KESEHATAN
24 Maret 2020

Kontroversi Herd Immunity, Keadaan yang Konon Bisa Memperlambat Penyebaran Virus COVID-19

Yuk, kita sama-sama pahami herd immunity.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Seluruh dunia tengah berjuang melawan virus corona (COVID-19) yang muncul pertama kali dari Wuhan, China. Bahkan penyebaran virus corona yang cepat dan meluas ini, membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus corona sebagai pandemi sejak Rabu (11//03/2020).

Pandemi virus corona juga tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, bahkan semakin meluas ke negara-negara baru dan menginfeksi lebih banyak nyawa.

Baca Juga: Bisakah Terjadi Infeksi Virus Corona pada Balita? Berikut Penjelasannya

Berdasarkan data WHO per Selasa (24/03/2020), virus tersebut telah menginfeksi lebih dari 334,000 orang di seluruh dunia dan merenggut nyawa setidaknya 14,652 jiwa.

Di tengah situasi ini, istilah herd immunity mencuat karena dipercaya mampu menyetop penyebaran virus corona. Apa itu herd immunity? Mari simak penjelasan berikut.

Mengenal Herd Immunity

herd immunity

Foto: wildcat.arizona.edu

Mengutip Aljazeera, herd immunity atau kekebalan kelompok, mengacu pada situasi di mana cukup banyak orang dalam suatu populasi memiliki kekebalan terhadap infeksi untuk dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Bagi herd immunity, tidak masalah apakah kekebalan berasal dari vaksinasi, atau dari orang yang menderita penyakit tersebut. Yang penting adalah mereka kebal terhadap patogen tersebut.

Namun karena hingga kini vaksin untuk virus corona belum ditemukan, maka herd immunity bisa terjadi ketika banyak orang kebal terhadap virus karena sudah terpapar atau terinfeksi.

Baca Juga: Update Total Pasien Corona di Indonesia, dr. Achmad Ingatkan Pentingnya Kurangi Aktivitas di Luar

Semakin banyak orang terinfeksi COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus, akan ada lebih banyak orang yang sembuh dan yang kemudian kebal terhadap infeksi di masa depan.

Berdasarkan data dari John Hopkins University, sebanyak 100,000 orang lebih telah dinyatakan sembuh dari infeksi COVID-19.

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena banyak orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, profesor penyakit menular yang baru timbul di London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Ia menambahkan, hal inilah yang disebut sebagai kekebalan kelompok.

Apakah Herd Immunity akan Memperlambat Pandemi COVID-19?

herd immunity

Foto: foxbusiness.com

Dengan pecahnya wabah virus corona, bukti saat ini menunjukkan bahwa satu orang yang terinfeksi rata-rata menginfeksi dua dan tiga orang lainnya. Ini berarti bahwa, jika tidak ada tindakan lain yang diambil, herd immunity akan meningkat ketika antara 50 hingga 70 persen populasi kebal.

Baca Juga: 6 Dokter Gugur dalam Pandemi COVID-19 di Indonesia, Turut Berduka Cita

Dengan mengurangi jumlah orang yang terinfeksi oleh satu orang, dengan melakukan seperti social distancing, seperti menutup sekolah, bekerja dari rumah, menghindari kerumunan orang dan sering mencuci tangan, bisa memulai herd immunity.

"Dari sudut pandang epidemiologi, triknya adalah mengurangi jumlah orang yang berhubungan dengan kita, sehingga kita dapat menurunkan jumlah kontak yang kita infeksi, dan herd immunity bisa dimulai lebih awal," tutup Matthew Baylis, profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University.

Kontroversi Herd Immunity

Kontroversi Herd Immunity

Foto: Orami Photo Stocks

Namun, jika 50-70 persen populasi kebal, bagaimanakah nasib sisa populasi tersebut?

Dikutip dari CNN.com, ahli molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan lebih memilih pendekatan aggressive testing jika dibandingkan dengan herd immunity.

Pernyataan itu ia utarakan ketika ditanya soal perbandingan strategi menekan sebaran virus COVID-19 di antara kedua cara itu.

"Pendekatan [herd immunity] ini betul-betul radikal. Apa landasan berpikirnya? ini terkait sudah kelabakannya fasilitas kesehatan, seperti di Itali. Jadi, sekarang Eropa memikirkan, sudah biarkan saja yang tidak punya harapan hidup itu mati," tutur Ahmad melalui pesan suara.

"Artinya apa, orang itu memang tidak punya imunitas yang cukup, sehingga daripada membebani dia mending mati saja sehingga menyisakan orang-orang yang survive--ini sudah terseleksi secara alami. Ini radikal sekali," tutupnya.

Bagaimana menurut pendapat Moms sendiri tentang herd immunity tersebut?

Artikel Terkait