BALITA DAN ANAK
20 Agustus 2020

Kekerasan Pada Anak, Ini Bentuk, Tanda, dan Cara Menanggulanginya

Segala bentuk kekerasan dapat memberikan dampak negatif jangka panjang pada anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Bentuk kekerasan pada anak tidak selalu terlihat tandanya secara kasat mata, tapi hampir pasti meninggalkan luka emosional mendalam yang terbawa hingga anak dewasa kelak.

Menurut World Health Organization, kekerasan pada anak bukan hanya membuat anak merasa tertekan dan menderita, tapi juga dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang, di antaranya:

  • Masalah gangguan perkembangan otak, sistem saraf, dan sistem imun,
  • Meningkatnya risiko masalah perilaku, kesehatan fisik, dan kesehatan mental.
  • Meningkatnya risiko terkena infeksi menular seksual.

Selain itu, anak korban kekerasan juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan belajar, masalah pergaulan, masalah keluarga, dan menjadi pelaku kekerasan pada orang lain.

Kekerasan pada anak tidak selalu terjadi dalam bentuk tindakan berbahaya yang dilakukan terhadap anak, tapi bisa pula terjadi dalam bentuk kelalaian yang mengakibatkan bahaya pada anak maupun kegagalan untuk mencegah anak tertimpa suatu bahaya.

Baca Juga: 5 Cara Terbaik Membuat Anak Tumbuh Jadi Pribadi Disiplin Tanpa Menggunakan Kekerasan

Berbagai Bentuk Kekerasan pada Anak

Supaya bisa introspeksi dan waspada, perhatikan dulu penjelasan tentang berbagai bentuk kekerasan pada anak berikut ini ya, Moms.

1. Kekerasan Fisik

Jarang Disadari, Ini 4 Bentuk Kekerasan Pada Anak 1.jpg

Foto: Echopress.com

Secara luas, kekerasan fisik dapat didefinisikan sebagai tindakan fisik disengaja yang melukai atau mencederai anak. Memalsukan kondisi sakit atau membuat anak menjadi sakit juga termasuk ke dalam bentuk kekerasan fisik.

Kekerasan fisik pada anak ditandai dengan cedera, seperti memar, lesi dan patah tulang yang diakibatkan dari pemukulan (tangan, tongkat, tali pengikat, atau benda lain), guncangan, tendangan, pemukulan, tersedak, pembakaran (dengan api terbuka atau benda panas, air mendidih, rokok), melempar, menikam atau melukai anak.

Orang tua atau pengasuh yang tidak bermaksud untuk menyakiti anak pun termasuk melakukan kekerasan fisik.

Jenis spesifik pelecehan fisik anak lainnya termasuk:

  • sindrom bayi terguncang (sbs) adalah kumpulan tanda-tanda dan gejala akibat gemetar bayi yang hebat yang dapat menyebabkan robeknya lapisan otak (dura), perdarahan, cedera otak permanen, atau kematian.
  • Munchausen oleh sindrom Proxy Mendorong penyakit medis pada anak atau salah meyakinkan orang lain bahwa seorang anak sakit. Ini mencerminkan hubungan yang sangat disfungsional antara orang tua dan anak.
  • alkohol, rokok atau penggunaan narkoba selama kehamilan. Penggunaan alkohol dapat menyebabkan Sindrom Alkohol Janin. Penggunaan rokok selama hamil dapat menyebabkan anak terkena kanker. Selain itu juga dapat menyebabkan bayi mengalami keterbelakangan dan cedera seumur hidup.

Mengutip situs psychcentral.com, kekerasan fisik pada anak bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  • Intimidasi: Perundungan dengan ancaman.
  • Isolasi: Membatasi kemampuan anak untuk melarikan diri atau meninggalkan anak dalam situasi berbahaya.
  • Pengendalian: Menghalangi gerakan anak, seperti dengan membuat pintu tidak dibuka, mengurung di dalam ruangan, atau mengikat.
  • Agresi: Tindakan fisik seperti memukul, menendang, memuntir lengan, mendorong, mencakar, menjambak, membakar, mencekik, memaksa makan, dan semacamnya.
  • Perilaku membahayakan: Seperti ancaman yang dilakukan dengan agresi atau senjata untuk mengendalikan perilaku anak.

Indikator pelecehan fisik termasuk ketika anak:

  • Laporan cedera oleh orang tua atau pengasuh dewasa lainnya.
  • Memiliki luka bakar yang tidak dapat dijelaskan asal usulnya, gigitan, memar, patah tulang, mata hitam, atau bekas luka dalam bentuk benda (gantungan kawat, tongkat, ikat pinggang, dll).
  • Memiliki memar yang memudar atau tanda lain yang terlihat.
  • Tampak ketakutan pada orang tua dan protes atau merasa takut saat harus pulang ke rumah.
  • Tersentak atau gemetar saat mendekati orang dewasa.

2. Kekerasan Seksual

Jarang Disadari, Ini 4 Bentuk Kekerasan Pada Anak 2.jpg

Foto: Hackensackmeridianhealth.com

Kekerasan seksual adalah setiap perilaku seksual dengan atau eksploitasi seksual terhadap seorang anak. Ada tiga jenis pelanggaran seksual terhadap anak: pemerkosaan, penganiayaan, distribusi atau produksi atau kepemilikan pornografi anak.

Kekerasan pada anak terjadi saat orang dewasa, remaja, atau anak lain menggunakan kekuatan atau kekuasaannya untuk memaksa anak laki-laki maupun anak perempuan melakukan aktivitas seksual.

Setiap hubungan vagina atau anal dengan seorang anak adalah pemerkosaan. Seorang anak tidak dapat secara hukum memberikan persetujuan untuk aktivitas seksual. Pelecehan seksual bukanlah kesalahan anak-anak.

Baca Juga: Kekerasan Verbal Bisa Berpengaruh Buruk Ke Anak!

Yang sering tidak disadari, kekerasan seksual pada anak tidak selalu melibatkan sentuhan atau kontak fisik. Nah, beberapa hal berikut termasuk dalam bentuk kekerasan seksual pada anak:

  • Grooming: Taktik agar anak mudah didekati dan mau menuruti ajakan seksual.
  • Pelecehan: Sentuhan tidak diinginkan pada area pribadi anak.
  • Paparan seksual: Menunjukkan konten atau situasi seksual pada anak.
  • Perkosaan: Pemaksaan melakukan hubungan badan, baik dengan alat kelamin atau benda.
  • Seks oral oleh atau dilakukan orang dewasa.
  • Kontak genital tanpa gangguan.
  • Produksi, distribusi atau kepemilikan pornografi anak.
  • Eksploitasi Seksual: Penggunaan anak dalam pelacuran, pornografi.

Sebagian besar pelecehan seksual (sekitar 90 persen) adalah inses yang dilakukan oleh anggota keluarga atau seseorang yang dikenal oleh anak, termasuk yang keluarga biologis, keluarga angkat, dan keluarga tiri.

Orang asing bertanggung jawab atas 10% pelecehan seksual. Inses paling sering terjadi dalam hubungan ayah-anak; Namun, inses ibu-anak, ayah-anak, dan saudara kandung juga terjadi.

Pelaku kekerasan seksual pada anak dapat dilakukan oleh ayah, ibu, saudara kandung, kerabat, teman, pekerja di penitipan anak, pengasuh anak, guru, orang tua asuh, tetangga, dan orang asing.

Beberapa tanda pelecehan seksual terhadap anak:

  • Minat atau pengetahuan yang tidak pantas tentang tindakan seksual.
  • Perilaku menggoda yang dilakukan seorang anak.
  • Menghindari hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, atau penolakan terhadap alat kelamin atau tubuh sendiri.
  • Kepatuhan berlebihan atau agresi yang berlebihan.
  • Takut pada orang atau anggota keluarga tertentu.

Baca Juga: 5 Cara Mengajari Anak Menjaga Diri Agar Tidak Jadi Korban Bullying

3. Kekerasan Emosional

Jarang Disadari, Ini 4 Bentuk Kekerasan Pada Anak 3.jpg

Foto: Tes.com

Kekerasan psikologis dan emosional adalah tindakan yang disengaja yang menimbulkan rasa sakit mental, ketakutan, atau tekanan pada orang yang lebih tua kepada anak.

Walau tidak menimbulkan luka fisik yang kasat mata, kekerasan emosional yang dilakukan melalui ucapan, sikap, atau tindakan orang tua bisa merusak kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Moms dan Dads wajib tahu, kalau kekerasan emosional pada anak bisa terjadi dalam bentuk:

  • Mempermalukan dan merendahkan anak, baik dengan ucapan ataupun sikap.
  • Memanggil anak dengan sebutan negatif atau membandingkan secara negatif dengan anak lain.
  • Menggunakan rasa bersalah supaya anak melakukan sesuatu sesuai keinginan orang tua, contohnya “Pasti kamu berulah karena tidak sayang Moms” atau “Kalau masih mau disayang Moms, tidur sekarang.”
  • Sering meneriaki, mengancam, mengkritik, atau merundung anak.
  • Membatasi kontak fisik atau memberikan silent treatment pada anak sebagai bentuk hukuman.
  • Mengendalikan setiap aspek kehidupan anak atau memaksa anak terlalu keras tanpa mempertimbangkan kemampuan dan batasan.
  • Paparan terhadap konflik berbau kekerasan, seperti KDRT atau pertikaian antar anggota keluarga.
  • Mencegah Anak untuk melihat atau berbicara dengan teman dan keluarga.
  • Merusak properti saat marah (melempar benda, meninju dinding, menendang pintu, dll).
  • Menyalahkan anak atas perilaku kasar atau tidak sehat orang tua.
  • Mengancam untuk mengungkap rahasia anak jika anak tidak menurut.
  • Memulai rumor tentang anak.

Beberapa tanda pelecehan emosional dan psikologis pada anak meliputi:

  • Si Kecil tampak depresi atau menarik diri.
  • Anak tampak gelisah atau takut.
  • Mencoba menyakiti orang lain.
  • Menghindari kontak mata dengan siapa saja.
  • Pola makan atau tidur yang berantakan.
  • Isolasi diri dari teman dan keluarga.
  • Tingkat percaya diri yang rendah.
  • Perubahan suasana hati yang suka datang tiba-tiba.

Suatu hubungan bisa menjadi tidak sehat atau kasar bahkan tanpa kekerasan fisik. Kekerasan emosional mungkin tidak menyebabkan kerusakan fisik, tetapi memang menyebabkan luka dan ketakutan emosional. Kekerasan fisik juga dapat terjadi jika hubungan terus berlanjut di jalur yang tidak sehat.

Terkadang kekerasan emosional yang sudah sangat parah, bisa membuat anak benar-benar mulai mempercayai apa yang dikatakan orang kepadanya. Si Kecil bisa mulai berpikir bahwa dirinya bodoh, jelek atau tidak berharga.

Terus menerus dikritik dan diberi tahu bahwa dirinya tidak cukup baik menyebabkan anak akan kehilangan kepercayaan diri dan menurunkan harga diri mereka.

4. Pengabaian

Jarang Disadari, Ini 4 Bentuk Kekerasan Pada Anak 4.jpg

Foto: Yorkshirepost.co.uk

Bentuk kekerasan pada anak selanjutnya adalah pengabaian. Ini adalah pola gagal dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Hal ini terjadi karena penyalahgunaan melalui kelalaian, tidak melakukan sesuatu yang akhirnya mengakibatkan bahaya yang signifikan atau risiko bahaya yang signifikan.

Tidak sedikit pula orang tua yang tanpa sadar melakukan kekerasan pada anak dalam bentuk pengabaian, yang bisa diartikan sebagai kegagalan memenuhi kebutuhan dasar anak seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, bimbingan, atau layanan kesehatan yang layak.  

Pada sebagian kasus, bentuk kekerasan pada anak ini bisa dilakukan secara tidak sengaja karena orang tua mengalami gangguan fisik atau mental yang membatasi kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan anak.

Ada empat jenis pengabaian pada anak seperti:

  1. Pengabaian fisik: Kegagalan menyediakan makanan, pakaian yang sesuai untuk anak, pengawasan, rumah yang aman dan bersih.
  2. Pengabaian medis: Kegagalan memberikan perawatan medis atau gigi yang diperlukan untuk kondisi anak.
  3. Pengabaian pendidikan: Kegagalan untuk mendaftarkan anak usia sekolah ke sekolah atau untuk memberikan pendidikan khusus yang diperlukan. Mengizinkan ketidakhadiran anak secara berlebihan dari sekolah.
  4. Pengabaian emosional: Kegagalan memberikan dukungan emosional, cinta, dan kasih sayang kepada seorang anak.

Baca Juga: Hati-Hati, Kekerasan Dapat Merusak Karakter Anak!

5. Kekerasan Digital

kekerasan pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Kekerasan digital adalah penyalahgunaan penggunaan teknologi seperti SMS dan jejaring sosial untuk menindas, melecehkan, menguntit, atau mengintimidasi anak. Seringkali perilaku ini merupakan bentuk pelecehan verbal atau emosional yang dilakukan secara online.

Dalam hubungan yang sehat, semua komunikasi bersifat hormat baik secara langsung, online, atau melalui telepon. Tidak boleh bagi seseorang untuk melakukan atau mengatakan apa pun yang membuat anak merasa buruk, merendahkan harga diri, atau memanipulasi dirinya.

Anak mungkin mengalami kekerasan digital jika:

  • Anak diberi tahu siapa saja yang boleh atau tidak boleh ia temani di media sosialnya.
  • Anak menerima email atau pesan negatif, menghina atau bahkan mengancam, melalui media sosialnya.
  • Anak dikirimkan gambar eksplisit yang tidak diinginkan dan / atau permintaan untuk mengirimkan gambar tidak benar.
  • Si Kecil ditekan untuk mengirim video atau seks eksplisit.

Jika anak mengalami beberapa hal di atas, Moms harus bisa menjauhkan anak dari ponselnya untuk sementara waktu.

Tanda-tanda Terjadi Kekerasan pada Anak

tanda anak mengalami kekerasan

Foto: Orami Photo Stock

Kekerasan pada anak tidak selalu mudah untuk dikenali. Anak-anak yang mengalami kekerasan sering kali takut untuk mengungkapkan karena mereka takut disalahkan atau tidak ada yang akan mempercayai mereka.

Selain itu, orang yang melecehkan mereka mungkin adalah seseorang yang sangat mereka cintai dan ingin lindungi. Orang tua seringkali tidak dapat mengenali tanda kekerasan pada anak.

Jika dicurigai bahwa seorang anak telah mengalami kekerasan seksual, anak tersebut harus diperiksa sesegera mungkin oleh dokter. Setiap anak yang dilecehkan harus segera diberi akses ke dukungan dan perawatan khusus; pemeriksaan dokter tidak boleh ditunda dengan alasan apapun.

Banyak tanda cedera yang terkait dengan pelecehan seksual bersifat sementara. Idealnya, pemeriksaan harus dilakukan dalam 72 jam setelah kejadian. Pemeriksaan fisik lengkap harus selalu dilakukan agar pemeriksa dapat mencari tanda-tanda kekerasan fisik atau seksual.

Kedua bentuk pelecehan ini dapat dan sering kali terjadi berdampingan. Semakin lama pelecehan berlanjut, semakin kecil kemungkinan Si Kecil bisa pulih secara fisik atau emosional dari traumanya.

Baca Juga: Kasus-kasus Kekerasan Seksual Anak di Indonesia, Kenali 6 Ciri Anak yang Mengalaminya

Orang tua harus memperhatikan perubahan yang tidak dapat dijelaskan pada tubuh atau perilaku anak. Orang tua harus waspada terhadap salah satu perubahan berikut:

1. Tanda-tanda Kekerasan Fisik

Adanya cedera apa pun, seperti memar, luka bakar, patah tulang, cedera perut atau kepala, yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

2. Tanda-tanda Kekerasan Seksual

  • Anak menunjukan perilaku menakutkan, seperti mimpi buruk, depresi, ketakutan yang tidak biasa, upaya untuk melarikan diri.
  • Sakit perut.
  • Mengompol.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Nyeri atau pendarahan genital.
  • Penyakit menular seksual.
  • Perilaku seksual ekstrim yang sepertinya tidak sesuai dengan usia anak.

3. Tanda-tanda Kekerasan Emosional

  • Perubahan kepercayaan diri yang tiba-tiba.
  • Sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab medis.
  • Ketakutan yang tidak normal, mimpi buruk yang meningkat, atau upaya untuk melarikan diri.

4. Tanda-tanda Pengabaian

  • Anak tidak menunjukkan penambahan berat badan sesuai umurnya (terutama pada bayi).
  • Tidak mendapatkan perilaku penuh kasih sayang.
  • Nafsu makan yang tinggi, hingga mencuri makanan.

Namun ada beberapa hal yang jarang Moms sadari, orang tua tak boleh lengah memperhatikan perubahan pada diri anak seperti berikut ini ya, Moms.

6. Perubahan Perilaku Mendadak

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 1.jpg

Foto: Indyschild.com

Mood anak memang masih gampang berubah, tapi jangan sepelekan kalau Si Kecil menunjukkan perubahan perilaku mendadak dari biasanya, seperti:

  • Menjadi lebih agresif, mudah marah, hiperaktif, atau kasar.
  • Terlihat lebih tertutup dan mudah cemas atau ketakutan.
  • Menjadi tidak percaya diri, murung berkepanjangan, atau sering melamun.

Baca Juga: Psikolog Menjelaskan, Ini Alasan Anak Bisa Melakukan Tindakan Kekerasan

7. Kemunduran Perkembangan

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 2.jpg

Foto: Intermountainhealthcare.org

Regresi atau kemunduran perkembangan adalah kondisi dimana Si Kecil menunjukkan perilaku atau kebiasaan yang seharusnya sudah tidak lagi dilakukan oleh anak seusianya, seperti mengompol di malam hari, ingin makan disuapi, atau tidur harus selalu ditemani.

Menurut studi dari National Institutes of Health, regresi pada anak biasanya terjadi karena stress, frustasi, juga peristiwa traumatis seperti mengalami kekerasan.

8. Perubahan Nafsu Makan dan Pola Tidur

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 3.jpg

Foto: Verywellmind.com

Stress, takut, dan kecemasan yang dirasakan oleh anak korban kekerasan bisa membuatnya tidak nafsu makan atau menolak untuk makan, sehingga orang tua harus waspada jika anak mengalami penurunan berat badan drastis tanpa alasan jelas.

Pada sebagian kasus, peristiwa traumatis yang dialami oleh anak korban kekerasan juga bisa memicu mimpi buruk berulang, sering terbangun di malah hari, dan sulit tidur.

9. Menghindari Pergi ke Tempat Tertentu

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 4.jpg

Foto: Uniquemindcare.com

Melansir U.S. Department of Health and Human Services, anak yang mengalami kekerasan tidak jarang menghindari tempat, aktivitas, orang, atau pembicaraan topik tertentu secara mendadak tanpa alasan jelas.

Moms juga sebaiknya mencari tahu lebih dalam jika Si Kecil memperlihatkan ketidaknyamanan atau keengganan tidak biasa saat berada dalam situasi tertentu atau di sekitar orang tertentu.

Baca Juga: 5 Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Anak, Bahaya!

10. Penurunan Nilai di Sekolah

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 5.jpg

Foto: Additudemag.com

Mengalami kekerasan secara tidak langsung bisa menyebabkan penurunan nilai dan performa akademis anak, terutama karena stress dan trauma membuat pikiran anak teralihkan dan sulit konsentrasi menyimak pelajaran di kelas maupun mengerjakan tugas,.

Jika anak mengalami kekerasan di sekolah, ia juga mungkin jadi sering membolos atau menghindari sekolah.

11. Perilaku Seksual Tidak Wajar

Kenali 6 Tanda Anak Alami Kekerasan Yang Sering Tidak Disadari 6.jpg

Foto: Ilslearningcorner.com

Anak yang pernah mengalami grooming dan kekerasan seksual tidak jarang menunjukkan pengetahuan, bahasa, perilaku, atau pun candaan seksual yang sebelumnya tidak pernah diajarkan oleh Moms dan Dads.

Selain itu, waspada juga jika Moms menemukan tanda kekerasan seksual pada anak lain seperti keluhan sakit di area kemaluan, celana dalam sobek atau bernoda darah tanpa alasan jelas, atau gejala penyakit menular seksual.

Ingat ya Moms, jangan pernah sepelekan tanda kekerasan pada anak sekecil apapun. Segera cari tahu lebih dalam dengan berbagai cara dan bila perlu ajak Si Kecil ke psikolog untuk mendapatkan pendampingan profesional.

Menurut Moms, adakah tanda kekerasan pada anak lainnya yang sering tidak disadari oleh orang tua?

Mengatasi Kekerasan yang Terjadi pada Anak

kekerasan pada anak

Foto: kaztag.info

Jika Moms mencurigai anak telah dilecehkan secara seksual, maka harus segera menghubungi dokter anak atau badan perlindungan anak setempat untuk meminta bantuan.

Dokter secara hukum wajib melaporkan semua kasus dugaan pelecehan atau pengabaian kepada pihak berwenang. Mereka juga dapat merekomendasikan terapis dan memberikan informasi yang diperlukan untuk penyelidik.

Dokter juga dapat bersaksi di pengadilan untuk mendapatkan perlindungan hukum bagi anak tersebut atau untuk membantu menuntut secara pidana seseorang yang dicurigai terlibat dalam pelecehan seksual terhadap anak.

Baca Juga: Bagaimana Cara Melindungi Anak dari Penyimpangan Seksual?

Apa pun sifat pelecehan tersebut, langkah-langkah harus segera diambil untuk melaporkan pelecehan dan mendapatkan bantuan. Menunda laporan mengurangi peluang anak untuk pulih sepenuhnya.

Jika telah dianiaya, seorang anak harus mendapatkan perawatan dari layanan ahli kesehatan mental yang terjamin. Orang tua dan anggota keluarga lainnya mungkin disarankan untuk mencari konseling agar mereka dapat memberikan dukungan dan kenyamanan yang dibutuhkan anak.

Dalam sebagian besar kasus, anak-anak yang dianiaya atau diabaikan mengalami kerusakan emosional yang lebih besar daripada kerusakan fisik. Seorang anak yang telah dianiaya atau diperlakukan dengan buruk dapat menjadi depresi atau mengembangkan perilaku bunuh diri, menarik diri, atau kekerasan terhadap orang lain.

Seorang anak yang sudah lebih besar tau berusia remaja mungkin akan melampiaskannya dengan menggunakan narkoba atau alkohol, mencoba melarikan diri, atau melecehkan orang lain.

Semakin muda usia anak dan semakin dekat hubungan anak dengan pelaku kekerasan, semakin serius kerusakan emosionalnya. Dengan intervensi dan pengobatan dini, hal ini bisa cepat diatasi.

Baca Juga: Kasus-kasus Kekerasan Seksual Anak di Indonesia, Kenali 6 Ciri Anak yang Mengalaminya

Menurut jurnal dalam U.S. National Library of Medicine, anak-anak yang mengalami kekerasan, memiliki risiko lebih tinggi pada tingkat pencapaian pendidikan dan kinerja intelektual yang lebih rendah serta tingkat pembolosan, pengusiran sekolah, dan retensi kelas dan pengulangan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu Moms, segala bentuk kekerasan pada anak harus dihentikan dan dihindari, supaya anak memiliki kesempatan untuk tumbuh secara optimal dan mengembangkan potensi dirinya secara maksimal. Kedua hal yang akan mendukung kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya di masa depan kelak.

Menurut Moms, adakah bentuk kekerasan lain yang tanpa sadar sering dilakukan orang tua pada anak?

Artikel Terkait