BAYI
10 Agustus 2020

Bayi Sering Gumoh: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Sebelum mengatasi, yuk cari tau dulu penyebabnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Saat Moms sedang proses menyusu bayi, Moms akan bisa tahu apakah Si Kecil mendapatkan cukup ASI atau tidak. Biasanya hal ini diketahui dari keadaan bayi yang gumoh.

Gumoh adalah hal yang umum terjadi pada bayi setelah menyusu. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gumoh adalah aliran balik isi lambung ke dalam kerongkongan dan dikeluarkan melalui mulut yang berlangsung secara involunter.

Bayi gumoh sehabis menyusu karena keluarnya cairan susu yang baru saja ditelan. Gumoh adalah kondisi normal yang disebabkan kerongkongan bayi belum berkembang sepenuhnya. Selain itu, penyebab lainnya adalah ukuran lambung yang masih sangat kecil. Dalam ilmu medis, istilah gumoh disebut refluks.

Berdasarkan jurnal Gastroesophageal Reflux in Children, gumoh memang normal terjadi pada bayi, biasanya akan memuncak pada usia 4 bulan. Namun keadaan ini bisa sembuh seiring dengan berjalannya waktu.

Biasanya bayi sering gumoh setidaknya 10 hingga 12 kali dalam sehari. Gumoh terkadang tidak keluar sebagai muntahan ataupun dalam jumlah banyak, melainkan hanya berupa tetesan yang mengalir dari mulut bayi.

Jika bayi sangat terganggu atau rewel pada payudara, ia mungkin akan menelan udara dan meludah lebih sering. Beberapa bayi lebih sering muntah ketika tumbuh gigi, mulai merangkak, atau memulai makanan padat.

Baca Juga: Hindari 5 Penyebab Perut Bayi Kembung

Menurut sebuah penelitian, jumlah gumoh yang dikeluarkan bayi biasanya adalah sebagai berikut:

  • Meludah biasanya terjadi tepat setelah bayi makan, tetapi bisa juga terjadi 1-2 jam setelah menyusui.
  • Setengah dari semua bayi berusia 0-3 bulan gumoh setidaknya satu kali sehari.
  • Gumoh pada bayi biasanya memuncak ketika Si Kecil berusia 2-4 bulan.
  • Banyak bayi mulai berkurang gumohnya setelah usia 7-8 bulan.
  • Sebagian besar bayi sudah berhenti gumoh begitu menginjak usia 12 bulan.

Kendati gumoh hanya merupakan masalah kecil yang tidak mengganggu Si Kecil, Moms tentu terkadang merasa sangat kesal dan stres menghadapinya.

Moms mungkin selama ini kesal karena harus berganti pakaian beberapa kali saat akan bepergian karena terkena gumoh Si Kecil. 

Namun jika bayi sering gumoh, namun berat badannya tetap bertambah dengan baik, gumoh yang terjadi pada Si Kecil mungkin bukan masalah medis yang serius.

Akan tetapi jika masih khawatir, Moms juga bisa mengatasi gumoh pada bayi dengan mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Apa saja penyebab dan cara mengatasi gumoh pada bayi? Yuk kita cari tahu Moms.

Penyebab Bayi sering Gumoh

penyebab bayi sering gumoh

Foto: Orami Photo Stock

Ada sejumlah alasan yang menyebabkan bayi sering gumoh, di antaranya adalah seperti di bawah ini.

1. Bayi Kekenyangan

Kapasitas lambung bayi yang baru lahir rata-rata masih kecil atau biasanya hanya sekitar 1 ons saja per tiap kg berat tubuhnya. Karenanya apabila Si Kecil diberikan asupan yang melebihi kapasitas tersebut, maka anak akan kekenyangan dan kemudian mengalami yang namanya gumoh.

Untuk itu, Moms harus mencoba untuk memberi Si Kecil susu atau ASI yang jumlahnya tidak melebihi kapasitas lambung anak. Selain itu, biasakan untuk menyendawakan bayi setelah menyusu juga ya Moms.

2. Alergi Makanan

Sensitivitas terhadapn makanan dapat menyebabkan bayi gumoh berlebihan. Namun biasanya sensitivitas atau alergi ini dipicu oleh produk susu sapi. Pada Moms, alergen dapat ditransfer ke dalam ASI dan menyebabkan bayi gumoh.

Jika Moms merasa bahwa alergi protein susu sapi inilah alasan kenapa bayi sering gumoh, maka coba segera berkonsultasi dengan dokter.

Hal-hal lain yang perlu Moms perhatikan untuk memastikan penyebabnya, coba lihat apakah bayi mengonsumsi apa pun selain ASI, susu formula, makanan padat (termasuk sereal), vitamin, obat-obatan, atau ramuan herbal? Apakah Moms minum obat, herbal, vitamin, zat besi, yang mungkin memicu gumoh juga?

Baca Juga: Waspadai Tanda-tanda Bayi Alergi Susu Formula

3. Otot Bayi yang Belum Sempurna

Ini merupakan alasan yang paling umum terjadi gumoh pada bayi, yakni otot yang ada di saluran pencernaan bayi (antara kerongkongan dan perut) belum sempurna, dimana pada dasarnya otot-otot saluran pencernaan tersebut longgar dan akan semakin mengecil secara bertahap pada saat bayi memasuki usia 6 bulan.

4. Menelan Banyak Udara saat Menyusui

Si Kecil yang menghisap ASI sangat cepat juga menghirup udara bersamaan dengan susu yang diminum. Ini terutama akan terjadi jika Moms memiliki refleks let-down yang kuat atau suplai susu yang terlalu banyak.

5. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Bagi sebagian bayi yang tidak sering mengalami gumoh, kondisi tersebut sebenarnya bisa menunjukkan adanya penyakit gastroesophageal reflux (GERD). Jika sfingter esofagus bagian bawah tidak mengencang segera setelah dibuka, istilah "refluks" digunakan karena dimuntahkannya kembali makanan yang masuk dan mungkin disertai dengan cairan dan asam.

GERD umumnya terjadi pada bayi prematur dan pada bayi dengan masalah kesehatan lainnya. GERD biasanya membaik setelah 12-24 bulan usia bayi.

Refluks dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada beberapa bayi. Menurut jurnal dalam American Academy of Family Physicians, gejala GERD yang bisa dilihat, diantaranya:

  • Bayi seperti tercekik, tersedak, batuk, mengi, atau masalah pernapasan lainnya
  • Rasa sakit dan tidak nyaman terlihat
  • Pertumbuhan Si Kecil yang buruk karena muntah
  • Bayi mungkin akan lebih rewel dan kurang tidur karena ketidaknyamanannya

Ada juga tanda-tanda peringatan dari refluks pada bayi yang parah:

  • Kerewelan yang tak terhindarkan atau parah terkait dengan menyusui.
  • Peningkatan berat badan yang buruk, penurunan berat badan, atau kegagalan untuk berkembang. Kesulitan makan. Penolakan payudara / makanan.
  • Kesulitan menelan, sakit tenggorokan, suara serak, hidung kronis / hidung tersumbat, infeksi sinus / telinga kronis.
  • Memuntahkan darah atau cairan hijau / kuning.
  • Sindrom Sandifer: Bayi mungkin 'postur' dan melengkungkan leher & punggung untuk meredakan nyeri refluks – ini memperpanjang kerongkongan dan mengurangi rasa tidak nyaman.
  • Masalah pernapasan: bronkitis, mengi, batuk kronis, pneumonia, asma, aspirasi, apnea, sianosis.

Dalam jurnal Gastroesophageal Reflux in Children, diskusikan pola gumoh bayi dengan dokter anak untuk mengetahui apakah GERD bisa menjadi penyebabnya. Jika demikian, pengobatan dan tindakan medis mungkin akan diperlukan.

GERD sendiri juga dapat disebabkan karena bayi salah makan atau makan berlebihan (karena mengonsumsi terlalu banyak ASI membuat isi perut turun dan karena ASI adalah antasid alami).

Disebutkan bahwa pengujian atau pengobatan untuk refluks pada bayi di bawah 12 bulan harus dipertimbangkan hanya jika gumoh disertai dengan penambahan berat badan yang tidak seimbang atau penurunan berat badan drastis, penyakit paru-paru atau komplikasi lainnya.

Baca Juga: Serba-serbi GERD pada Anak, Cari Tahu Yuk Moms!

Cara Mengatasi Gumoh pada Bayi

mengatasi gumoh pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Sebagian besar bayi tidak terlihat mengalami gangguan hanya karena gumoh. Namun, Moms tentu saja berpikir bahwa kemungkinan ada banyak gizi dan nutrisi yang hilang akibat bayi sering gumoh.

Jumlah gumoh bayi bahkan terlihat lebih banyak saat mengonsumsi susu formula atau yang lebih parah lagi bayi muntah setelah menyusu. Lalu apakah ada cara efektif untuk mengatasi gumoh yang berlebihan pada bayi? Simak di tips berikut ini ya Moms.

1. Menyusui Si Kecil

Cara mengatasi bayi gumoh atau setidaknya meminimalkan frekuensi gumoh pada bayi diantaranya bisa dilakukan dengan menyusui bayi dengan jumlah yang tidak begitu banyak namun sering.

Refluks lebih jarang terjadi pada bayi yang disusui. Selain itu, bayi yang disusui dengan refluks telah terbukti memiliki refluks yang lebih pendek dan lebih sedikit dan refluks yang lebih parah di malam hari, dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula.

Menyusui juga paling baik untuk bayi dengan refluks karena ASI akan meninggalkan perut Si Kecil jauh lebih cepat, jadi ada lebih sedikit waktu untuk susu kembali ke kerongkongan.

Namun perlu diingat Moms, jangan memaksa bayi untuk terus makan atau minum ASI jika sudah terlihat kenyang. Usahakan untuk membuat bayi duduk tegak setelah menyusu meskipun hanya sebentar. Hal ini akan sangat membantu proses pencernaan bayi.

2. Buat Bayi Bersendawa

Cobalah untuk membuat Si Kecil bersendawa selama dan setelah menyusui untuk menghilangkan udara yang terperangkap di dalam perutnya. Beberapa bayi yang disusui tidak perlu bersendawa setelah setiapmenyusui, karena mereka cenderung menelan lebih sedikit udara daripada bayi yang diberi minum dengan botol susu.

Namun, jika Moms memiliki persediaan susu berlimpah atau aliran susu yang sangat cepat, hal ini tidak akan terjadi. Mungkin kadang-kadang bayi akan muntah karena bersendawa. Namun, ini adalah langkah yang patut Moms coba.

Setelah bersendawa, bayi akan merasa lebih nyaman. Menghilangkan udara juga dapat membuat lebih banyak ruang di perut bayi untuk melanjutkan menyusu.

Baca Juga: Moms Sering Sendawa? Waspada Penyakit Kronis Jika Disertai 4 Gejala Ini!

3. Menyusui Bayi dengan Tenang

Cobalah untuk membatasi gangguan, kebisingan, dan lampu terang ketika Moms sedang menyusui. Pemberian makan yang lebih tenang dapat menghasilkan lebih sedikit gumoh pada bayi. Jangan melakukan permainan yang sangat aktif segera setelah menyusui anak ya Moms.

4. Jangan Menyusui Anak saat ASI Terlalu Penuh

Jika produksi ASI Moms terlalu banyak atau persediaan ASI masih penuh, payudara Moms mungkin akan membesar dan bengkak. Ini bisa membuat payudara kita terasa penuh dan keras, sehingga membuat Si Kecil sulit untuk mengunci dengan benar dan mendapatkan hisapan yang baik di sekitar puting kita. Akibatnya, bayi Moms akan menelan banyak udara saat ia menyusui.

Gunakan pompa atau berikan ASI sebelum menyusui untuk melunakkan payudara terlebih dahulu. Ini akan membantu bayi menyusu dengan posisi yang benar.

5. Hubungi Dokter

Terkadang gumoh juga merupakan masalah yang cukup serius dan membutuhkan penanganan medis dalam kondisi  tertentu. Ketika Moms menyadari Si Kecil sudah terlalu rewel, bahkan sangat rawan gumoh, maka mungkin Si Kecil mengalami masalah refluks yang harus ditangani dengan bantuan obat.

Adapun ketika bayi cenderung mengeluarkan begitu banyak cairan atau muntah, terlebih lagi diiringi dengan kembung, diare, hingga berat badan yang menurun, maka kemungkinan Si Kecil mengalami alergi susu.

Oleh karena itu, jika Moms menemui adanya gejala-gejala yang lebih serius dari gumoh yang biasa terjadi pada Si Kecil, lebih baik segera konsultasikan dengan dokter.

Baca Juga: Ternyata, Ini Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi

Baik refluks maupun alergi susu sebenarnya jarang terjadi, namun bukan tidak mungkin. Muntah atau gumoh yang disertai darah bisa menjadi tanda dari adanya infeksi.

Oleh karena itu, langkah yang terbaik untuk Moms ambil sebelum mengatasi bayi gumoh adalah terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter, apakah gumoh yang dialami Si Kecil masih dalam kategori normal atau justru membutuhkan penanganan medis karena sudah menjurus pada kondisi gangguan kesehatan serius.

Jika memang bayi sering gumoh dengan frekuensi dan jumlah yang normal, Moms tentunya tidak perlu panik. Hanya perlu menyiapkan tisu basah khusus bayi atau handuk untuk mengelap bekas gumoh bayi.

Nah, sekarang Moms sudah paham dan tidak bingung lagi bukan bagaimana cara mengatasi bayi yang terlalu sering gumoh? Semoga membantu Moms!

Artikel Terkait