PARENTING
17 September 2019

Kisah Saya Alami Pre-eklampsia saat Hamil dan Menerima Kepergian Si Kecil

Tekanan darah saya tiba-tiba naik jadi 170/110, padahal sebelumnya tensi saya rendah
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Yuni Oei (30 th), Ibu dari Shelby dan Selena, (2 th). Member WAG Orami Mompreneur.

Ini merupakan pengalaman 5 tahun yang lalu ketika saya didiagnosa dokter mengalami pre-eklampsia.

Saya merasa harus menceritakan pre-eklampsia ini, karena saya tidak ingin orang lain juga mengalami kisah yang kelam seperti saya.

Pre-eklampsia memang tidak selalu berakhir buruk, tapi tetap harus diwaspadai karena gejalanya baru terlihat ketika usia kehamilan memasuki trimester ketiga.

Baca Juga: Perjuangan ketika Hamil Muda dengan Rahim Retro dan Mengalami Pendarahan

Perjuangan dengan Tekanan Darah Tinggi saat Kehamilan

preeklamsia.jpg

Saya masih ingat ketika saya mengalami gejala seperti tekanan darah yang tiba-tiba naik menjadi 170/110, ulu hati yang terbakar di usia kehamilan 7 bulan.

Saya segera dilarikan ke UGD untuk mendapat pertolongan pertama. Padahal selama ini, tekanan darah saya rendah.

Dokter meresepkan obat tensi, dan pengencer darah pada waktu itu. Tensi saya sempat kembali normal, tetapi selang beberapa minggu, tekanan darah kembali naik.

Badan mulai bengkak dari wajah sampai kaki. Dokter menaikkan kadar obat yang saya minum dari ½ tablet hingga akhirnya 1 tablet, yang harus rutin diminum 3 kali sehari.

Sempat mencari pertimbangan dari opini dokter lain. Tapi kami mendapat jawaban yang sama. Setelah berunding dengan suami, kami putuskan untuk kembali pada dokter semula.

Baca Juga: Siapa Bilang jadi IRT Bisa Santai? Ternyata Penuh Tantangan Lho Moms

Persalinan Lebih Awal dengan Operasi Caesar

operasi caesar membuat tubuh ibu lemah, mitos atau fakta 2

Di usia kehamilan 8 bulan, saya merasakan gerakan janin semakin berkurang. Akhirnya dengan pertimbangan dokter, kami sepakat untuk melakukan persalinan dengan operasi caesar karena waktunya yang lebih cepat dari perkiraan.

Saya mendapat suntikan paru-paru untuk perkembangan paru bayi. Malam harinya, saya mengalami mual hebat, kepala terasa berat, dan ke kamar mandi harus dipapah suami karena kondisi yang sudah susah berjalan.

Saya mendapat infus untuk albumin, dengan harapan bisa membantu membuat kondisi lebih baik, tapi hasilnya nihil. Saya mengalami gatal hebat pada tubuh.

Setiap beberapa jam sekali, tekanan darah saya diperiksa, kondisi tekanan darah membaik, saya kembali diberikan penguat paru lagi.

Saya hanya bisa pasrah ketika dokter meminta untuk masuk ke ruang operasi. Saya hanya berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apa-apa pada anak saya ketika sudah berhasil dilahirkan.

Setelah operasi caesar selesai, tidak ada suara tangisan anak saya. Sempat saya khawatir, tetapi dokter bilang operasi sudah berhasil dan anak saya sudah berada di bawah pengawasan dokter anak.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Ia Harus Kembali ke Pangkuan-Nya

bayi di nicu.jpg

Ternyata, anak saya harus masuk inkubator karena kondisinya yang prematur. Selama dua hari, ia terus berjuang untuk hidup. Hingga akhirnya pada tanggal 3 Maret, saya ikhlas anak saya kembali ke pangkuan-Nya.

Pre-eklampsia bukan akhir dari segalanya, tapi adalah awal dari sebuah perjuangan.

Pre-eklampsia bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti genetik, kehamilan yang pertama, pernah mengalami pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya, obesitas saat kehamilan, atau calon ibu yang memiliki riwayat penyakit lain.

Sangat penting untuk menceritakan pengalaman Moms pada dokter jika pernah mengalami pre-eklampsia sebelumnya, agar dokter bisa melakukan penanganan sedini mungkin jika ingin melakukan program hamil.

Artikel Terkait