KESEHATAN
12 Desember 2019

Penyebab Radang Usus Buntu dan Penanganannya

Buang air besar yang tidak teratur juga bisa menjadi pemicu usus buntu lho
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Radang usus buntu atau yang dikenal dengan appendicitis adalah penyakit yang umum dijumpai di masyarakat. Penyakit ini biasanya muncul tiba-tiba, dengan insidensi tertinggi pada rentang usia 20-30 tahun.

Namun, sebenarnya dapat muncul pada kelompok usia manapun. Laki-laki sedikit lebih sering terkena penyakit ini.

Lebih lanjut, gejala khas pada radang usus buntu ini adalah munculnya rasa tidak nyaman atau melilit pada sekitar pusar atau ulu hati yang dalam beberapa jam berpindah ke daerah perut kanan bawah. Dapat disertai dengan mual dan muntah.

“Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka radang usus buntu berpotensi mengalami perforasi (pecah) yang akan mengakibatkan infeksi meluas ke seluruh daerah perut,” jelas dr. Sugiharto Purnomo, dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif RS Pondok Indah – Puri Indah.

Menurutnya jika sudah terjadi perforasi, biasanya pasien akan mengalami demam, perut tegang, dan kencang, gangguan buang air besar, dan buang gas, takikardi (nadi menjadi cepat), hipotensi (tekanan darah turun), dan berpotensi untuk mengancam jiwa.

Baca Juga: Usus Buntu pada Anak, Kapan Harus Dioperasi?

Apa Penyebab Radang Usus Buntu?

radang usus buntu

Foto: alodokter.com

Penyebab radang usus buntu yang utama adalah adanya sumbatan pada pangkal usus buntu. Hal ini seringnya disebabkan oleh kotoran yang mengeras atau yang disebut fecolith, sebab lain dapat berupa pembesaran kelenjar limfoid di usus buntu, tumor, benda asing dan parasit, seperti cacing.

Buang air besar yang tidak teratur dengan konsistensi yang keras juga akan meningkatkan risiko terjadinya sumbatan pada usus buntu.

Berdasarkan penjelasan dr. Sugiharto Purnomo, tujuh puluh persen diagnostik radang usus buntu dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun, biasanya ada alat bantu untuk membantu diagnosis, dimulai dari pemeriksaan laboratorium, ultrasonogafi perut, dan CT scan abdomen.

“Penting sekali untuk mendapat diagnosis yang cepat dan akurat, sebab apabila sudah terjadi perforasi, selain bahaya mengancam jiwa, kemungkinan akan sulit dilakukan pembedahan minimal invasive, sehingga waktu pemulihan pasien akan semakin panjang,” tambah dokter.

Ada sistem penilaian yang dapat membantu menegakkan diagnosis radang usus buntu, yaitu alvarado score. Sistem penilaian ini berisi komponen berupa:

Jika nilai dari alvarado score ini lebih dari 7 maka diagnosis radang usus buntu sudah tegak. Apabila nilainya 5-6, sebaiknya dirawat untuk dilakukan observasi lebih lanjut.

Baca Juga: Anak Sering Mengeluh Sakit Perut? Kenali 5 Penyebabnya Disini!

Penyembuhan Radang Usus Buntu

radang usus buntu

Foto: medium.com

Terapi pada radang usus buntu yang utama adalah pembedahan. Saat ini dikenal beberapa jenis pendekatan operasi pengangkatan usus buntu.

Pendekatan pertama adalah dengan cara konvensional atau bedah terbuka. Kedua adalah bedah minimal invasive.

“Keuntungan dari bedah minimal invasive adalah tingkat nyeri minim, pemulihan lebih cepat, dan menimbulkan bekas luka operasi yang lebih kecil,” ujar dr. Sugiharto Purnomo.

Ada penelitian yang menggunakan terapi antibiotik atau tanpa operasi untuk penanganan usus

buntu dengan hasil tingkat keberhasilan 80 persen. Namun, terapi ini hanya dapat digunakan pada kasus radang usus buntu yang belum mengalami komplikasi.

Terapi non-operatif juga akan memperpanjang masa rawat di rumah sakit, dan berhubungan dengan kemungkinan 20 persen pasien akan mengalami serangan radang usus buntu berulang.

Baca Juga: Waspada 5 Gejala Usus Buntu Pada Anak

Itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang radang usus buntu dan penanganannya. Jangan sampai terlambat ditangani ya Moms.

Artikel Terkait