KESEHATAN
13 Februari 2020

Ini 4 Fase Menstruasi yang Belum Banyak Diketahui Wanita

Apakah Moms sudah mengetahuinya?
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Pada kondisi yang normal, wanita akan mengalami menstruasi setiap bulannya, dimulai dari masa pubertas hingga memasuki usia menopause.

Setiap wanita pun memiliki siklus menstruasi yang berbeda-beda, ada yang lebih cepat ataupun lebih lambat. Hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang siklus menstruasi berikut ini.

Baca Juga: 6 Manfaat Mengejutkan dari Menstruasi

Pengertian Siklus Menstruasi

2 Seminggu Setelah Menstruasi.jpg

Siklus menstruasi adalah proses bulanan yang dialami oleh wanita, di mana terjadi serangkaian perubahan pada tubuh dan organ reproduksinya karena didorong oleh hormon. Dalam proses ini, wanita dapat mengalami menstruasi atau kehamilan.

Pada setiap siklus menstruasi, sel telur akan berkembang dan dilepaskan dari ovarium (ovulasi). Di saat yang sama, lapisan rahim pun akan menebal untuk mempersiapkan kehamilan.

Akan tetapi, jika sel telur yang lepas tak juga dibuahi, maka lapisan tersebut akan luruh dan keluar melalui vagina. Kondisi inilah yang disebut dengan menstruasi. Sementara itu, bila sel telur tersebut berhasil dibuahi maka kehamilan bisa terjadi.

Siklus menstruasi wanita dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:

  • Fase menstruasi
  • Fase folikuler
  • Fase ovulasi
  • Fase luteal

Penting bagi wanita untuk mengenali setiap fase tersebut, sebab ini dapat membantu memprediksi waktu menstruasi yang akan datang, serta mengetahui masa subur untuk merencanakan kehamilan.

Lantas, apa saja yang terjadi dalam keempat fase menstruasi tersebut?

Baca Juga: Muncul Lendir Bening Setelah Menstruasi, Wajarkah?

4 Fase Menstruasi Wanita

Berikut penjelasan komprehensif tentang 4 fase menstruasi yang umumnya dialami oleh wanita:

1. Fase Menstruasi

warna darah haid hitam - 3

Fase menstruasi merupakan tahap pertama dari siklus menstruasi. Fase ini dimulai ketika sel telur yang dilepas oleh ovarium dari siklus sebelumnya tidak dibuahi.

Tidak terjadinya kehamilan membuat kadar hormon estrogen dan progesteron yang dimiliki wanita menurun.

Lapisan rahim yang menebal untuk mempersiapkan kehamilan pun tak lagi dibutuhkan.

Ini menyebabkan lapisan tersebut meluruh, lalu keluar lewat vagina sebagai kombinasi darah, lendir, dan jaringan dari rahim.

Ketika mengalami menstruasi, wanita dapat merasakan gejala-gejala, seperti:

  • Kram perut
  • Payudara terasa kencang
  • Kembung
  • Perubahan suasana hati
  • Mudah marah
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri punggung bawah

Rata-rata wanita mengalami fase ini selama 3-7 hari. Namun, sebagian lainnya bisa saja memiliki periode yang lebih lama.

2. Fase Folikuler

Bikin Haid Tak Teratur dan Ganggu Kesuburan, Apa Penyebab PCOS dan Gejalanya 02.jpg

Fase folikuler dimulai pada hari pertama haid (terjadi tumpang tindih dengan fase menstruasi), dan berakhir ketika berovulasi.

Pada awalnya, hipotalamus mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH).

Hormon ini dapat merangsang indung telur untuk menghasilkan 5-20 kantong kecil yang disebut dengan folikel.

Setiap folikel ini mengandung sel telur yang belum matang. Namun, hanya sel telur paling sehatlah yang pada akhirnya akan matang.

Akan tetapi, dalam kasus yang lebih jarang, seorang wanita bisa saja memiliki dua sel telur yang matang.

Selanjutnya, sisa folikel tersebut akan diserap kembali ke dalam tubuh.

Folikel yang matang dapat memicu lonjakan estrogen untuk menebalkan lapisan rahim sehingga tercipta lingkungan yang kaya nutrisi bagi embrio untuk tumbuh.

Fase folikel ini rata-rata berlangsung selama 16 hari, namun dapat pula berkisar antara 11-27 hari.

3. Fase Ovulasi

Moms Perlu Tahu, Ini Perbedaan Menstruasi di Usia 20-an, 30-an, dan 40-an

Meningkatnya kadar estrogen selama fase folikel memicu kelenjar pituitari melepas hormon luteinizing (LH). Inilah awal terjadinya proses ovulasi.

Ovulasi adalah proses ketika ovarium melepas sel telur yang matang.

Sel telur pun bergerak ke tuba falopi menuju rahim untuk dibuahi oleh sperma.

Fase ovulasi merupakan satu-satunya waktu dalam siklus menstruasi yang memungkinkan wanita untuk hamil. Ketika mengalami ovulasi, dapat merasakan gejala-gejala berikut:

  • Terjadi sedikit peningkatan suhu basal tubuh (suhu rendah tubuh selama istirahat berkisar antara 35-36 derajat Celcius).
  • Vagina mengeluarkan cairan yang lebih tebal dan bertekstur seperti putih telur.

Ovulasi terjadi pada hari ke-14 jika memiliki siklus haid 28 hari (tepat di tengah siklus menstruasi).

Fase ini berlangsung sekitar 24 jam. Setelah sehari, sel telur pun akan mati atau larut jika tidak dibuahi.

4. Fase Luteal

Sakit kepala.jpg

Setelah folikel melepaskan sel telurnya, zat ini berubah menjadi korpus luteum.

Korpus luteum dapat melepaskan hormon, terutama progesteron dan beberapa estrogen.

Peningkatan hormon ini membuat lapisan rahim menebal, dan siap untuk ditanami sel telur yang telah dibuahi.

Jika hamil, tubuh akan menghasilkan human chorionic gonadotropin (HCG) yang dapat membantu menjaga korpus luteum maupun lapisan rahim tetap tebal.

Sementara, jika tidak hamil, maka korpus luteum akan menyusut dan diserap.

Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan kadar estrogen dan progesteron yang memicu menstruasi.

Pada fase ini, wanita yang tidak hamil akan mengalami gejala sindrom premenstruasi (PMS), seperti:

  • Kembung
  • Payudara terasa nyeri atau bengkak
  • Suasana hati berubah
  • Sakit kepala
  • Berat badan bertambah
  • Hasrat seks berubah
  • Mengidam makanan
  • Susah tidur

Fase luteal berlangsung selama 11-17 hari, namun umumnya terjadi selama 14 hari. Itulah 4 fase yang terjadi pada siklus menstruasi wanita.

Baca Juga: Berapa Lama Harus Mengganti Pembalut Saat Menstruasi?

Siklus Menstruasi Abnormal

Mual Jelang Menstruasi, Apa Sebabnya-2.jpg

Sebagian wanita dapat mengalami siklus menstruasi yang tidak biasa.

Konsultasikan pada dokter jika mengalami satu atau lebih dari beberapa hal berikut:

  • Haid berhenti selama lebih dari 90 hari padahal tidak hamil.
  • Siklus menstruasi jadi tidak menentu padahal sebelumnya teratur.
  • Mengalami pendarahan lebih dari 7 hari.
  • Mengalami pendarahan yang lebih berat dari biasanya (menghabiskan satu pembalut setiap 2 jam).
  • Siklus menstruasi kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari.
  • Mengalami pendarahan di antara periode menstruasi.
  • Tiba-tiba demam dan merasa sakit saat menstruasi.

Kondisi ini dapat terjadi karena gangguan makan, penurunan berat badan yang ekstrim, olahraga berlebihan, PCOS, hilangnya fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun, penyakit radang panggul, dan fibroid rahim.

Pada sebagian wanita, penggunaan pil KB juga dapat membantu mengatur siklus menstruasi.

Selalu bicarakan pada dokter jika Moms merasa siklus menstruasi yang tak biasa. Dokter akan mencari tahu penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Sumber: sehatq.com

Konten ini merupakan kerja sama yang bersumber dari SehatQ

Isi konten di luar tanggung jawab Orami Parenting

Artikel Terkait