BAYI
28 Maret 2020

Waspada Kandungan Gula Berlebih pada Makanan Bayi!

Para ahli mendesak orang tua untuk memeriksa kandungan gula pada label makanan bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Bagi Moms yang memberikan makanan kemasan pada bayi, tingkatkan kewaspadaan ya. Sebab ternyata, masih banyak kandungan gula pada makanan bayi yang sebenarnya mengandung risiko yang dapat berbahaya untuk Si Kecil.

World Health Organization (WHO) mengatakan, mayoritas kandungan gula pada makanan bayi mengandung 30 persen kalori dari gula. Ini akan menyebabkan masalah untuk Si Kecil di kemudian hari, seperti obesitas dan diabetes.

Sebenarnya pada 2013, WHO telah mengembangkan rancangan Nutrient Profil Model (Model Profil Gizi atau NPW) untuk anak-anak usia 6 hingga 36 bulan. Namun ternyata, WHO masih menemukan ada yang melebihi batas tersebut.

"Makanan untuk bayi dan anak-anak diharapkan mematuhi berbagai rekomendasi nutrisi dan komposisi. Meskipun masih ada kekhawatiran hingga kini," kata João Breda, PhD, kepala Kantor Eropa WHO for Prevention and Control of Non-Communicable Diseases.

Baca Juga: 7 Bahaya Konsumsi Gula Berlebih Pada Bayi

Dampak Gula Berlebih pada Makanan Bayi

Segera Cek Label Banyak Makanan Bayi Mengandung Gula Berlebih -1.jpg

Foto: Flo.health

Para ahli mengatakan, kandungan gula dalam makanan bayi menjadi perhatian karena dapat membuat anak menjadi lebih suka makanan manis. Dengan kata lain, makanan bayi yang lebih manis ini dapat membuat kerusakan dini pada gigi secara lebih cepat.

Pada 2010, para peneliti di University of Calgary di Kanada menemukan bahwa lebih dari setengah makanan yang dipasarkan untuk bayi dan balita memiliki 20 persen kalori yang berasal dari gula.

Studi lain pada 2015 oleh para peneliti di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York dan Keck School of Medicine di University of Southern California menemukan, sebanyak 74 persen dari susu formula bayi sampel, sereal sarapan, makanan kemasan yang dipanggang, dan yogurt memiliki 20 persen atau lebih banyak kalori dari gula tambahan.

American Academy of Pediatrics (AAP) juga menemukan bahwa 35 dari 79 sampel makanan bayi campuran biji-bijian dan buah-buahan mengandung 35 persen kalori dari gula.

Oleh karena itu, Jodi Greebel, MS, RDN, seorang ahli diet terdaftar anak mengatakan bahwa penelitian WHO tidak mengejutkan. "Perusahaan makanan selalu menargetkan anak-anak dengan target umur yang semakin muda,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Pengganti Gula Untuk MPASI Bayi yang Aman dan Tetap Enak

Cara Membaca Label Makanan Bayi

Segera Cek Label Banyak Makanan Bayi Mengandung Gula Berlebih -2.jpg

Foto: Foodnavigator-USA.com

Berikut adalah kamus makanan bayi yang dapat membantu Moms dalam membaca label makanan bayi, untuk menghindari kandungan gula berlebih pada makanan bayi.

  • Tahapan/Usia: Perusahaan mengklasifikasikan makanan bayi ke dalam beberapa tahap atau bulan, guna membantu orang tua memutuskan kapan harus memperkenalkan makanan kepada Si Kecil. Tahap-tahap yang disarankan dalam makanan bayi di pasaran biasanya ditentukan oleh bahan atau teksturnya.
  • Sertifikasi organik: Untuk membuktikan bahwa makanan benar-benar organik, adanya pihak ketiga yang melakukan pemeriksaan untuk memastikan produsen makanan mematuhi peraturan organik diperlukan. Jadi, jangan hanya mencari organik pada label, cari juga segel sertifikasinya Moms.
  • Non-GMO Seal: Non-GMO adalah singkatan dari bahan yang tidak dimodifikasi secara genetik. Seperti makanan organik, ini juga membutuhkan sertifikasi pihak ketiga. Perhatikan bahwa makanan dapat menjadi organik atau masih menjadi GMO.
  • Puree: Sayuran dan buah-buahan yang telah dipanaskan dan digiling menjadi pure untuk digunakan dalam jus, makanan bayi, sup, dan sebagainya. Hati-hati Moms, karena banyak dari pure ini termasuk konsentrat jus, jus buah pekat yang dipanaskan dengan gula yang jauh lebih tinggi kandungan.
  • Absorbic acid: Vitamin C tentu lebih baik. Vitamin yang larut dalam air banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran dan kentang, dan peka terhadap panas, air, dan udara. Makanan dapat diperkaya dengan vitamin C tambahan setelah diproses, karena panas dapat menghancurkannya. Meskip begitu, lebih baik memberi makan makanan bayi yang alami.
  • Asam Sitrat: Ini adalah asam yang memberi rasa asam pada lemon dan limau dan sering digunakan sebagai penambah rasa. Saat ini, asam sitrat biasanya merupakan produk dari sintesis kimia dan salah satu bahan tambahan makanan yang paling umum sebagai penambah rasa dan pengawet dalam makanan dan minuman. Namun tidak meningkatkan nutrisi.
  • Tanpa gula tambahan: Ini berarti produsen tidak menambahkan gula, akan tetapi menimbulkan pertanyaan tentang kualitas bahan yang tercantum. Berapa banyak gula alami dalam pure dari buah-buahan olahan?
  • Pasteurisasi: ini adalah proses pemanasan tinggi yang digunakan untuk menghilangkan bakteri, membunuh yang baik dan yang buruk.
  • Nilai Harian: Jumlah nutrisi harian yang disarankan berdasarkan usia yang dihitung oleh Food and Medicine Administration (FDA).
  • DHA (docosahexaenoic acid) adalah asam lemak yang ditemukan dalam daging ikan air dingin, termasuk ikan tenggiri, ikan haring, tuna, halibut, salmon, cod liver, blubber ikan paus, dan seal blubber.

Baca Juga: Kapan Gula Garam Boleh Ditambahkan pada Makanan untuk Bayi?

Melakukan pengecekan kandungan gula pada makanan bayi akan berdampak positif, karena Si Kecil harus mengkonsumsi makanan terbaik untuk pertumbuhannya.

Artikel Terkait