PARENTING
29 April 2020

Kesempatan Quality Time dengan Keluarga, Kisah Pandemi COVID-19 di Inggris

Bagaimana cerita pandemi di Oxford?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Melur Pinilih (34 tahun), ibu dari 2 orang anak, tinggal di Oxford, Inggris

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyebaran virus corona (COVID-19) sudah mencapai lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Hampir semua negara berusaha semaksimal mungkin untuk menekan angka penyebaran di setiap kota dan wilayahnya.

Salah satu negara yang tidak luput dari infeksi virus corona adalah Inggris. Data Departemen Kesehatan Inggris menunjukkan kasus positif infeksi corona virus di negara Ratu Elizabeth II ini, sudah mencapai 100.000 lebih kasus, dengan jumlah kematian mencapai 13.000 lebih per 16 April 2020.

Bagaimana cerita pandemi virus corona di Inggris? Ini cerita dari Kota Oxford.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Pandemi Virus Corona di Oxford

covid-19 di oxford

Foto: Instagram.com/meyuy

Pandemi virus corona di seluruh dunia memang sangat mengancam. Di Oxford sendiri sudah ada cukup banyak kasus virus corona. Untungnya, sebagian besar warga di sini tahu diri untuk menetap di rumah dan hanya bepergian untuk hal-hal yang benar-benar penting sesuai yang dianjurkan oleh Perdana Menteri Inggris.

Sesuai anjuran, masyarakat hanya boleh keluar untuk membeli bahan makanan atau keperluan medis dan olahraga sekali sehari saja. Adapun keluar rumah untuk bekerja, hanya jika pekerjaannya memang tak dapat dilakukan di dalam rumah. So, suasana otomatis menjadi jauh lebih sepi.

Tentunya kami sekeluarga harus beradaptasi dengan perubahan drastis dari kehidupan yang sebelumnya cukup dinamis. Minggu ini pun, sebetulnya kami sekeluarga sudah berencana untuk glamping (glamorous camping) di luar kota.

Sayangnya, keadaan cepat sekali bertambah parah. Kami pun memutuskan untuk membatalkan semua liburan serta harus menerima kenyataan untuk berdiam diri di rumah.

Ikhlas dan Terbiasa, Gambaran Perasaan Kami saat Ini

Jujur, saya tidak pernah terpikir keadaan akan separah ini sampai-sampai sebagian besar tempat harus tutup termasuk sekolah anak saya. Awalnya berat memang, tapi lama-lama ikhlas dan mulai terbiasa.

Semua himbauan yang disampaikan oleh pemerintah, seperti stay at home, untuk melindungi tenaga medis di sini, agar jumlah korban COVID-19 tidak bertambah, dan tentu saja jika saya bisa bilang untuk menyelamatkan hidup.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Tidak lupa juga tentunya melakukan social distancing ya. Sepertinya rata-rata orang sudah mengikuti aturan, tapi dengar-dengar ada juga yang "bandel" (misalnya berjemur di luar saat cuaca sedang hangat, kan kegiatan tersebut tidak termasuk urgent ataupun esensial).

Untuk saat ini, saya pribadi memilih physical distancing karena saya berusaha menghormati para pekerja medis yang harus bertaruh nyawa dan mungkin ingin sekali bertukar tempat dengan kita yang hanya perlu tinggal diam di rumah saja.

Miris jika mengingat banyak yang mengabaikannya dan tidak berpikir panjang, lalu keluar rumah hanya karena “bosan saja”.

Untungnya juga, di dekat tempat tinggal saya belum ada yang dilaporkan terinfeksi COVID-19. Yang saya tahu, rumahnya orang yang sempat terinfeksi COVID-19 di Oxford itu paling sekitar 15 menit berjalan kaki dari rumah saya.

WFH Karena COVID-19, Rasanya Janggal

cerita covid-19 di oxford

Foto: id.investing.com

Memang sejak saya hamil dan melahirkan anak pertama, sudah melakukan WFH. Tapi tentu saja WFH karena COVID-19 berbeda. Atmosfernya janggal.

Jujur saja, saya kalau bekerja tidak tergantung lokasi tapi tergantung mood. Hahaha. Namun tentunya, sebisa mungkin pekerjaan selesai sesuai deadline yang telah ditentukan.

Rahasia tetap nyaman WFH meskipun pandemi? Tips saya adalah sounding ke orang rumah kalau kita mau serius kerja. Lalu tentunya harus pilih tempat yang paling mendukung untuk bekerja.

Penting, sediakan banyak "obat waras" seperti makanan favorit dan musik yang menyenangkan. Kalau bosan, bisa stretching atau mencari inspirasi dari sumber lain selain komputer seperti buku, majalah, maupun sekadar mengobrol sebentar dengan keluarga atau teman (via video call dsb).

Baca Juga: Saya Berjuang di Tengah Pandemi CoVID-19 di Malaysia dengan Kondisi Hamil Tua dan LDR dengan Suami

Jadikan sebagai Quality Time dengan Keluarga

cerita covid-19 di oxford

Foto: Instagram.com/meyuy

Tidak ada yang spesial dari kegiatan karantina diri kami di rumah. Biasanya saya masak, dilanjutkan bekerja, sesekali main dengan anak, nonton, berdoa, dan olahraga tentunya.

Jika anak bosan misalnya, saya akan mengajaknya untuk keluar ke halaman rumah, lalu beri mereka kegiatan seperti "Scavenger Hunt" atau sekadar piknik. Hiburan murah meriah, and it works like magic! Boleh dicoba, Moms.

Karenanya, kegiatan favorit kami selama karantina diri pun cukup sederhana. Kalau saya, main internet sudah cukup. Sedangkan anak saya, nonton film.

Harus Akur dengan Antrian saat Belanja

Seperti kebanyakan pemberlakuan di negara lain yang terinfeksi virus corona, restoran dan sebagian besar toko pada umumnya tutup. Hanya ada supermarket dan beberapa toko kelontong yang buka, itu pun dengan pemberlakuan jam buka yang terbatas.

Belanja di supermarket yang masih buka juga bukan berarti jadi lebih mudah. Antrean cenderung memanjang karena ada peraturan untuk menjaga jarak.

Kebutuhan pokok pun juga tidak terlampau mudah untuk didapatkan seperti sebelumnya. Kalaupun ada persediaan, jumlah pembelian barang-barang yang permintaannya tinggi biasanya dibatasi agar semua pelanggan kebagian.

Sabar dan Pasrah, Kunci Segalanya

Harap bersabar, ini ujian. Hehe. Tapi serius kok, menurut saya ini betul-betul cobaan dari Tuhan. Dan kita sebagai manusia cuma bisa berusaha yang sebaik-baiknya.

Fokus sama hal yang masih bisa kita usahakan saja. Pasrahkan semua yang di luar kuasa kita kepada Yang Maha Mengetahui. Kalau kita sudah melakukan yang terbaik, inshaAllah kita akan segera melihat titik terang sebagai jalan keluar.

Artikel Terkait