NEWBORN
16 Mei 2019

Kenapa Bayi Bisa Memiliki Lesung Bokong?

Bukan karena kelainan pada tubuh bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur

Apakah Moms melihat adanya cekungan mirip lesung pipit di bokong Si Kecil? Cekungan tersebut dikenal dengan istilah lesung bokong. Biasanya terletak di bagian bawah punggung, tepat di atas bokong atau di dalam lipatan pantat.

Sekitar 3 hingga 8 persen populasi bayi baru lahir di dunia diketahui memiliki lesung bokong. Dalam kebanyakan kasus ini bukanlah kondisi yang berbahaya dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan bayi. Namun, sebagian kecil bayi dengan lesung bokong dapat memiliki kelainan tulang belakang.

Kenapa Ada Lesung Bokong pada Bayi?

Kenapa Bayi Bisa Memiliki Lesung Bokong 1.jpg

foto: seldomgreat.ml

Hingga hari ini, masih belum ada bukti konklusif atau informasi faktual mengenai penyebab adanya lesung bokong pada bayi baru lahir.

Dokter dan para ahli hanya yakin akan fakta bahwa, dalam sebagian besar kasus, lesung bokong sudah ada sejak lahir, sehingga menjadikannya sebagai suatu kondisi bawaan.

Sementara alasan terbentuknya lesung bokong pada janin, bahkan meskipun tidak menimbulkan risiko, belum dapat diketahui.

Baca Juga: Mengapa Tebal Rambut Bayi yang Baru Lahir Berbeda-Beda?

Bagaimana Tanda Lesung Bokong yang Normal pada Bayi?

Satu-satunya tanda lesung bokong yang normal adalah cekungan yang umumnya dangkal di dekat ujung tulang ekor dan bagian atas bokong. Kebanyakan lesung bokong tidak berbahaya dan tidak memerlukan intervensi apa pun.

Komplikasi Apa yang Mungkin Terjadi pada Lesung Bokong Bayi?

Kenapa Bayi Bisa Memiliki Lesung Bokong 2.jpg

foto: spineuniverse.com

Meskipun kebanyakan lesung bokong tidak berbahaya, ada kemungkinan komplikasi atau kelainan. Sehingga penting bagi Moms untuk mengetahui apakah lesung bokong Si Kecil normal ataukah dapat menimbulkan risiko komplikasi.

Adapun komplikasi yang dikaitkan dengan kasus lesung bokong tidak normal (sangat jarang ditemukan) antara lain:

  • Spina bifida occulta. Terjadi ketika sumsum tulang belakang keluar dari tulang belakang dan menyebabkan terbentuknya celah kecil di antara ruas tulang punggung. Dalam kebanyakan kasus, spina bifida occulta tidak menunjukkan gejala dan tidak memengaruhi saraf.
  • Sindrom tali pusat. Kelainan yang terjadi ketika jaringan yang menempel pada sumsum tulang belakang membatasi pergerakannya. Tanda dan gejala dari sindrom ini termasuk kelemahan atau mati rasa di kaki dan inkontinesia kandung kemih atau usus.

Baca Juga: Mengenal Jenis Tanda Lahir pada Bayi

Bagaimana Cara Membedakan antara Lesung Bokong yang Normal dan Berbahaya?

Kenapa Bayi Bisa Memiliki Lesung Bokong 3.jpg

foto: healthfully.com

Dikutip dari drgreene.com, Dr. Greene, seorang dokter serta penasihan kesehatan global, mengungkapkan setidaknya ada empat tanda dari lesung bokong yang tidak normal pada bayi, yaitu:

  • Cekungan terlalu dalam sehingga bagian dasarnya tidak dapat terlihat,
  • Berukuran cukup besar dengan diameter lebih dari 0,5 cm,
  • Terletak lebih dari 2,5 cm di atas anus bayi,
  • Terkait dengan kondisi kulit lainnya di sekitar lokasi lesung bokong, seperti ditumbuhi rambut, tonjolan menyerupai ekor, atau Hemangioma.

Lesung Bokong vs Kista Pelonidal

Kenapa Bayi Bisa Memiliki Lesung Bokong 4.jpg

foto: pediatrics.aappublications.org

Kondisi lain yang juga menyerupai lesung bokong yakni kista pilonidal karena umumnya berada di bagian tubuh yang sama, di dekat tulang ekor atau tepat di atas bokong.

Kista pilonidal adalah kumpulan cairan, rambut, dan debris yang terbentuk di dalam sac. Jika terinfeksi, dapat menjadi bengkak dan menyebabkan rasa sakit. Bahkan nanah dan darah juga akan keluar dari kista pilonidal yang sudah terinfeksi.

Berbeda dengan lesung bokong yang sudah ada sejak bayi baru lahir, kista pilonidal baru berkembang setelah bayi lahir. Siapa pun dapat mengembangkan kista, namun lebih umum ditemukan pada pria muda.

Meskipun penyebabnya ternyata masih belum ditemukan, lesung bokong adalah kondisi bawaan yang tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika ditemukan adanya gejala berbahaya seperti yang disebutkan di atas.

(RGW)

Artikel Terkait