KESEHATAN
13 Maret 2020

Jangan Terlena Corona, Menkes RI Ingatkan Bahaya DBD yang Lebih Mengancam

Dalam tiga bulan, angka kematian demam berdarah sudah mencapai 104 jiwa
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Hingga per hari Kamis (12/3/2020) kemarin, Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, dr. Achmad Yurianto, mengumumkan tidak ada pasien baru corona di Indonesia.

Namun, ia mengumumkan sudah ada 12 orang yang diawasi, meskipun tidak mau menetapkan sebagai kasus baru untuk virus ini.

"Sudah ada 12 yang masuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tapi saya tidak mau menetapkan (kasus baru) karena baru di-test PCR (Polymerase Chain Reaction)," katanya pada Kamis (12/3/2020), mengutip CNBC Indonesia.

Hingga kini, telah diketahui Indonesia memiliki 34 kasus pasien dengan COVID-19, dengan 3 pasien yang sudah dipulangkan, dan 1 pasien meninggal dunia.

Baca Juga: Demam Berdarah Saat Hamil, Bahayakah Bagi Janin?

Menteri Kesehatan Ingatkan Permasalahan DBD yang Lebih Berbahaya dari Corona

demam berdarah-1

Foto: Orami Photo Stock

Sementara itu, Menteri Kesehatan Dr.dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K), mengatakan, bahwa permasalahan di Indonesia tidak hanya tentang virus corona, tetapi juga demam berdarah dengue atau DBD.

"Yang nyata dan kita lihat bahaya yang paling mengancam jiwa saat ini adalah DBD. Permasalahan yang paling mengancam bukan hanya masalah virus corona, tetapi berbagai penyakit yang justru lebih mematikan, lebih berbahaya," ujarnya pada Senin (9/3) mengutip Liputan6.com.

Pihak Kementerian Kesehatan RI mencatat, bahwa dari bulan Januari hingga 11 Maret 2020, ada 17.820 kasus penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh Indonesia, dengan angka kematian yang tercatat sebanyak 104 kasus.

"Jumlah kasus DBD per 11 Maret 2020 tercatat sebanyak 17.820 kasus," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Siti Nadia Tarmizi pada Rabu (11/6/2020) mengutip Kompas.com.

Baca Juga: Tom Hanks Positif COVID-19, Berikut 4 Publik Figur Lain yang Terinfeksi Virus Corona

Gejala yang Mirip Antara Demam Berdarah dan Virus Corona COVID-19

covid-19

Foto: Orami Photo Stock

Baik dari demam berdarah maupun virus COVID-19, keduanya masih belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan. Kedua penyakit ini juga memiliki kondisi gejala yang mirip.

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut ini perbandingan gejala demam berdarah dengue dan virus corona COVID-19.

Gejala Demam Berdarah Dengue

Gejala demam berdarah biasanya berlangsung 2-7 hari. Demam berdarah biasanya terjadi setelah masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Gejala demam berdarah meliputi demam tinggi dengan suhu 40° C, dan biasanya disertai oleh setidaknya dua dari gejala berikut:

  • Sakit kepala
  • Nyeri di belakang mata
  • Mual dan muntah
  • Kelenjar bengkak
  • Nyeri sendi, tulang atau otot
  • Ruam

Saat ini, tidak ada obat khusus untuk mengobati demam berdarah. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengobati gejala demam berdarah dan konsultasi ke dokter.

Baca Juga: Jangan Panik, Mayoritas Kasus Virus Corona COVID-19 Ringan dan Bisa Disembuhkan

Gejala Virus COVID-19

Hingga kini, di seluruh dunia sudah ada 125.048 yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19, dengan angka kematian 4.613, menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Perlu diketahui, gejala untuk COVID-19 yang paling umum adalah:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Batuk kering

Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, atau diare.

Gejala-gejala ini biasanya ringan dan mulai secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi mungkin bisa tidak mengembangkan gejala apa pun dan merasa tidak enak badan.

Kebanyakan orang (sekitar 80%) pulih dari penyakit tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang yang terinfeksi COVID-19 akan sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas.

Pada orang yang lebih tua, dan yang memiliki masalah medis seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit serius.

Artikel Terkait