BALITA DAN ANAK
14 Juni 2020

Hati-Hati Moms! Beberapa Jenis Makanan ini Dapat Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Balita!

hindari berbagai jenis makanan ini dari balita
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dona Handayani
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Orang tua tentunya sangat senang jika melihat Si Kecil tumbuh aktif dan gemar makan. Dalam beberapa kesempatan, balita dapat kehilangan nafsu makannya dan tidak mau makan makanan yang sudah disiapkan untuknya.

Maka, tidak heran jika orang tua pastilah merasa terbantu dan tenang jika balita mau menyantap berbagai jenis makanan yang tersedia di sekitarnya

Balita perlu mengonsumsi makanan bergizi untuk membantu perkembangan fisik dan otaknya. Namun, sudahkah Moms memberikan makanan yang diperlukan Si Kecil di masa pertumbuhannya?

Jenis Makanan yang Tidak Sehat untuk Balita

Tidak semua makanan baik untuk dikonsumsi Si Kecil, ada beberapa jenis makanan yang justru masuk kategori makanan tidak sehat untuk balita.

Apa saja makanan tidak sehat untuk balita konsumsi ini? Berikut ulasannya.

1. Junk Food

4CB8C3CB00000578-0-image-a-6_1527584479108.jpg

Foto: dailymail.co.uk

Junk food merupakan salah satu makanan tidak sehat untuk balita konsumsi. Tidak hanya anak-anak, dewasa pun perlu membatasi diri dalam mengonsumsi junk food.

Dikutip dari situs Washington Post pada artikelnya yang berjudul “This is your body on fast food”, dijelaskan bahwa junk food sendiri diartikan sebagai berbagai jenis makanan yang mengandung sedikit nutrisi yang diperlukan tubuh, dan tinggi kalori. Junk food biasanya mengandung banyak gula, garam, dan lemak jahat.

Junk food merupakan makanan tidak sehat untuk balita. Pasalnya, balita tidak akan mendapatkan nutrisi yang diperlukannya dari junk food, melainkan resiko obesitas dan kolestrol akibat kandungan dalam makanan junk food yang tinggi gula dan garam. Biasakan Si Kecil mengonsumsi makanan sehat sedari dini. Kebiasaan ini dapat dimulai dari orang tua sebagai contoh di rumah.

“Menjadi role model merupakan salah satu cara terbaik dalam membentuk anak mengikuti pola makan yang sehat seperti orang tuanya,” tutur Stephanie Middleberg, pakar diet terdaftar di New York, seperti yang dikutip pada situs WebMd.

Baca Juga: 4 Trik Agar Anak Mengurangi Makan Junk Food

2. Susu Segar

Girl-drinking-glass-of-milk-170510614_1255x837.jpeg

Foto: baby-chick.com

Tidak sedikit orang tua yang memberikan tambahan susu pada balita seiring dengan bertumbuhnya usia Si Kecil. Namun, perhatikan jenis susu yang akan diberikan kepada Si Kecil ya, Moms. Hindari memberikan susu segar kepada balita karena susu segar merupakan salah satu makanan tidak sehat untuk balita konsumsi.

Susu segar merupakan susu yang tidak mengalami proses pasteurisasi atau proses pemanasan untuk membunuh bakteri yang terkandung di dalamnya. Jenis susu ini sebaiknya dihindari dari balita karena bakteri yang terkandung di dalamnya dikhawatirkan dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan balita.

Moms bisa mengganti susu segar dengan susu UHT atau susu yang sudah dipasteurisasi. Jika ragu, Moms dapat mengonsultasikannya kepada dokter terkait.

Baca Juga: Susu Kedelai Bisa jadi Alternatif Pengganti Susu Sapi untuk Bayi?

3. Kafein

child-drinking-coffee.jpg.1440x960_q100_crop-scale_upscale.jpg

Foto: media.mnn.com

Makanan tidak sehat untuk balita lainnya adalah makanan atau minuman yang mengandung kafein di dalamnya.

Dikutip dari situs Kids Health, diterangkan bahwa kafein dapat menyebabkan ketergantungan baik untuk dewasa maupun anak-anak. Kafein dapat membuat anak menjadi aktif dan terjaga.

Memberikan kafein terlalu banyak kepada balita dapat meningkatkan risiko sakit kepala, sulit berkonsentrasi, denyut jantung menjadi cepat, sulit tidur, hingga tekanan darah tinggi.

Kafein biasanya dapat ditemukan dalam produk teh dan kopi. Batasi pemberian kafein pada Si Kecil agar terhindar dari penyakit berbahaya di kemudian hari.

Baca Juga: Bolehkah Balita Minum Kopi? Ini Dampak Bila Anak Kebanyakan Kafein

Itulah beberapa makanan tidak sehat untuk balita konsumsi. Bijaklah dalam memberikan makanan pada balita di masa pertumbuhannya.

Artikel Terkait