KEHAMILAN
14 September 2020

Hukum Puasa bagi Ibu Hamil: Begini Menurut Islam dan Pakar Kesehatan

Puasa saat hamil selalu membuat beberapa ibu hamil bingung.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Dina Vionetta

Sebagian besar agama mendorong puasa sebagai bagian dari ritual beberapa hari raya besar. Bagi mereka yang beragama Yahudi, puasa terjadi selama Yom Kippur. Sementara orang-orang muslim, secara tradisional melakukan puasa selama Ramadan.

Beberapa orang Kristen berpuasa selama Prapaskah. Dan dari perspektif non-religius, diet gaya puasa seperti puasa intermiten telah menjadi tren. Meskipun tentu saja, puasa karena alasan agama jauh berbeda dengan puasa karena berat badan.

Para pemimpin agama mengatakan ibu hamil tidak boleh berpuasa karena membahayakan kesehatan bayi mereka yang belum lahir. Apapun yang dilakukan oleh ibu hamil, pasti ada resiko kesehatan yang mungkin terjadi. Namun, beberapa ibu hamil tetap memilih berpuasa, meski tahu puasanya akan berimplikasi pada kesehatan.

Inilah beberapa yang harus Moms ketahui, ketika sedang hamil dan ingin berpuasa. Beberapa penjelasan baik secara agama dan kesehatan, diharapkan bisa membantu Moms untuk memilih apakah harus berpuasa atau tidak saat sedang hamil.

Baca Juga: 6 Tips Ibu Menyusui di Bulan Puasa

Hukum Berpuasa Bagi Ibu Hamil menurut Agama

Simfisis Pubis Disfungsi Pada Ibu Hamil, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Misalnya puasa bagi seorang muslim, ini adalah salah satu dari lima pilar agama Islam. Namun, banyak ibu hamil yang bimbang apakah dia harus tetap melaksanakan kewajiban satu bulan penuh ini atau tidak.

Dikutip dari situs tanya jawab tentang Agama Islam Islamqa.info, diberitahukan bahwa memang benar apabila dikatakan ibu hamil termasuk orang yang dibebani tugas berpuasa sebagaimana yang lainnya. Akan tetapi, jika ibu tersebut khawatir puasanya akan berbahaya bagi dirinya atau janinnya, maka ibu hamil tersebut boleh membatalkannya.

Ini diperkuat oleh salah satu hadist dari HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Kitab Irwa'ul Ghalil. Hadist tersebut menyebutkan bahwa ibu hamil dan atau ibu menyusui, jika keduanya takut membahayakan anak-anak mereka, maka mereka boleh berbuka dan sebagai gantinya memberi makan orang miskin.

Membatalkan puasa atau tidak berpuasa bagi ibu hamil, hukumnya bisa boleh, wajib atau haram. Boleh berbuka, jika puasa terasa berat bagi dirinya, meskipun tidak membahayakannya.

Wajib membatalkan puasa, jika puasa baginya membahakan dirinya atau membahayakan janinnya. Terakhir, bisa menjadi haram, apabila puasa tersebut tidak memberatkan dirinya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa ibu hamil kondisinya ada dua. Pertama, dirinya kuat dan giat, tidak sulit baginya berpuasa dan tidak berpengaruh bagi janinnya. Ibu seperti ini wajib berpuasa, karena tidak ada kepentingan bagi ibu tersebut untuk meninggalkan puasa.

"Kedua, ibu tersebut tidak kuasa berpuasa, karena hamilnya berat atau fisiknya lemah atau sebab lain. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya dia berbuka. Apalagi jika berbahaya bagi janinnya, ketika itu dia bahkan wajib berbuka."

Baca Juga: 7 Pantangan Ibu Hamil Menurut Islam, Yuk Hindari!

Hukum Berpuasa Bagi Ibu Hamil menurut Ilmu Kedokteran

yang harus dicek di dokter kandungan saat awal kehamilan hero

Foto: Orami Photo Stocks

Penelitian masih berlangsung di bidang ini dan meskipun buktinya tidak jelas, banyak ahli percaya bahwa berpuasa selama masa kehamilan bukanlah ide yang baik. Berikut ini adalah ulasan tentang hukum berpuasa bagi ibu hamil menurut ilmu kedokteran atau medis.

Apakah Puasa Aman Bagi Ibu Hamil?

Dikutip dari BBC, sebuah studi oleh para ilmuwan di Amerika Serikat dan berdasarkan data sensus dari AS, Irak dan Uganda, menemukan bahwa ibu hamil yang berpuasa cenderung memiliki bayi yang lebih kecil dan lebih rentan mengalami ketidakmampuan belajar di masa dewasa.

Para peneliti dari Universitas Columbia ini menemukan bahwa tren tersebut paling menonjol jika calon ibu berpuasa di awal kehamilan dan selama musim panas ketika hari-hari yang lebih panjang. Itu artinya, mereka menghabiskan lebih banyak waktu tanpa makanan dan minuman.

Dikutip dari British Nutrition Fondation, ada beberapa bukti lain juga yang menunjukkan bahwa ibu hamil yang berpuasa mungkin memiliki plasenta yang lebih kecil dan atau bayi dengan berat badan lahir yang sedikit lebih rendah, dibandingkan dengan bayi dari ibu yang tidak berpuasa.

Tidak hanya itu, bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa baik saat hamil atau pada saat pembuahan juga dapat tumbuh menjadi sedikit lebih pendek dan lebih kurus. Tetapi sekali lagi, perbedaan ini sangat kecil.

Puasa juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika berpuasa selama musim panas. Ini dapat memengaruhi fungsi ginjal dan jumlah cairan di sekitar bayi. Namun, penelitian lain belum menemukan adanya perbedaan antara bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa dan yang tidak berpuasa.

Ada beberapa kekhawatiran bahwa puasa dapat memengaruhi seberapa baik bayi tumbuh di dalam rahim dan puasa juga dapat dikaitkan dengan persalinan prematur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak bayi yang lahir lebih awal jika ibunya berpuasa, meskipun negara tempat tinggal juga memainkan peran yang sama.

Dampak puasa selama kehamilan mungkin tergantung pada kesehatan ibu secara keseluruhan, tahap kehamilan dan kapan puasa dilaksanakan. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya apa dampak puasa terhadap kesehatan dan perkembangan bayi dan apa artinya bagi kesehatan anak di kemudian hari.

Secara umum, puasa tidak dianjurkan ketika ibu hamil mengalami komplikasi selama kehamilan, seperti darah tinggi, diabetes, infeksi ginjal, atau gangguan jantung.

Baca Juga: Tetap Puasa Saat Hamil, Kenapa Tidak?

Persiapan Puasa yang Tepat Bagi Ibu Hamil

Program Hamil Anak Kedua, Ini Hal yang Harus Moms Pertimbangkan.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Jika berat badan dan gaya hidup Moms sebagai ibu hamil sudah sehat secara umum, kemungkinan besar Moms bisa menjadi ibu hamil yanh dapat mengatasi puasa dengan lebih baik. Bayi Moms membutuhkan nutrisi dari ibunya dan jika tubuh Moms memiliki simpanan energi yang cukup, puasa kemungkinan akan berdampak lebih kecil.

Bagaimana tubuh Moms menangani puasa juga akan bergantung pada kesehatan Moms secara umum sebelum hamil, tahap kehamilan dan lamanya waktu Moms berpuasa di siang hari.

Rencanakan beberapa hal, yaitu:

  • Konsultasi dengan dokter

Bicaralah dengan dokter yang dapat memeriksa kesehatan Moms dan cari tahu kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi akibat puasa yang Moms lakukan. Misalnya, diabetes (diabetes gestasional) dan anemia.
Moms mungkin perlu lebih sering melakukan pemeriksaan selama puasa untuk memantau kadar gula darah. Puasa dianggap tidak aman jika Moms menderita diabetes dan sedang hamil.

  • Biasakan Mengurangi Konsumsi Beberapa Makanan Berbahaya
    Jika Moms terbiasa minum banyak minuman berkafein, seperti kopi, teh dan cola, kurangi sebelum Moms mulai berpuasa untuk mencegah sakit kepala karena gejala putus zat. Moms tidak boleh mengonsumsi lebih dari 200mg kafein atau sekitar dua cangkir kopi instan saat sedang hamil. Ingatlah bahwa coklat dan teh hijau juga mengandung sedikit kafein.
  • Atur Pekerjaan di Kantor
    Bicaralah dengan atasan atau manager HRD Moms tentang pola bekerja selama puasa. Jika memungkinkan, Moms bisa meminta pengurangan jam kerja atau memiliki waktu istirahat ekstra.
  • Buat Pola atau Jadwal Makan
    Dokter, bidan atau ahli diet dapat membantu memenuhi kebutuhan diet Moms selama hamil sekaligus berpuasa. Buatlah catatan harian tentang makanan, sehingga Moms tahu apa yang akan dan telah Moms makan dan minum.
  • Atur Prioritaskan dalam Berkegiatan Fisik
    Ketika hamil dan puasa, simpan energi Moms yang terbatas. Atur prioritas, kegiatan mana yang harus Moms lakukan dan kesampingkan. Mulailah mempersiapkan hal-hal lain seperti berbelanja kebutuhan bayi, lebih awal atau sebelum Moms berpuasa.

Baca Juga: 4 Kegiatan yang Tidak Boleh Dilakukan di Trimester Ketiga Kehamilan

Cara Agar Puasa Lebih Mudah Dijalani Ibu Hamil

Berpuasa Dapat Meningkatkan Kesuburan dan Peluang Hamil? 3

Foto: Orami Photo Stocks

Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Klinik iCare, Dubai, Dr. Rashi Gupta, ada beberapa tips penting yang harus diikuti ibu hamil saat berpuasa. Beberapa tips itu antara lain:

  • Tetap terhidrasi atau minum banyak air saat sahur dan buka puasa. Moms juga harus tetap tenang, karena jika tidak maka Moms dapat mengalami dehidrasi dengan cepat. Ini bukan hal yang baik untuk Moms atau bayi Moms.
  • Makan makanan kaya energi saat sahur
  • Berbuka puasa dengan makanan sehat termasuk protein, buah-buahan, kurma dan serat. Tanyakan keluarga atau teman yang pernah berpuasa saat hamil untuk tip dan saran tentang pilihan makanan.
  • Berbuka puasa jika Moms merasa terlalu lemah atau tidak berenergi.
  • Hindari aktivitas yang akan membuat Moms kelelahan secara fisik saat berpuasa. Cobalah untuk tidak berjalan jauh atau membawa barang berat. Moms juga harus mengurangi pekerjaan rumah tangga dan apa pun yang membuat Moms lelah. Jangan ragu menerima bantuan yang ditawarkan kerabat.
  • Istirahat dan tidur nyenyak. Rencanakan hari-hari Moms agar dapat beristirahat secara teratur.
  • Tetap tenang dan hindari situasi stres. Perubahan dalam rutinitas Moms, kekurangan makanan dan air, serta makan dan minum pada waktu yang berbeda, dapat menyebabkan stres. Ibu hamil yang berpuasa ternyata memiliki kadar hormon stres kortisol yang lebih tinggi daripada ibu hamil yang tidak berpuasa.


Baca Juga: 5 Olahraga untuk Ibu Hamil yang Berpuasa Agar Tetap Bugar

Makanan yang Tepat Untuk Ibu Hamil Berbuka Puasa

Potluck Buka Puasa HERO.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Ibu hamil harus memilih berbagai makanan sehat dan banyak minum saat sahur dan saat buka puasa. Jangan ragu untuk makan camilan sehat sebelum tidur. Atur jam alarm Moms, sehingga tidak ketinggalan makan sebelum fajar atau sahur.

Pilih makanan yang melepaskan energi secara perlahan. Karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian dan biji-bijian, serta makanan berserat tinggi, seperti kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan kering, akan membantu Moms terus berenergi. Ini juga akan membantu Moms mencegah sembelit.

Perlu diingat juga untuk menghindari mengonsumsi banyak makanan manis yang akan meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Gula darah Moms kemudian akan turun dengan cepat, yang mungkin membuat Moms merasa lemas dan pusing.

Daripada makanan olahan berlemak tinggi, pilih opsi yang lebih sehat seperti kentang atau buncis. Pastikan Moms mendapatkan banyak protein dari kacang-kacangan dan daging serta telur yang dimasak dengan baik. Ini akan membantu bayi Moms tumbuh dengan baik.

Terakhir, cobalah minum sekitar 1,5 liter hingga 2 liter air atau cairan lain antara senja dan fajar dan hindari minuman berkafein seperti teh dan kopi. Kafein membuat Moms kehilangan lebih banyak air saat buang air kecil, sehingga cenderung mengalami dehidrasi terutama jika cuaca panas.

Baca Juga: 6 Menu Kaya Gizi untuk Ibu Hamil yang Berpuasa

Tanda Bahaya Puasa Bagi Ibu Hamil

Ini Bahaya Herpes pada Ibu Hamil dan Janin yang Dikandung, Catat!

Foto: Orami Photo Stocks

Ketika menjadi ibu hamil, tentu saja Moms boleh berpuasa. Akan tetapi, Moms juga harus memperhatikan tanda-tanda bahaya yang mungkin membuat Moms harus membatalkan puasa. Beberapa tanda itu, adalah:

  • Berat badan yang tidak bertambah atau justru turun. Moms mungkin akan ditimbang selama pemeriksaan antenatal, tetapi Moms juga bisa mencatat berat badan Moms sendiri saat di rumah. Ini membantu melihat apakah puasa tang Moms lakukan, memangkas berat badan Moms.
  • Moms menjadi sangat haus, lebih jarang buang air kecil atau malahan air seni Moms menjadi berwarna gelap dan berbau tajam. Ini adalah tanda dehidrasi dan dapat membuat Moms lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih (ISK) atau komplikasi lainnya.
  • Moms mengalami sakit kepala atau nyeri lain atau demam.
  • Moms menjadi mual atau mulai muntah.

Moms harus segera menghubungi dokter ketika:

  • Ada perubahan nyata pada gerakan bayi, seperti jika bayi Moms tidak banyak bergerak atau banyak menendang.
  • Moms merasakan nyeri seperti kontraksi. Ini bisa menjadi tanda persalinan prematur.
  • Moms merasa pusing, ingin pingsan, lemas, bingung atau lelah, bahkan setelah Moms beristirahat dengan baik. Segera berbuka puasa dan minum air yang mengandung garam dan gula, atau larutan rehidrasi oral seperti Dioralyte, dan hubungi dokter.

Baca Juga: Tips Mengatasi 3 Gangguan Kehamilan Saat Puasa

Artikel Terkait