakan etika.

Namun dalam pernikahan, rasa hormat bukanlah hal yang sama seperti yang ada dalam bisnis.

Dalam pernikahan, masing-masing juga harus bisa saling menghormati dengan menerima ketidaksempurnaan dan kesalahan pasangannya.

Penerapan prinsip bisnis dalam pernikahan dapat berakibat fatal, karena hubungan suami dan istri tak lebih dari soal memberi dan menerima.

Atau bahkan bisa saja hubungan tersebut jadi menerima saja secara sepihak, karena masing-masing merasa tidak puas ketika mereka mendapat timbal balik lebih sedikit ketimbang apa yang mereka yakini menjadi hak mereka.

Nah, jika Moms atau Dads merasa tidak selalu mendapatkan apa yang diharapkan, cobalah untuk memahami dan memaafkan.

Ketika masing-masing sudah mengikatkan diri dalam tali pernikahan, maka kalian telah berjanji satu sama lain untuk melakukan yang terbaik. Jangan salah kaprah, karena melakukan yang terbaik bukan berarti menjadi sempurna.

Dengan saling memahami dan memaafkan, maka penyebab hancurnya pernikahan seperti disebut di atas, tak akan bisa merobohkan benteng pertahanan itu.

(DEW)

Artikel Terkait