GAYA HIDUP
12 Mei 2019

Hal yang Harus dan Tidak Boleh Dilakukan Setelah Bertengkar dengan Suami

Perbaiki hubungan dengan cara ini meski setelah bertengkar
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Carla

Bertengkar adalah hal yang umum terjadi pada perkawinan.

Namun, Moms harus memahami bahwa perkelahian perlu ada proses pengendalian untuk menjaga pertikaian dalam ikatan emosional.

“Emosi yang tidak terbendung bisa berubah menjadi pertikaian yang membakar api. Pertengkaran harus diselesaikan dengan baik-baik tetapi jangan sampai menimbulkan masalah lainnya,” ujar Robert Taibbi, L.C.S.W. , penulis buku Clinical Social Work Supervision: Process & PracticeDoing Couples Therapy ,sebagaimana dikutip dari psychologytoday.com.

Baca Juga : Sadari Pentingnya Koneksi Emosional Bagi Hubungan Suami Istri

Jangan Lakukan Hal Ini Setelah Bertengkar dengan Suami

bertengkar dengan suami 01.jpg

Foto: lovelearnings

Setelah pertengkaran, jangan pura-pura itu tidak terjadi.

Moms melewatkan permintaan maaf dan berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa. Jangan terus menghukum orang lain.

Moms tak boleh membuat hukuman tersendiri misalnya cuek pada pasangan.

Kondisi seperti beku dan tak cair seperti biasanya bisa menciptakan iklim yang buruk dalam suatu hubungan.

Hal ini tak saja buruk bagi Moms dan pasangan tetapi juga anggota keluarga lain seperti anak-anak.

Moms juga sebaiknya jangan asal meminta maaf. Pertengkaran bukan hanya mencari siapa yang benar dan salah melainkan bagaimana kedua belah pasangan mencoba untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Jangan buat permintaan maaf untuk menyelesaikan masalah dengan kilat.

Tetapi jadikan momen meminta maaf untuk mengetahui bahwa ada kondisi yang harus diperbaiki.

Meminta maaf bukan hanya mengakui bahwa Moms atau pasangan saling menyakiti.

Yang Harus Dilakukan Setelah Bertengkar dengan Suami

bertengkar dengan suami 02.jpg

Foto: Focus on The Family

Moms dan pasangan harus mencoba tenang. Moms perlu menenangkan diri agar otak rasional kembali berjalan.

Jika Moms mencoba berbicara terlalu cepat, kemungkinan akan saling memicu pertengkaran lagi.

Baik Moms maupun pasangan biasanya memiliki waktu berbeda dalam berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menenangkan diri.

Perlu diingat bahkan pria seringkali membutuhkan waktu lebih lama.

Jika Moms belum siap untuk kembali dan berbaikan, cukup ucapkan, dalam satu kalimat, "Saya masih kesal; saya tidak berusaha mengabaikanmu, saya hanya perlu lebih banyak waktu untuk menenangkan diri."

Meminta maaf adalah hal yang penting namun harus dengan cara yang tepat. Namun, jangan sampai ada masalah yang memulai pertengkaran.

Piring yang tersisa di meja, uang yang dihabiskan untuk hal tidak penting atau suami yang mendadak tidak peduli dengan kondisi anak. Sepele tetapi sangat mungkin memicu berbagai macam hal.

Baca Juga : Pertengkaran Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Psikologi Anak

Artinya ketika sudah meminta maaf, Moms tak perlu lagi mengungkapkan atau mengungkit masalah yang sudah ada atau yang muncul di kemudian hari. Kondisi ini benar-benar dapat memicu masalah.

Tugas Moms saat ini adalah tetap waras. Tetaplah melakukan apa yang seharusnya Moms kerjakan. Tak perlu ikut hanyut dalam kmarahan yang tidak penting. Ingat bahwa segala sesuatunya membutuhkan waktu.

Tahan keinginan untuk berargumen. Ketika ingin mulai saling menyalahkan, Moms perlu berhenti sejenak dan mengatur nafas.

Jika komunikasi kembali panas kembali, berhenti, dinginkan, coba lagi, atau tuliskan solusi Moms untuk masalah tersebut, kemudian putar kembali dan bicara lagi.

Jangan lupa untuk membahas apa yang terjadi antara Moms dan pasangan sebagai pesan moral.

Jika Moms ingin memperbaiki masalah sehingga konflik yang sama tidak terus muncul. Moms perlu mempelajari sesuatu yang telah terjadi misalnya cara komunikasi atau cara menangani sesuatu.

Nah apa yang Moms lakukan ketika setelah bertengkar dengan suami?

(GSA)

Artikel Terkait