PROGRAM HAMIL
9 Juni 2020

Waspada Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Saat Program Hamil, Ini Penyebabnya!

Lebih umum pada pasien IVF
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Reksita
Disunting oleh Dina Vionetta

Apakah Moms sedang menjalani program hamil dan saat ini merasakan nyeri pada bagian perut?

Jika iya, maka bisa jadi Moms mengalami sindrom hiperstimulasi ovarium.

Yuk, ketahui lebih lanjut mengenai penyebab dan gejalanya dalam penjelasan di bawah ini.

Baca Juga: 4 Cara untuk Meningkatkan Kesuburan Selama Kemoterapi untuk Wanita

Disebabkan Oleh Terapi Kesuburan

Waspada Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Saat Promil, Ini Penyebabnya! 1

Foto: pexels.com

Mengutip MedlinePlus, OHSS adalah kondisi langka yang dapat terjadi pada wanita yang mendapatkan perawatan kesuburan untuk merangsang produksi telur. Misalnya, menerima suntikan human chorionic gonadotropin (hCG).

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Normalnya, seorang wanita menghasilkan satu telur setiap bulannya. Namun, bagi beberapa wanita yang sulit hamil dan menjalani promil, biasanya diberikan obat-obatan untuk membantu mereka memproduksi an melepaskan telur.

Jika obat-obatan tersebut terlalu sering merangsang ovarium, ovarium dapat mengalami pembengkakan. Kemudian cairan di dalamnya bisa bocor dan mengalir ke perut dan dada, terutama setelah sel telur dikeluarkan dari ovarium (ovulasi).

Namun, OHSS diketahui sangat jarang terjadi pada wanita yang hanya minum obat kesuburan secara oral. Sementara pada wanita yang menjalani IVF, kasusnya mencapai 3% hingga 6%.

Baca Juga: 7 Pertanyaan Penting saat Konsultasi Program Hamil, Jangan sampai Terlewat!

Gejala Sindrom Hiperstimulasi Ovarium

Waspada Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Saat Promil, Ini Penyebabnya! 2

Foto: freepik.com

Gejala Ringan:

OHSS dengan gejala ringan, seperti yang dijelaskan oleh Shahin Ghadir, M.D., F.A.C.O.G., mitra pendiri Southern California Reproductive Center, kepada Blood and Milk, meliputi adanya cairan dalam jumlah kecil di perut dan ovarium yang sedikit membesar. Di mana keduanya dapat menyebabkan kembung ringan.

Namun, menurutnya ini justru menjadi tanda bahwa terapi kesuburan yang dilakukan berhasil, khususnya pada metode IVF.

“Jika tidak mengalami bengkak ringan dan sedikit cairan setelah proses pengambilan telur (pada IVF), itu berarti telur yang didapatkan sangat sedikit,” jelasnya.

Gejala Sedang:

Menurut Dr. Ghadir, OHSS dengan gejala sedang dapat menyebabkan cairan yang mengalir ke perut sedikit lebih banyak dan pembengkakan ovarium juga lebih besar. “(Dengan kondisi ini) alih-alih seminggu, mungkin butuh dua minggu untuk kembali normal setelah pengambilan telur dilakukan,” jelasnya.

Gejala Parah:

OHSS yang parah menyebabkan banyak cairan bebas sehingga fungsi-fungsi tubuh yang penting (seperti makan, BAK, atau BAB) terganggu. Dalam beberapa kasus, ketika cairan menumpuk di sekitar organ seperti jantung dan paru-paru, pernapasan juga dapat terhambat.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Stres Saat Menjalani Program Hamil

Faktor Yang Meningkatkan Risiko Hiperstimulasi Ovarium

Waspada Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Saat Promil, Ini Penyebabnya! 3

Foto: freepik.com

Berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Human Reproductive Science, terdapat faktor primer dan sekunder yang telah terbukti dapat meningkatkan risiko sindrom hiperstimulasi ovarium.

Faktor Risiko Primer:

Faktor-faktor yang kemungkinan memperkuat respon terhadap stimulasi ovarium termasuk berusia muda, memiliki riwayat peningkatkan respon terhadap gonadotropin, pernah mengalami OHSS, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Faktor Risiko Sekunder:

Sejumlah faktor risiko yang masuk dalam kategori sekunder termasuk tingkat atau laju peningkatan serum E2, ukuran dan jumlah folikel, dan jumlah oosit yang dikumpulkan.

Baca Juga: Simak 4 Risiko yang Mungkin Muncul dalam Program Bayi Tabung

Apakah Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Bisa Diobati?

Waspada Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Saat Promil, Ini Penyebabnya! 4

Foto: pexels.com

Cleveland Clinic mengungkapkan bahwa pilihan pengobatan untuk OHSS bervariasi, tergantung pada seberapa parah kondisinya. Di mana pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mengelola gejala dan mencegah terjadinya komplikasi.

Untuk OHSS ringan hingga sedang, perawatan yang dilakukan biasanya melibatkan:

  • Memperbanyak asupan cairan secara oral.
  • Menghindari aktivitas fisik berat.
  • Mengkonsumsi acetaminophen untuk meringankan gejala.
  • Memantau berat badan.
  • Memantau adanya gejala lain yang lebih parah.

Sementara kasus OHSS yang parah biasanya membutuhkan rawat inap dengan perawatan yang meliputi:

  • Penyesuaian dosis obat kesuburan yang diberikan.
  • Menerima cairan intravena (langsung ke vena).
  • Pembekuan embrio dan penundaan transfer embrio hingga ovarium kembali normal.
  • Tindakan paracentis (prosedur untuk mengeluarkan cairan dari perut).
  • Konsumsi obat untuk meredakan gejala atau mengurangi aktivitas di indung telur.

Jadi, demikianlah penjelasan mengenai sindrom hiperstimulasi ovarium. Jika ada gejala yang mungkin Moms curigai, sebaiknya segera hubungi dokter untuk memastikannya.

Baca Juga: Benarkah Akupuntur Meningkatkan Kesuburan? Yuk, Simak Penjelasannya

Artikel Terkait