BAYI
12 September 2020

Kolik pada Bayi, Yuk Cari Tahu Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya!

Apa saja gejala kolik dan berapa lama kolik pada bayi berlangsung?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms yang baru saja melahirkan, pasti bahagia melihat Si Kecil yang terlihat tidur terus, tidak rewel, dan anteng sepanjang hari. Rasanya pasti bahagia bisa melihat wajah malaikat si buah hati setiap hari.

Namun beberapa minggu kemudian, ketenangan tersebut hilang, digantikan dengan ratapan anak yang tidak berhenti dan berulang terus-menerus.

Kenyataannya adalah, semua bayi pasti akan menangis karena ini merupakan cara terbaik dan satu-satunya bagi mereka untuk mengomunikasikan kebutuhan mereka. Dan sebagai orang tua, kita secara spontan akan merespons sehingga kebutuhan itu terpenuhi.

Cara apapun yang sudah Moms lakukan, rasanya tidak membantu dan bayi masih saja menangis. Jika Moms mengalami hal ini, berarti Si Kecil sedang mengalami yang namanya kolik.

Menurut jurnal Infant Colic, kolik pada bayi, atau tangisan berlebihan pada bayi yang sehat dan cukup makan, memengaruhi sekitar 5–19% bayi.

Kolik pada bayi adalah tangisan yang tidak terkendali pada bayi sehat. Bayi akan dianggap kolik ketika usianya di bawah lima bulan dan menangis selama lebih dari tiga jam berturut-turut pada tiga hari atau lebih dalam seminggu selama paling tidak tiga minggu.

Meskipun begitu, kolik bukanlah penyakit dan tidak akan menyebabkan bayi dalam kondisi bahaya secara berkepanjangan. Akan tetapi, hal tersebut tentu akan cukup menyulitkan bagi Moms.

Tetapi pada bayi yang sedang kolik, tangisan dimulai tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan tidak memiliki obat yang jelas pula.

Kolik bukanlah penyakit atau diagnosis tetapi kombinasi dari perilaku yang membingungkan. Ini hanya istilah umum untuk bayi sehat yang menangis berlebihan. Masalahnya, tidak ada solusi untuk hal ini selain menunggu semuanya berlalu. Dan hal ini biasanya akan terjadi pada 1 dari 5 bayi.

Masa-masa rewel bayi ini bisa berlangsung berjam-jam, kadang sampai larut malam. Dan sedihnya, akan sangat sulit bagi Moms untuk mencoba menenangkan bayi yang kolik, yang ada hanya menambah frustrasi, kekhawatiran, dan kelelahan kita sendiri.

Dokter biasanya mendiagnosis kolik bayi berdasarkan beberapa hal berikut ini. Bayi Moms menangis:

  • Totalnya setidaknya tiga jam sehari
  • Terjadi setidaknya tiga hari dalam seminggu
  • Berlangsung setidaknya selama tiga minggu berturut-turut

Kabar baiknya adalah kolik pada bayi ini tidak akan terjadi selamanya. Sebagian besar kolik dimulai ketika bayi berusia sekitar 2 hingga 3 minggu, lalu akan mencapai puncaknya sekitar 6 minggu dan kemudian biasanya mulai berkurang di minggu ke-10 hingga 12.

Pada 3 bulan berikutnya, sebagian besar bayi yang kolik akan secara ajaib sembuh. Kolik mungkin berhenti tiba-tiba atau berakhir secara bertahap.

Baca Juga: Ternyata Cara Merespons Bayi Rewel Mempengaruhi Masa Depannya, Ini Penjelasannya

Gejala Kolik pada Bayi

gejala kolik pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Umumnya kolik muncul saat bayi berusia dua atau tiga minggu. Pada usia tersebut, bayi biasanya menangis saat mengompol, lapar, takut, atau mengantuk.

Namun, bayi dengan kolik cenderung menangis berlebihan, biasanya setiap hari pada waktu yang sama (baik pada sore atau malam hari).

Jika Si Kecil kolik, Moms mungkin menyadari bahwa tangisannya lebih keras bahkan bernada tinggi dari tangisan normal bayi, baik di awal maupun di akhir, secara tiba-tiba.

Kolik biasanya juga diiringi kembung, meskipun tidak menimbulkan sakit perut. Sebab, saat menangis bayi akan cenderung menelan banyak udara. Agar lebih jelas, perhatikan gejala bayi kolik berikut ini yuk:

  • Bayi menangis terjadi pada waktu yang sama setiap harinya (biasanya pada sore hari atau menjelang malam hari, tetapi dapat bervariasi).
  • Menangis tanpa alasan (bukan karena popoknya penuh atau bayi lapar atau bahkan ngantuk).
  • Bayi mungkin menarik kakinya, mengepalkan tinjunya dan umumnya menggerakkan kaki dan tangannya lebih banyak.
  • Si Kecil juga akan sering menutup matanya atau membukanya sangat lebar, mengerutkan alisnya, bahkan menahan napas sebentar.
  • Aktivitas usus dapat meningkat, dan ia dapat mengeluarkan gas atau muntah.
  • Makan dan tidur bayi akan terganggu oleh tangisan. Lalu Si Kecil dengan panik akan mencari puting susu, tapi akan menolaknya setelah mulai menyusu, atau tertidur selama beberapa saat lalu terbangun kembali dan menangis.

Tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu kolik atau bagaimana membedakan tangisan akibat kolik atau jenis tangisan umum lainnya.

Tetapi para dokter setuju bahwa tangisan kolik pada bayi akan lebih keras, lebih intens, dan bernada lebih tinggi daripada tangisan normal lainnya. Bahkan terkadang hampir seperti berteriak. Bayi yang kolik juga terlihat tidak bisa dihibur dengan cara apapun, dan cenderung menangis setidaknya selama tiga jam per hari. Meskipun Moms merasa seperti Si Kecil sudah menangis sepanjang waktu.

Periode kolik pada bayi seringnya berulang setiap hari, meskipun beberapa bayi kadang-kadang akan tenang di malam hari.

Baca Juga: Cara Mencegah dan Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Penyebab Kolik pada Bayi

penyebab kolik pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Banyak Moms mungkin bertanya-tanya apa penyebab pasti dari kolik. Semuanya seperti misteri, para ahli bahkan menyebut bahwa kolik bukan hasil dari genetika atau berkaitan dengan apapun yang terjadi selama kehamilan atau persalinan.

Bukan juga refleksi keterampilan dalam mengasuh anak atau kurangnya keterampilan mengasuh anak, jika Moms mungkin bertanya-tanya. Yang pasti hal ini bukan salah Moms. Namun ada yang mengatakan, bahwa kolik pada bayi bisa saja disebabkan oleh beberapa hal berikut ini.

1. Perasaan yang Berlebihan

Bayi baru lahir memiliki mekanisme bawaan untuk menyelaraskan penglihatan dan suara di sekitar mereka, yang memungkinkan mereka tidur dan makan tanpa terganggu oleh lingkungan mereka. Namun, mendekati akhir bulan pertama, mekanisme ini akan menghilang, jadi membuat bayi lebih sensitif terhadap rangsangan di sekitarnya.

Dengan begitu banyak sensasi baru datang, beberapa bayi menjadi kewalahan dan sedikit kaget. Untuk melepaskan stres itu, mereka menangis dan terus menangis.

Menurut teori ini ketika bayi belajar bagaimana menyaring rangsangan lingkungan maka hal ini bisa terjadi.

2. Sistem Pencernaan yang Belum Matang

Mencerna makanan adalah tugas besar bagi sistem pencernaan bayi yang baru lahir. Akibatnya, makanan dapat lewat terlalu cepat dan tidak hancur sepenuhnya, yang mengakibatkan rasa sakit dari gas di usus.

Baca Juga: 7 Cara Menyapih Anak dari Empeng Kesayangan, Jangan Tunda Lagi!

3. Refluks Asam Bayi

Penelitian telah menemukan bahwa GERD pada bayi (penyakit refluks gastroesofagus) dapat memicu kolik. GERD pada bayi seringkali merupakan hasil dari sfingter esofagus bagian bawah yang kurang berkembang, sehingga otot yang menjaga asam lambung mengalir kembali ke tenggorokan dan mulut, yang dapat mengiritasi kerongkongan.

Gejalanya meliputi anak sering muntah, pola makan yang buruk, dan mudah marah selama dan setelah menyusui. Kabar baiknya adalah, kebanyakan bayi tidak akan mengalami GERD lagi saat usianya menginjak 1 tahun. Bahkan biasanya kolik hilang jauh sebelum itu.

4. Alergi atau Sensitivitas Makanan

Beberapa ahli percaya bahwa kolik pada bayi adalah hasil dari alergi terhadap protein susu sapi pada bayi yang diberi susu formula. Dalam kasus yang lebih jarang, kolik dapat menjadi reaksi terhadap makanan tertentu dalam diet ibu pada bayi yang disusui. Di sisi lain, alergi atau kepekaan ini dapat menyebabkan sakit perut yang dapat memicu perilaku kolik pada bayi.

Ada baiknya Moms membiarkan dokter memeriksa apakah Si Kecil memiliki intoleransi protein susu sapi. Meskipun tidak menyebabkan kolik, alergi susu sapi bisa menyebabkan masalah perut dengan gejala yang mirip kolik.

Jika Si Kecil memang alergi susu sapi, gejalanya akan membaik dalam kurun waktu satu minggu atau lebih setelah mengubah konsumsi susu formula seperti saran dokter.

Jika Si Kecil masih mendapatkan ASI eksklusif, mungkin Moms bisa melihat makanan apa yang Moms makan yang mungkin menyebabkan Si Kecil alergi. Cobalah sejenak berhenti mengonsumsi makanan tersebut selama beberapa hari dan coba lihat bagaimana reaksi Si Kecil.

5. Paparan Tembakau

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama atau setelah kehamilan, cenderung memiliki bayi dengan kolik. Perokok pasif juga bisa menyebabkan hal ini.

Meskipun kaitannya ada, tidak jelas bagaimana asap rokok mungkin berhubungan dengan kolik. Intinya karena banyak alasan kesehatan yang lebih penting, jangan merokok atau membiarkan orang lain merokok di sekitar bayi kita. Diingat ya Moms!

Baca Juga: Cobalah 5 Tips Ini Agar Bayi Tetap Nyaman Tidur Saat Alami Refluks

Mengatasi Kolik pada Bayi

mengatasi kolik pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Jika Si Kecil terserang kolik pada bayi, ada beberapa hal yang dapat Moms lakukan untuk menghindari kemungkinan pemicunya. Ada juga hal-hal yang dapat kita coba untuk menenangkan mereka dan mengurangi tangisan Si Kecil.

1. Perhatikan Makanan yang Kita Konsumsi

Jika Moms menyusui Si Kecil, catat apa yang Moms makan dan minum. Segala sesuatu yang kita konsumsi akan otomatis diteruskan ke bayi melalui ASI dan dapat memengaruhi Si Kecil.

Hindari kafein dan cokelat, yang seringnya bertindak sebagai stimulan. Hindari produk susu dan kacang-kacangan, yang mungkin menyebabkan alergi pada bayi kita. Tanyakan kepada dokter anak jika ada obat yang Moms minum, apakah bisa menjadi masalah.

Jika Moms memberi susu formula untuk bayi, Moms dapat mencoba merek lain. Bayi bisa sensitif terhadap protein tertentu dalam susu formula. Cobalah memberi makan bayi lebih sedikit, namun lebih sering.

Hindari memberi makan bayi Moms terlalu banyak atau terlalu cepat. Pemberian satu botol susu harus berlangsung setidaknya sekitar 20 menit. Jika bayi makan lebih cepat, coba gunakan dot susu dengan lubang yang lebih kecil. Ini akan memperlambat waktu makan anak. Moms dapat mencoba menghangatkan susu formula ke suhu tubuh. Atau coba menyusui bayi dalam posisi tegak.

2. Menggendong Bayi

Bayi yang mengalami kolik merespons berbagai cara dengan digendong, dipegang atau diayunkan. Moms dapat mencoba melakukan:

  • Menggendong Si Kecil di lengan atau pangkuan Moms saat sedang memijat punggung mereka.
  • Gendong bayi dengan posisi tegak, jika ada gas di perutnya.
  • Menggendong bayi kita di malam hari.
  • Menggendong bayi kita sambil berjalan.
  • Goyang bayi Moms di lengan atau menggunakan ayunan bayi juga bisa.

3. Beri Bayi Kenyamanan

Bayi juga akan memberikan respons secara berbeda terhadap gerakan dan rangsangan kita. Hal-hal lain yang dapat membantu menenangkan bayi Moms adalah:

  • Memberikan kontak skin-to-skin ekstra.
  • Membedong bayi kita.
  • Bernyanyi untuk bayi agar terhibur.
  • Memberi bayi kompres hangat (tidak panas) atau meletakkan handuk hangat di perut mereka.
  • Memijat bayi, untuk yang satu ini Moms bisa meminta panduan dokter.
  • Memberikan suara yang tidak kentara, seperti kipas angin, penyedot debu, mesin cuci, pengering rambut, atau mesin pencuci piring.
  • Memberi bayi empeng.
  • Berjalan-jalan dengan anak di kereta dorong mereka.
  • Pergi berkendara dengan Si Kecil di kursi mobil.
  • Memberikan buah hati kita tetes simetikon. Obat yang dijual bebas ini dapat membantu meringankan gas di perut anak.

Dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, Moms disarankan untuk menenangkan bayi dengan mengajak jalan-jalan, jalan dengan mobil, mendengarkan musik, menggoyang-goyangkan bayi.

Baca Juga: Benarkah Menyusui Bayi Prematur Harus Lebih Sering?

4. Grip Water dan Kolik

Moms bisa memberikan Si Kecil grip water untuk mengatasi kolik pada bayi. Obat kolik alami yang terbuat dari herbal dan natrium bikarbonat dalam bentuk tetes ini dipercaya ampuh. Banyak orang tua yang menggunakannya, tetapi tidak ada penelitian yang dapat diandalkan yang menunjukkan efektivitasnya dalam mengurangi gejala kolik.

Namun Moms tetap harus berhati-hati ya, karena grip water alami, belum tentu aman untuk bayi. Jadi sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter anak sebelum memberikan bayi kita obat herbal.

5. Berikan Anak Empeng

Beberapa bayi yang mengalami kolik tampaknya lapar dan ingin makan sepanjang waktu. Makanya, memberikan anak dot yang dihisap mungkin bisa menenangkan anak yang tidak lapar.

Jadi, jika Si Kecil kelihatan lapar sepanjang waktu dan pemberian makanan yang cukup sepertinya tidak memuaskan anak, dot bisa menjadi penyelamat untuk para ibu. Konsultasikan dengan dokter jika Moms tidak yakin apakah bayi mendapatkan cukup makan pada waktu makan.

6. Membawa Bayi ke Dokter

Moms bisa membawa bayi berkonsultasi dengan dokter jika menemukan tanda-tanda kolik pada bayi. Dokter bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai adanya potensi gangguan kesehatan lainnya pada bayi, seperti infeksi saluran kemih maupun masalah usus.

Selain itu, dokter juga bisa membantu memberikan saran mengenai tindakan tepat yang perlu Moms ambil jika memang Si Kecil kolik.

Jika Moms menemukan tanda-tanda lain seperti demam, muntah, atau tinja berdarah, segera hubungi dokter karena itu bukan gejala kolik pada bayi.

Kapan Kolik pada Bayi Harus Dibawa ke Dokter?

kolik pada bayi-kapan dibawa ke dokter

Foto: Orami Photo Stock

Biasanya kolik pada bayi tidak berbahaya, dan periode kolik ini akan berlalu. Namun bila ada tanda-tanda lain saat bayi menangis hebat, sebaiknya bayi dibawa ke dokter spesialis anak untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut dr. Putu, tanda-tanda lain bila kolik pada bayi menjadi berbahaya antara lain:

  • Demam di atas 37,8 derajat Celcius
  • Bayi tidak aktif atau tampak lemas
  • Bayi tidak mau menyusu
  • Refleks isap lemah/saat menyusui atau ketika minum ASI dalam botol bayi tidak mengisap dengan baik
  • BAB (buang air besar) lebih cair dan lebih sering dari biasanya atau ada darah saat BAB
  • Muntah berulang
  • Berat badan turun atau tidak naik
  • Bayi masih sulit ditenangkan walaupun sudah melakukan kiat-kiat menenangkan bayi kolik sebelumnya.

Mengutip Kids Health, jangan salahkan diri Moms atau bayi atas tangisannya, penting diketahui jika kondisi kolik pada bayi bukanlah kesalahan siapa-siapa.

Cobalah untuk rileks, dan ketahuilah bahwa Si Kecil akan melewati fase ini. Moms dapat menaruh bayi di ranjang bayi dan segera hubungi bantuan. Jangan pernah mengguncang bayi.

Biasanya, kolik terjadi pada bayi mulai dari yang berusia 2-5 minggu dan jarang terjadi setelah usia 4 bulan.

"Kolik dapat terjadi pada siapa saja, namun lebih sering terjadi pada bayi pertama atau bayi yang mengalami alergi susu sapi," jelas dr. Putu.

Baca Juga: Kenali 12 Refleks pada Bayi Baru Lahir

Tips Mencegah Kolik pada Bayi

kolik pada bayi-cara mencegah

Foto: Orami Photo Stock

Pada prinsipnya, dr. Putu mengatakan bahwa penting memastikan bayi nyaman. Cara membuat Si Kecil nyaman di antaranya adalah dengan memastikan bayi tidak lapar/haus.

Selain itu, pastikan popoknya kering, dan juga sendawakan bayi setelah menyusui.

"Diskusikan dengan dokter spesialis anak apabila pada Moms yang menyusui langsung, apakah perlu menghindari makanan yang mengandung kafein, produk susu/telur atau tidak," jelas dr. A.A.A. Putu Indah Pratiwi, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Moms bisa juga menanyakan ke dokter, bila bayi diberikan susu formula, apakah perlu mengganti susu formula tersebut atau tidak.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai kolik pada bayi.

Sekarang Moms sudah mengetahui mengenai berbagai hal tentang kolik pada bayi, mulai dari gejala, dan cara mengatasinya bukan? Jadi, jika Moms menemukan beberapa gejalanya, jangan langsung panik, ya.

Artikel Terkait