BAYI
29 April 2020

Harus Tahu! Inilah Efek Buruk Suara Mainan Bayi

Tidak hanya masalah pendengaran, ada beragam efek buruk suara mainan pada bayi lainnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Gladys
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Telinga Si Kecil diperdengarkan dengan beragam suara bising setiap hari. Mulai dari suara televisi, radio, lalu lintas, teriakan adik atau kakaknya, hingga suara beragam mainan yang dimilikinya.

Meskipun sebagian besar suara bising dari berbagai sumber tersebut tidak berbahaya, namun dalam beberapa kasus, suara yang mencapai tingkatan tinggi tertentu dapat merusak pendengaran Si Kecil secara permanen. Salah satunya bisa berasal dari efek buruk suara mainan pada bayi.

Efek Buruk Suara Mainan Pada Bayi

1 Efek Buruk Suara Mainan Pada Bayi.jpg

Foto: verywellfamily.com

Efek buruk suara mainan pada bayi bisa terjadi dari bayi usia dini. “Bayi dan balita sering memegang mainan bersuara dekat dengan wajah mereka atau di sebelah telinga mereka, sehingga mengekspos diri mereka pada tingkat suara yang memiliki potensi berbahaya,” ungkap juru bicara Sight & Hearing Association di St. Paul, Julee Sylvester, seperti dikutip dari parents.com.

Adanya gangguan pendengaran bukan hanya satu-satunya penyebab yang dapat terjadi. Karena dalam beberapa kasus, anak yang tinggal dekat bandara, rel kereta api atau jalan raya yang bising, lebih rentan memiliki tekanan darah tinggi, gangguan tidur, kecemasan, hingga ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.

Anak yang memiliki sedikit gangguan pendengaran pun seringkali memperlihatkan kondisi kurang percaya diri, memiliki lebih banyak masalah di sekolah, dan mengalami keterlambatan bicara dibandingkan anak dengan pendengaran yang baik.

Baca Juga: 4 Gangguan Pendengaran Pada Bayi 0-6 Bulan

Mengecek Suara Mainan

2 Cek Suara Mainan.jpg

Foto: Andrew Seaman – Unsplash.com

Untuk melihat jenis mainan yang memberi efek buruk suara mainan pada bayi, Dokter THT dari UCI Health, Dr. Hamid Djalilian dan timnya menguji sekitar dua lusin mainan populer untuk menentukan mainan dengan tingkat suara tertinggi dalam tiga skenario:

  • Di telinga tanpa menempelkan selotip pada speaker mainan,
  • Di telinga dengan menempelkan selotip di atas speaker mainan,
  • dan pada jarak 30 cm dari anak dengan menempelkan selotip pada speaker.

Ukuran suara diukur dalam desibel (dB). Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh suara dapat diakibatkan oleh paparan tunggal terhadap suara yang keras (120 dB atau lebih) atau dengan mendengarkan suara keras pada atau di atas 85 dB untuk jangka waktu yang lama.

Dikutip dari ucihealth.org, Dr. Hamid menyebutkan ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan untuk menjaga volume suara mainan bayi tetap aman bagi bayi. Salah satunya dengan menempelkan selotip atau super glue di atas speaker mainan untuk mematikan suara.

Selain itu, orang tua juga dapat menempelkan selotip pada kontrol volume, sehingga mencegah bayi meningkatkan volume ke tingkat yang tidak aman.

Baca Juga: 5 Tips Meredakan Sakit Telinga pada Bayi di Pesawat

Mengecek Telinga

3 Cek Telinga.jpg

Foto: cigna.com

Setelah mengetahui efek buruk suara mainan pada bayi, Moms bisa melakukan pengecekan telinga bayi atau melihat tanda-tanda bayi mengalami masalah pendengaran.

Biasanya, bayi akan mendapatkan pemeriksaan pendengaran sebelum keluar rumah sakit setelah bayi baru lahir. Selanjutnya, pengecekan berkala dilakukan saat anak usia tiga dan lima tahun setiap tahunnya.

Jika bayi memiliki riwayat infeksi telinga yang juga bisa menjadi penyebab lain bayi mengalami kehilangan pendengaran, maka bayi perlu diperiksa lebih sering.

Bayi juga perlu berkonsultasi dengan Dokter, jika sering tidak mendengar dan berkata “huh?” atau bayi berbicara terlalu keras (atau kadang terlalu pelan), memiringkan atau memalingkan kepalanya untuk mendengar sesuatu atau seseorang, hingga menyalakan suara televisi atau radio dengan sangat keras.

Baca Juga: Masalah Pendengaran Bayi, Apa Tanda-tandanya?

Yuk Moms, cek kembali beragam mainan yang dimiliki bayi, agar tidak mendatangkan efek buruk suara mainan pada bayi.

Artikel Terkait