BALITA DAN ANAK
20 Agustus 2019

Ini Dampaknya Kalau Anak Bersekolah Terlalu Dini

Anak bisa mengalami bosan kesepian, takut, marah, stres, dan lelah
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak di usia dini. Mereka memiliki beberapa alasan, di antaranya agar anak tumbuh cerdas.

Sebab, di usia emas (golden age) yakni 0-5 tahun, otak anak menyerap seperti spons. Karena itu, mereka yakin bahwa inilah usia yang tepat untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan keterampilan lewat sekolah.

Namun, psikolog keluarga dari Yayasan Kita & Buah Hati, Elly Risman, S. Psi., memiliki pendapat yang berbeda. Menurut Elly, bagian otak anak usia dini yang sedang berkembang pesat adalah pusat perasaan, bukan pusat berpikir. Kebutuhan anak di usia 0-8 tahun adalah bermain dan kelekatan.

“Balita harus menjadi anak yang bahagia, bukan anak yang pintar,” tegas Elly.

Orang tua yang menyekolahkan anaknya sejak dini biasanya berargumen bahwa anak perlu belajar sosialisasi dan berbagi. Namun, Elly membantah. “Anak usia di bawah lima tahun belum saatnya belajar bersosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama, baru bisa bermain bersama-sama,” jelas Elly.

Baca Juga: 5 Ekstrakurikuler Unik yang Bikin Anak Semangat Sekolah

Bermain bersama artinya berbagi permainan yang sama, sedangkan bermain bersama-sama berarti hanya bermain di waktu dan tempat yang sama, tapi tidak berbagi mainan.

Mungkin Moms berpikir, “Lo, di PAUD, kan, tugas anak-anak memang hanya bermain? Lagi pula mainannya bermacam-macam dan merangsang kreativitas anak.”

Elly menjawab, permainan terbaik untuk balita adalah tubuh Ayah dan Ibunya. Misalnya, bermain peran dan petak umpet. Lagi pula hal ini menciptakan kelekatan antara anak dan orang tua.

Soal mainan, menurut Elly, permainan paling kreatif justru adalah bermain tanpa mainan. Misalnya, panci dijadikan drum atau kardus dijadikan kapal. “Jangan batasi kreativitas anak dengan mainan siap pakai,” kata Elly.

Dampak Anak Sekolah Terlalu Dini

anak masuk sekolah

Foto: mamapapa.id

Menurut Elly, semakin awal orang tua menyekolahkan anak, semakin cepat anak mengalami bosan kesepian, takut, marah, stres, dan lelah (BLAST). “Anak yang mengalami BLAST lebih rentan menjadi pelaku dan korban bullying, pornografi, serta kejahatan seksual,” terang Elly.

Beberapa penelitian juga menunjukkan efek negatif menyekolahkan anak terlalu muda. Salah satunya adalah studi oleh Harvard Medical School yang dimuat di The New England Journal of Medicine pada 2018.

Di Amerika Serikat, persyaratan masuk TK biasanya adalah harus berusia lima tahun per 1 September. Berdasarkan studi tadi, anak-anak yang lahir di bulan Agustus (baru saja berulang tahun kelima) memiliki kecenderungan mendapat diagnosis dan perawatan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) sebesar 34% dibanding teman-temannya yang lebih tua (misalnya temannya berulang tahun tanggal 15 September, berarti umurnya hampir enam tahun saat mendaftar TK).

Baca Juga: Anak Mama Masuk Sekolah untuk Pertama Kali? Perhatikan 5 Hal Berikut

Diagnosis tersebut bisa jadi benar, namun bisa juga kurang akurat. Diagnosis ADHD bisa jadi diberikan karena anak terlihat kurang memiliki kontrol diri, lebih energik, rentang perhatiannya lebih singkat, serta tidak dapat duduk diam dan mendengarkan guru dalam waktu lama dibanding teman-temannya yang lebih tua. Padahal, bisa jadi anak tidak mengalami ADHD, hanya umurnya saja yang masih terlalu muda untuk bersekolah.

Hasil penelitian para ahli di University of Toronto, Northwestern University, dan University of Florida pada 2017 juga mendukung hal ini. Apapun tingkat pendidikan dan pendapatan orang tuanya, anak-anak di Florida yang berulang tahun di bulan Agustus (dalam konteks pendaftaran sekolah 1 September) memiliki skor tes SD yang lebih buruk, cenderung tidak kuliah, dan berisiko dipenjara karena melakukan tindakan kriminal di bawah umur.

Pada usia 0-8 tahun, selisih umur setahun saja membuat perkembangan dan kematangan anak jauh berbeda. Ketika anak mendapat pendidikan yang tidak sesuai tingkat perkembangannya, anak bisa merasa tidak cakap, cemas, dan bingung. Karena tidak bisa memenuhi ekspektasi akademik dan perilaku, anak jadi mendapat label ADHD, gangguan belajar, atau perkembangannya terlambat.

Apalagi, sekolah zaman sekarang rasanya lebih susah dibanding sekolah di zaman kita, ya, Moms? Anak-anak sudah harus bisa menghafal banyak kata, menulis, dan membaca sebagai persyaratan masuk SD.

Baca Juga: A-Z Persiapan Hari Pertama Sekolah

Keuntungan Menyekolahkan Anak Saat Cukup Umur

anak masuk sekolah

Foto: dancow.co.id

Menurut Elly, anak bisa dimasukkan ke sekolah jika ia sudah menunjukkan minat (yang menetap) untuk bersekolah serta dapat menunjukkan kemampuannya di sekolah. Usia yang tepat menurut ia adalah 5 tahun untuk TK A, 6 tahun untuk TK B, dan 7 tahun untuk SD.

“Di bawah usia lima tahun, anak tidak perlu bersekolah,” ujar Elly.

Menurut studi Stanford University pada 2015, tingkat kesulitan konsentrasi dan hiperaktivitas anak-anak di Denmark yang menunda masuk TK sampai satu tahun turun hingga 73%. Di negara seperti Finlandia yang sudah menerapkan sekolah saat anak cukup umur, remaja usia 15 tahunnya mendapat skor bagus untuk tes internasional.

Seperti kata Neil Postman dalam bukunya “The Disappearance of Childhood, “Jangan kau cabut anak-anak dari dunianya terlalu cepat karena kau akan mendapatkan orang dewasa yang kekanakan”. Setujukah, Moms?

Artikel Terkait