TRIMESTER 1
23 September 2020

Seberapa Penting Imunisasi untuk Ibu Hamil?

Lindungi diri dan bayi dengan mendapatkan imunisasi yang aman untuk ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Pemberian imunisasi dimaksudkan untuk membantu imunitas dan daya tahan tubuh. Bukan hanya untuk anak, tersedia juga imunisasi untuk pempuan sebelum, selama dan setelah kehamilan. Namun, apakah itu perlu? Apakah imunisasi juga aman diberikan untuk ibu hamil?

Ternyata, imunisasi yang diberikan sebelum dan selama kehamilan memainkan peran penting dalam melindungi kesehatan Moms, dan juga menjaga kesehatan bayi. Kekebalan ibu adalah garis pertahanan pertama bayi terhadap penyakit tertentu.

"Perempuan hamil membuat banyak antibodi, dan mereka mentransfer antibodi ini ke bayi selama bulan-bulan terakhir kehamilan. Vaksinasi akan meningkatkan antibodi pada ibu dan bayi,” kata Dr. Sharon Nachman, MD, kepala divisi penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak Stony Brook.

Sharon menjelaskan, vaksin memiliki tiga bentuk, yakni: virus hidup, virus mati, dan toksoid yang merupakan protein tidak berbahaya yang diubah secara kimiawi yang diambil dari bakteri. Ibu hamil tidak boleh melakukan imunisasi yang menggunakan virus hidup seperti kombinasi vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR).

Ini karena ada kemungkinan kecil akan membahayakan bayi yang belum lahir. Vaksin yang dibuat dari virus mati seperti imunisasi flu dan vaksin toksoid seperti suntikan tetanus / difteri / pertusis (Tdap) disebutkan aman untuk diberikan pada ibu hamil.

Dalam studi yang dipublikasikan oleh The Pediatric Infectious Disease Journal, memberikan imunisasi ibu hamil memainkan peran penting dalam melindungi perempuan hamil dan menghindarkan janin dan bayi dari infeksi.

Baca Juga: https://parenting.orami.co.id/magazine/vaksin-meningitis-saat-hamil/

Imunisasi Sebelum Kehamilan

Imunisasi Ibu Hamil -1

Foto: Orami Stock Photos

Terdapat infeksi tertentu yang berbahaya selama kehamilan ternyata dapat dicegah dengan imunisasi. Apa saja itu?

  • Vaksin Campak, Gondongan dan Rubella (MMR). Campak, penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus yang dimulai dengan gejalan demam, batuk, dan pilek dan diikuti dengan ruam merah berbintik. Gondongan juga merupakan penyakit virus menular yang menyebabkan kelenjar ludah membengkak. Jika terinfeksi, risiko keguguran dan persalinan prematur dapat meningkat.
  • Virus rubella / campak Jerman. Saat terkena penyakit ini, Moms akan menunjukkan gejala mirip flu yang sering diikuti dengan ruam. Hingga 85 persen bayi dari ibu yang mengidapnya selama trimester pertama akan mendapatkan bayi yang mengalami cacat lahir, seperti gangguan pendengaran dan cacat otak.
  • Vaksin Varicella / Cacar Air. Penyakit yang sangat menular ini menyebabkan demam dan ruam yang sangat gatal. Sekitar 2 persen bayi yang ibunya terkena cacar air selama lima bulan pertama kehamilan memiliki cacat lahir, termasuk anggota badan yang cacat dan lumpuh. Ibu hamil yang terkena cacar air saat persalinan juga dapat memberi infeksi yang mengancam nyawa bayi.

Baca Juga: https://parenting.orami.co.id/magazine/vaksin-tetanus-pada-ibu-hamil/

Imunisasi Ibu Hamil

Imunisasi Ibu Hamil -2

Foto: Orami Stock Photos

Masih ada yang belum mengetahui bahwa imunisasi yang dibuat dari virus mati biasanya aman untuk diberikan kepada ibu hamil. Dokter biasanya dapat membantu memutuskan imunisasi apa yang harus Moms lakukan.

Sebab, Moms tidak akan mengetahui kondisi bayi setelah lahir nanti. "Hal terburuk adalah seorang bayi terkena salah satu penyakit yang menghancurkan ini karena seorang ibu tidak divaksinasi dengan benar," kata Sharon.

Jadi, apa saja imunisasi yang aman dilakukan oleh ibu hamil ?

1. Vaksin Influenza (Suntikan Flu)

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan imunisasi flu untuk semua perempuan yang akan hamil selama musim flu, yaitu November hingga Maret. Suntikan flu terbuat dari virus yang sudah mati, jadi aman untuk Moms dan bayi.

Ibu hamil yang terserang flu terutama selama paruh kedua kehamilan, lebih mungkin menderita gejala atau komplikasi parah seperti pneumonia dibandingkan perempuan lain. Bahkan kasus flu sedang dapat mengakibatkan demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan batuk.

Sebagian besar gejala ini akan berlangsung sekitar empat hari, meskipun batuk dan kelelahan dapat berlangsung selama dua minggu atau lebih. Tentu saja ini akan mengganggu kehamilan, yang akan dirasakan juga oleh janin.

2. Tetanus Tetanus / Difteri / Pertusis (Tdap)

Karena meningkatnya pertusis atau batuk rejan di Amerika, rekomendasi mengenai vaksin Tdap diperbarui pada Juni 2013. Jika diperlukan, imunisasi tetanus / difteri booster (Td) bisa diberikan, termasuk pertusis.

Tdap dapat diberikan kapan saja selama kehamilan, meskipun akan lebih baik dilakukan antara usia 27 dan 36 minggu kehamilan.

Tetanus yang juga disebut lockjaw, adalah penyakit pada sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang otot yang menyakitkan. Bakteri penyebab tetanus dapat ditemukan di tanah dan kotoran hewan.

Itu dapat memasuki aliran darah melalui luka di kulit, jadi konsultasikan dengan dokter jika mendapatkan luka yang dalam atau kotor. Jika tertular saat hamil, tetanus bisa menyebabkan kematian janin.

Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan , kelumpuhan, koma, bahkan kematian. Meski jarang terjadi, tetapi Moms perlu suntikan penguat setiap 10 tahun; jika tidak, kekebalan tubuh akan berkurang.

Pertusis merupakan penyakit bakteri yang sangat menular, bahkan bisa berakibat fatal pada bayi dan ditandai dengan batuk yang dalam dan berbunyi seperti ‘teriakan’ bernada tinggi.

Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Mendapatkan Imunisasi Ulang?

3. Imunisasi Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyebabkan peradangan hati, mual, kelelahan, dan penyakit kuning seperti kulit dan mata menguning. Dalam beberapa kasus, ini dapat menyebabkan penyakit hati kronis, kanker hati, dan kematian.

Ibu hamil dengan hepatitis B dapat menularkan infeksi kepada bayinya selama persalinan. Tanpa pengobatan yang tepat, bayi memiliki resiko tinggi untuk tertular penyakit hati yang serius saat dewasa.

4. Vaksin Hepatitis A

Vaksin ini melindungi dari penyakit hati yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Gejalanya berupa demam, kelelahan, dan mual. Biasanya tidak seserius penyakit versi B, dan penyakit ini tidak akan mempengaruhi bayi yang belum lahir.

Dalam kasus yang jarang terjadi, hepatitis A dapat menyebabkan persalinan prematur dan infeksi pada bayi baru lahir. Meski keamanan vaksin ini belum ditentukan, tetapi karena diproduksi dari virus mati, risikonya cenderung rendah.

5. Vaksin Pneumokokus

Jika Moms memiliki kondisi kronis tertentu seperti diabetes atau penyakit ginjal, dokter mungkin akan merekomendasikan vaksin pneumokokus, yang melindungi dari beberapa bentuk pneumonia . Meskipun potensi bahaya pada bayi yang belum lahir tidak diketahui, para peneliti percaya bahwa risikonya rendah.

Fakta Tentang Imunisasi Ibu Hamil

Imunisasi Ibu Hamil -3

Foto: Orami Stock Photos

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada beberapa hal tentang imunisasi ibu hamil yang harus Moms ketahui.

  • Imunisasi ibu hamil memberikan perlindungan dini pada bayi. Mendapatkan imunisasi flu dan vaksin Tdap saat hamil menyebabkan tubuh Moms membuat antibodi pelindung semacam protein yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan penyakit dan beberapa antibodi tersebut akan diteruskan kepada bayi.
  • Batuk rejan bisa sangat berbahaya bagi bayi. Tdap akan melindungi dari batuk rejan yang dapat mengancam jiwa janin. Sekitar setengah dari bayi berusia kurang dari 1 tahun yang menderita batuk rejan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Semakin muda usia bayi ketika menderita batuk rejan, semakin besar kemungkinan bayi perlu dirawat di rumah sakit. Meskipun beberapa bayi sering batuk, bayi lain yang mengalami batuk rejan tidak batuk sama sekali. Akan tetapi bisa menyebabkan bayi berhenti bernapas dan membiru.
  • Flu saat hamil dapat menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius. Perubahan fungsi kekebalan, jantung, dan paru-paru selama kehamilan membuat Moms lebih mungkin terkena sakit parah akibat flu. Moms juga memiliki risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi seperti persalinan prematur dan kelahiran prematur jika terserang flu. Ini juga dapat meningkatkan kemungkinan bayi mengalami masalah serius.
  • Waktu adalah segalanya. Dalam hal vaksin, pengaturan waktu juga penting. CDC merekomendasikan untuk mendapatkan imunisasi Tdap dan flu pada trimester ketiga antara minggu ke 27 dan 36, sehingga Moms memberikan antibodi pelindung terbanyak kepada bayi sebelum lahir, dilansir The Lancet.
  • Siapapun yang ada di sekitar bayi juga membutuhkan vaksin. Bayi baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sepenuhnya, yang membuatnya sangat rentan terhadap infeksi. Karena itu, siapa pun yang berada di sekitar bayi harus selalu mengetahui semua vaksin rutin, termasuk vaksin Tdap dan flu. Siapapun orangnya, harus mendapatkan vaksin setidaknya dua minggu sebelum bertemu dengan bayi, karena dibutuhkan sekitar dua minggu untuk mengembangkan antibodi setelah vaksinasi.
  • Jika hamil lagi, harus vaksin lagi. Jumlah antibodi dalam tubuh setelah diimuniasasi akan menurun seiring waktu. Jadi, pastikan Moms memberi imunitas yang dibutuhkan pada bayi kedua, ketiga dan seterusnya dengan mendapatkan imuniasai untuk ibu hamil.

Baca Juga: Mengenal Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan imunisasi ibu hamil ini agar mendapatkan waktu kehamilan yang sehat.

Artikel Terkait