PARENTING
28 April 2020

Konsultasi dengan Dokter Anak lewat Video Call, Kisah Ibu Baru di Tengah Pandemi COVID-19 di Australia

Beruntung karena tidak merasakan kehamilan di tengah pandemi COVID-19
placeholder

Foto: Dokumentasi Pribadi

placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Irma B Pongtuluran, ibu dari Gianna Kirannuan Adistambha (1 bulan), tinggal di Sydney, Australia

Tinggal jauh dari keluarga atau istilah lainnya merantau, mungkin memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Asik, karena kita bisa mengenal budaya lain dan mencoba hal yang baru di tempat baru. Sedangkan kekurangannya, seperti di tengah situasi pandemi virus corona (COVID-19) ini, jauh dari keluarga besar.

Baca Juga: Saya Berjuang di Tengah Pandemi CoVID-19 dengan Kondisi Hamil Tua dan LDR dengan Suami

Keluarga tentu akan lebih tenang jika kita tinggal berdekatan satu sama lain, atau setidaknya tinggal dalam satu negara yang sama. Jika berjauhan, rasa khawatir mungkin akan lebih terasa. Apalagi jika baru kedatangan seorang bayi kecil.

Berikut ini cerita pandemi di Kota Sydney, Australia. Tengok yuk, Moms.

Awal Mula Pandemi COVID-19 di Sydney

cerita corona di australia

Foto: cnn.com

Kami tinggal di Sydney sejak tahun 2015. Karena sudah cukup lama, saya pun sudah beradaptasi dengan kondisi di Sydney yang jauh dari keluarga.

Namun, kondisi yang sudah stabil itu seketika berubah drastis. Pada 25 Januari 2020, kasus COVID-19 pertama di Australia dikonfirmasi. Pasien tersebut merupakan warga negara Tiongkok yang tiba dari Guangzhou pada 19 Januari. Ia kemudian dirawat di Melbourne.

Di hari yang sama, tiga pasien lainnya dinyatakan positif COVID-19 di Sydney setelah mereka pulang dari Wuhan.

Semenjak itu, kasusnya terus bertambah hingga akhirnya pada 31 Januari 2020, Pemerintah Australia mengambil kebijakan karantina selama 14 hari kepada warga asing tang tiba dari Tiongkok.

Pada 1 Maret 2020, Australia melaporkan kasus pertama pasien COVID-19 meninggal. Pasien tersebut merupakan seorang pria 78 tahun yang berasal dari Perth. Dia diketahui sebagai salah satu penumpang kapal Diamond Princess yang dievakuasi kemudian dirawat di Australia Barat.

Pada 15 Maret, institusi pendidikan mulai menghentikan kegiatan belajar mengajar di kelas. Larangan berkumpul pun sudah mulai diterapkan.

Saya sendiri melahirkan Gianna Kirannuan Adistambha pada 3 Maret 2020. Jadi, kebetulan waktu mulai heboh-hebohnya pandemi COVID-19, saya sudah memasuki masa maternity leave jadi hanya pergi ke rumah sakit saja.

Di Sydney sendiri sempat terjadi kepanikan atau istilah kerennya panic buying. Situasi in terjadi beberapa minggu lamanya, di mana banyak orang mengantre dari pagi di supermarket, yang mengakibatkan barang out of stock dan banyak orang tidak kebagian.

Terjadinya panic buying dari masyarakat ini, membuat adanya kebijakan pembatasan jumlah barang yang dapat dibeli untuk barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, gula, tisu toilet, dan telur.

Bukan hanya itu saja, layaknya pandemi di negara lainnya, pun banyak toko dan department store yang tutup selama beberapa minggu, atau hingga jangka waktu yang belum diketahui.

Saat ini, restoran dan food court pun hanya melayani delivery dan take away. Food court di mal bahkan selalu didatangi polisi untuk inspeksi dan memastikan tidak ada orang yang berkumpul dan makan di tempat selama pandemi berlangsung.

Ditambah lagi, panjangnya antrean di centerlink (badan pemerintah yang berhubungan dengan jaminan sosial). Hal tersebut merupakan dampak dari naiknya tingkat pengangguran karena situasi pandemi COVID-19.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Berbagai macam sarana hiburan pun tutup, seperti mal dan bioskop misalnya. Bahkan layanan alat transportasi kereta juga sepi.

Bagi saya pribadi, perubahan yang paling terasa dari pandemi COVID-19 ini adalah banyaknya toko dan department store yang tutup. Beberapa toko beralih melakukan transaksi online.

Fokus Menjadi Ibu Baru di Tengah Pandemi

pandemi di australia

Foto: Dokumentasi Pribadi

Kalau orang-orang harus menjalani WFH karena situasi pandemi ini, saya belum merasakannya.

Kebetulan saya mengambil maternity leave selama 12 bulan, jadi untuk sekarang belum ada pengaruhnya. Mungkin tahun depan setelah masa cuti saya habis, baru bisa merasakan apa yang orang-orang jalani sekarang.

Beruntungnya saya di rumah tidak sendiri. Ditemani suami yang juga mengambil paternal leave sampai bulan Mei mendatang. Jadi saya merasa tenang, karena ada suami yang membantu di rumah.

Ketika sudah masuk nanti, mungkin suami akan WFH juga dikarenakan semua pegawai kantornya masih WFH hingga hari ini.

Waktu ini khususnya saya manfaatkan untuk belajar mengurus bayi saya yang baru lahir. Mengisi waktu dengan membaca artikel-artikel di internet dan mencari informasi dari teman yang sudah lebih dulu mempunyai anak.

Seru, karena saya seperti belajar hal baru dan mendapatkan pengetahuan yang baru juga tentang menjadi ibu yang baik.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Agar tidak bosan, tentu saya tidak lupa menonton drama Korea sebagai intermezzo. Lumayan dijadikan sebagai hiburan sederhana di rumah aja.

Kalau untuk belanja keperluan sehari-hari, saya dan suami menyiasatinya dengan belanja yang sekalian banyak, cukup untuk satu minggu atau lebih. Jadi kami tidak perlu terlalu sering keluar rumah.

Konsumsi Vitamin Jadi Andalan Keluarga

cerita corona di australia

Foto: Orami Photo Stock

Kesehatan keluarga tentu menjadi yang terpenting di kondisi pandemi COVID-19 ini. Kami mengandalkan vitamin C dan vitamin D untuk menjaga daya tahan tubuh.

Cara lainnya seperti yang sudah saya sebutkan mungkin, kami meminimalisir kegiatan yang membutuhkan kami untuk keluar rumah, termasuk membeli makanan dari luar.

Jika ada keperluan di luar rumah, saya hanya bawa seperlunya saja, seperti ketika grocery shopping. Hanya membawa dompet, ponsel, dan kantong belanjaan. Begitu sampai di rumah, langsung mandi dan mensterilisasi barang belanjaan saya sebelumnya.

Nyaris Merasakan Kehamilan di Tengah Pandemi

cerita corona di australia

Foto: Orami Photo Stock

Mengapa saya bilang nyaris? Karena pengalaman hamil saya terjadi ketika belum dinyatakan sebagai pandemi. Jadi ya saya masih beraktivitas seperti biasa saja. Untungnya lagi, persalinan saya terjadi sebelum terjadi pandemi.

Tidak ada kendala berarti yang saya alami, termasuk dalam hal kontrol kandungan karena sebelum terjadi kasus COVID-19, klinik masih buka normal.

Baca Juga: 4 Tips Mengatasi Rasa Cemas saat Hamil di Tengah Pandemi

Seminggu setelah bersalin, baru rumah sakit tempat saya melahirkan tidak mengijinkan adanya visitor. Menurutnya saya ini adalah keberuntungan tersendiri untuk saya dan suami.

Jadi setelah melahirkan, rasa cemas berkurang dan saya bisa fokus merawat bayi saya saja. Berjemur jika cuaca memungkinkan akan saya lakukan bersama Si Kecil, minum vitamin, makan sehat, dan minum cukup sebagai pendukung.

Sekarang ini yang agak menjadi kendala untuk saya adalah memeriksakan bayi ke dokter anak dan dokter umum untuk imunisasinya.

Untuk kunjungan pertama dokter anak kita konsultasi tatap wajah, akan tetapi untuk 6 minggu setelahnya, konsultasi dilakukan melalui telepon atau video call saja. Social distancing, tetap dilakukan sebisa mungkin saat ini.

Meskipun penyebarang virus corona semakin meluas, saya bisa katakan kita sebagai pribadi bisa membantunya. Caranya dengan stay at home untuk proteksi diri dan keluarga kita.

Artikel Terkait