SELEBRITI
23 Februari 2019

Hamish Daud Kubur Ari-ari Anaknya, Bermanfaat atau Cuma Mitos?

Masyarakat Indonesia percaya bahwa plasenta sebenarnya dianggap sebagai kakak kandung atau kembaran bayi yang dilahirkan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (mentari.delita)
Disunting oleh (mentari.delita)

Pasangan Hamish Daud dan Raisa Andriana kini tengah sangat berbahagia atas kelahiran anak pertama mereka, Zalina Rayne Wyllie.

Setelah dilahirkan beberapa hari lalu, sebagai seorang ayah Hamish Daud pun mengubur ari-ari sang anak.

Tradisi ini memang sudah lama melekat pada masyarakat Indonesia, tapi sebenarnya hal ini bermanfaat atau hanya mitos, ya? Mari simak ulasan berikut:

Tradisi Mengubur Ari-ari di Indonesia

Di Indonesia, tradisi mengubur ari-ari anak oleh seorang ayah memang sudah lama menjadi turun temurun.

Masyarkat Indonesia percaya bahwa plasenta sebenarnya dianggap sebagai kakak kandung atau kembaran bayi yang dilahirkan.

Mereka percaya bahwa plasenta ada berfungsi sebagai pelindung bayi sepanjang hidupnya, itulah sebabnya plasenta perlu dikubur dan bukan dibuang.

Bahkan, ada ritual tertentu yang harus dilakukan sebelum penguburan seperti membersihkannya dengan benar.

Ketika bayi dalam kandungan, plasenta memang bertanggung jawab untuk memelihara dan melindunginya.

Plasenta menghubungkan ibu ke bayi dan membentuk hubungan antara keduanya dengan memasok darah melalui tali pusat ke anak yang sedang berkembang.

Tidak hanya itu, plasenta juga memainkan peran penting dalam sekresi hormon yang diperlukan untuk kehamilan yang lancar dan untuk mempersiapkan tubuh untuk menyusui.

Kemudian bagi janin, plasenta juga memberikan semua antibodi yang dibutuhkan untuk berkembang cukup dalam beberapa bulan pertama kehidupan.

Daripada membuang organ tubuh yang luar biasa ini dan menandainya sebagai 'limbah klinis', orang-orang di Indonesia memilih untuk memberikan penguburan yang layak.

Pemakaman harus dilakukan oleh ayah bayi. Namun, sebelum penguburan, perlu agar plasenta yang dianggap kembaran ditempatkan dalam mangkuk atau wadah bersih dan dicuci dengan benar.

Jika tidak diperlakukan dengan benar, cerita rakyat Indonesia mengatakan bahwa ibu atau bayinya akan jatuh sakit.

Baca Juga: Mengenal Plasenta Bayi dan Manfaatnya Bagi Janin Dalam Rahim

Mitos atau Fakta?

Tradisi mengubur plasenta tidak hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara lain seperti Malaysia dan Turki juga memiliki tradisi yang sama. Namun, apakah hal tersebut benar-benar bermanfaat ataukah hanya mitos?

Mengubur plasenta di halaman tentu saja merupakan cara yang paling tepat untuk membuang organ ini.

Karena memang tidak mungkin untuk membuangnya di tempat sampah apalagi sungai. Tempat pemakaman plasenta diberikan cahaya selama beberapa bulan.

Bagi sebagian orang, itu dianggap memiliki makna okultisme sendiri karena seolah akan ada yang menjaga bayi.

Memang, pemberian lampu ini dimaksudkan untuk menandai tempat sekaligus memberi tanda bagi orang-orang yang melewati rumah untuk tidak membuat suara berisik, karena suara bising akan membuat bayi rewel.

Baca Juga: Makin Lengkap, Ini 6 Potret Kebahagiaan Keluarga Kecil Raisa dan Hamish

Tempat penguburan plasenta diberikan berbagai rempah-rempah, mulai dari daun salam, tulisan Arab dan Latin, beras merah, dan banyak lagi.

Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan bayi. Namun, ada filosofi tertentu dalam kegiatan ini, misalnya beras merah berarti kemakmuran, tulisan Arab berarti kesalehan, dan sebagainya.

Bicara soal tradisi dan kepercayaan memang tidak ada habisnya, tapi memang sebaiknya bagi Moms yang baru memiliki bayi berupayalah untuk tidak sembarangan dalam menyingkirkan plasenta. Apakah Moms melakukan tradisi ini juga?  

(MDP)

Artikel Terkait