BALITA DAN ANAK
10 Mei 2020

8 Kendala saat Mengajarkan Toilet Training pada Anak, Yuk Antisipasi!

Cari tahu juga solusinya yuk Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Begita
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Memasuki usia balita, Moms mungkin sudah berpikir untuk mengajarkan toilet training pada Si Kecil. Tapi, Moms juga mungkin bertanya-tanya kapan usia yang tepat untuk melakukannya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak ada usia yang pasti untuk memulai toilet training pada seorang anak. Kesiapannya dilihat dari kematangan fisik dan psikologis yang secara umum timbul sekitar usia 18 bulan sampai 2,5 tahun.

Perubahan dari menggunakan popok ke toilet tak selalu berjalan mulus. Muncul berbagai kendala saat mengajarkan toilet training kepada balita. Jangan frustasi dulu, Moms. Kendala toilet training wajar terjadi. Kabar gembiranya, semua itu ada solusinya.

Kendala saat mengajarkan Toilet Training dan Solusinya

Kendala toilet training bisa karena ketakutan, penolakan, juga terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan. Setidaknya, ada beberapa kendala yang umum terjadi saat mulai mengajarkan toilet training. Yuk simak!

1. Menolak ke Toilet

10 Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Penolakan bisa menjadi petunjuk ini bukanlah saat yang tepat untuk memulai latihan. Menurut Parents.com, sebaiknya bawa anak ke toilet saat ia tampak perlu buang air kecil atau besar.

Biarkan dia duduk di pispot beberapa menit, jelaskan apa yang moms inginkan terjadi. Bersikaplah santai, jangan bersikeras saat ia protes.

Penolakan anak terkadang hanya rasa takut akan sesuatu yang baru. Terkadang anak-anak memiliki ketakutan khusus tentang toilet. Mereka mungkin takut dengan suara bising yang timbul dari toilet, takut jatuh ke toilet, atau khawatir sesuatu mengintai di dalam.

Banyak juga anak-anak yang memiliki pengalaman sembelit, infeksi saluran kemih, atau masalah medis lainnya sehingga membuat mereka mengasosiasikan toileting dengan rasa sakit.

Menurut Parenting Science, saat memulai toitlet training, penting untuk memastikan anak sedang tidak sembelit, feses yang keras, atau kondisi yang berpotensi menyakitkan lainnya. Perlu pula dilihat apakah makanan dan cairan yang dikonsumsi sudah cukup.

Baca Juga: 3 Tips Toilet Training ala Chelsea Olivia, Tanpa Drama!

2. Menolak Duduk di Toilet

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mengatasi ini, kenyamanan anak saat menggunakan toilet harus jadi perhatian. Menurut Parenting Science, saat kaki anak-anak dibiarkan menggantung, anak-anak tidak hanya kurang nyaman.

Mereka juga memiliki lebih banyak kesulitan mengendalikan otot-otot yang berkemih. Karena itu, peneliti menyarankan agar toilet training sebaiknya menggunakan toilet ukuran anak. Gunakan kursi latihan di atas toilet dan letakkan bangku pendek di bawah kaki anak.

Selain itu, pertimbangkan juga kesiapan psikologis anak. Dokter anak yang tergabung dalam Canadian Pediatric Society berpendapat, penolakan merupakan tanda bahwa anak belum siap untuk pelatihan.

Mereka menyarankan agar beristirahat sejenak latihan, lalu mencoba lagi satu atau dua bulan lagi.

Memaksa anak yang tidak siap berlatih akan menyebabkan mereka menahan buang air kecil maupun besar sehingga meningkatkan potensi terkena infeksi saluran kencing dan sembelit.

Memaksa mereka hanya akan membuatnya ketakutan dan menimbulkan ebih banyak masalah selama berlatih.

3. Anak Tidak Menyadari Perlunya Buang Air Kecil

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Seringkali anak tidak menyadari jika perlu buang air kecil, meskipun ia menyadari perlu buang air besar. Hal semacam ini lumrah saja, Moms.

Sebagian anak belum bisa mengontrol kandung kemih sepenuhnya, bahkan berbulan-bulan setelah belajar mengendalikan buang air besar. Tak perlu khawatir, Moms, lanjutkan saja toilet training.

4. Mengompol saat Tidur

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Sebagian balita membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan toilet trainingnya saat tidur siang dan malam hari. Jika balita masih mengompol di kasur, cobalah untuk tidak marah.

Hukuman dan omelan akan membuat anak merasa tidak enak. Akibatnya, toilet training akan berlangsung lebih lama.

Jangan terlalu berharap segalanya sempurna. Bahkan setelah proses belajar selesai, mengompol masih bisa terjadi. Oleh karena itu Parent Science menyebut, peneliti pada studi anak-anak Amerika Serikat menganggap toilet training sudah selesai jika anak mengompol kurang dari empat kali dalam seminggu dan dua atau kurang buang air besar di celana dalam sebulan.

Balita perlu didorong untuk menggunakan pispot sebelum tidur dan segera setelah ia bangun. Katakan padanya, jika tengah malam perlu ke toilet, Moms siap untuk membantunya atau ia bisa ke toilet sendiri.

5. Takut Tersedot Kloset

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Suara derasnya air saat menyiram kloset bisa menimbulkan rasa takut anak. Mereka khawatir bisa tersedot air yang mengalir saat duduk di atasnya.

Anak perlu diberi keyakinan bahwa ia memegang kendali. Moms bisa membiarkan ia menyiram kertas toilet. Cara itu akan mengurangi rasa takutnya terhadap suara derasnya air dan melihat kertas yang hilang.

Baca Juga: 5 Langkah Sukses Toilet Training untuk Si Kecil

6. Memainkan Fesesnya

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Hal ini terjadi karena rasa penasarannya. Moms bisa menghentikannya tanpa harus membuatnya marah. Misalnya dengan mengatakan, “Ini bukan untuk dimainkan.”

Sebagian balita merasa kotorannya merupakan bagian dari tubuhnya. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang menakutkan dan belum dipahami. Moms perlu jelaskan mengapa tubuh kita perlu mengeluarkan kotoran.

7. Hanya Mau ke Toilet dengan Satu Orang yang Sama

xx Kendala Saat Mengajarkan Toilet Training

Foto: Orami Photo Stock

Ini sesuatu yang wajar. Jika balita hanya mau ke toilet dengan Moms. Perlahan tariklah diri dari proses ini. Misalnya dengan menawarkan membantu membuka celana, namun hanya akan menunggu di pintu.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun kerap enggan menggunakan toilet umum. Solusi sederhananya, bisa dengan menggunakan dudukan toilet portabel, yang bisa dipasang di atas toilet standar. Pakailah saat berlatih di rumah dan bawalah ketika bepergian.

8. Meminta Popok saat Akan BAB dan Berdiri di Tempat Khusus

toilet training anak-3.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Hal ini menunjukkan secara fisik, balita siap toilet training, meski secara emosional belum siap. Jangan menganggap hal ini sebagai suatu kegagalan.

Pujilah dia karena telah mampu mengenali sinyal dari ususnya. Sarankan agar ia buang air besar di kamar mandi sambil mengenakan popok.

Baca Juga: 4 Persiapan Toilet Training Anak, Sudahkah Dilakukan?

Nah,itulah beberapa kendala yang mungkin Moms hadapi saat mengajarkan toilet training pada anak. Mengajarkan toilet training bukanlah hal instan. Moms dan Si Kecil sama-sama membutuhkan proses untuk bisa berhasil melakukannya.

Pada waktunya, saat sudah siap secara fisik dan emosional, Si Kecil pun akan lulus toilet training.

Artikel Terkait