RUPA-RUPA
18 Oktober 2019

Identik dengan Hal Seram, Ini Sejarah Halloween dan Maknanya!

Perayaan Halloween menandai masuknya awal musim dingin yang gelap dan dingin, masa yang sering dikaitkan dengan kematian manusia
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Dina Vionetta

Bulan Oktober sering dikaitkan dengan perayaan Halloween, yang mengusung tema horor, di mana orang-orang turut mengenakan kostum karakter yang menyeramkan.

Lalu, seperti apa sejarah Halloween? Apakah Halloween hanya sekadar karnival horor yang diadakan setiap tahunnya?

Baca Juga: 4 Ide DIY Kostum Halloween untuk Ibu Hamil

Asal Mula Nama "Halloween"

halloween-3.jpg

Foto: parentscanada.com

Mengutip Country Living, kata "Halloween" itu sendiri secara harfiah berarti "malam suci/hallowed evening" dan sebelumnya dikenal oleh masyarakat awal Eropa sebagai All Hallows' Eve.

Hari "All Hallows' Eve" (31 Oktober) dan "All Saints' Day" (1 November), keduanya memberi penghormatan kepada para suci (hallows = para suci).

Nama itu akhirnya disingkat menjadi "Halloween," yang istilahnya telah Moms ketahui hingga hari ini.

Halloween jatuh pada tanggal 31 Oktober, karena festival kuno dari Gaelik Samhain, yang dianggap sebagai akar paling awal dari Halloween, terjadi pada hari ini.

Baca Juga: 3 Resep Snack Favorit Anak untuk Pesta Halloween

Sejarah Perayaan "Halloween"

halloween-2.jpg

Foto: fee.org

Mengutip History.com, sejarah Halloween dimulai dari festival Samhain dari kaum Celtic kuno, yang hidup pada 2.000 tahun lalu. Orang-orang ini menyalakan api unggun dan memakai kostum untuk menangkal hantu.

Perayaan di tanggal 31 Oktober juga menandai akhir musim panas dan memasuki awal musim dingin yang gelap dan dingin, masa yang sering dikaitkan dengan kematian manusia.

Kaum Celtic percaya bahwa pada malam sebelum tahun baru, batas antara dunia fana dan baka menjadi kabur.

Selain itu, Celtic berpikir bahwa kehadiran roh-roh dunia lain membantu para Druid, atau pendeta Celtic, untuk membuat ramalan tentang masa depan.

Ramalan-ramalan ini adalah sumber penting akan kenyamanan bagi kaum Celtic selama menjalani masa musim dingin yang panjang dan gelap.

Untuk memperingati peristiwa itu, Druid membangun perapian besar yang sakral, tempat orang-orang berkumpul untuk membakar tanaman dan hewan sebagai pengorbanan bagi para dewa Celtic.

Selama perayaan, bangsa Celtic mengenakan kostum, biasanya terdiri atas kepala dan kulit binatang, dan berusaha saling memberi tahu nasib satu sama lain.

Ketika perayaan selesai, mereka kembali menyalakan api unggun yang telah mereka padamkan semalam dari perapian sakral, untuk membantu melindungi mereka selama musim dingin nanti.

Baca Juga: Tak Perlu Kostum Ribet, Ini Ide 5 Tokoh Hantu Anak di Film Horor untuk Rayakan Halloween

Tradisi "Trick-or-Treat" dan Halloween Masa Kini

halloween-1.jpg

Foto: history.com

Meminjam tradisi Eropa, orang Amerika mulai mengenakan kostum dan pergi dari rumah ke rumah, meminta makanan atau uang, yang akhirnya menjadi tradisi "trick-or-treat".

Para wanita muda percaya bahwa pada perayaan Halloween mereka dapat mengetahui nama atau penampilan calon suaminya dengan melakukan trik-trik jenis tertentu.

Pada akhir 1800-an, ada gerakan di Amerika untuk menjadikan Halloween sebuah liburan dengan komunitas dan kumpul-kumpul tetangga, daripada mengaitkan dengan hantu, prank, dan sihir.

Masuk ke era 1900-an, pesta Halloween untuk anak-anak dan orang dewasa kini melibatkan permainan, makanan, dan kostum yang meriah.

Surat kabar dan tokoh masyarakat pun mulai menghilangkan unsur yang "menakutkan" atau "aneh" dari perayaan Halloween. Karena hal ini, Halloween kehilangan makna 'takhayul' dan 'keagamaan' pada awal abad ke-20.

Nah, itulah fakta mengenai Halloween. Kalau Moms, ikut merayakan acara Halloween atau tidak?

(AP/DIN)

Artikel Terkait